Pengganti Aku

Jakarta, 5 Februari 2013



Hai!
Tadi malam aku meminjam. Seseorang yang kau sayang.
Aku bersumpah, hanya meminjam selama 2 jam,
tak ada niatan untuk memilikinya kembali.


Aku bercerita padanya-- tentang aku yang mengutuk Tuhan, menyalahkan waktu, dan tak menerima keadaan. Dia menasihatiku seperti dulu, dengan lembut, sabar, ia kirimkan bait-bait kalimat penuh kehangatan. Tapi ada yang berbeda, ia yang kau sayang, nampak jauh lebih dewasa sekarang.

Ku jaga hati ku baik-baik, takut-takut kalau hatiku berhasil ia curi lagi. Tapi, asal kau tahu saja, aku hanya terlalu percaya diri. Jelas-jelas di akhir, ia mengatakan bahwa ingin menjadikan mu istri.
Ah, aku iri.

Terimakasih telah meminjamkan dua jam dalam hidupnya untuk ku. Meski ku tahu, kau tak tahu kalau aku menghabiskan dua jam malamnya. Terkecuali jika ia cerita. Tapi ku yakin, tak mungkin ia cerita. Ia akan malas menjawab segala pertanyaan mu yang yang penuh rasa penasaran.
Oiya, ia juga menceritakan sosok mu. Merasa bangga dan menjadi lelaki paling bahagia karna memilikimu.
Kau beruntung,
seperti aku dulu-- sebelum berucap kata pisah.


Untuk mu pengganti aku,
yang aku sia-siakan dulu, tlah memperjuangkan sosok baru.
Kau.

Aku hanya bisa meratapi hati, tak ada jalan untuk kembali.
Sebab hati ku pun telah dimiliki, maka tak usaha khawatir, aku dan kekasih mu telah berada di jalan kami masing-masing.



Salam kenal,


Mantan kekasih, kekasih mu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia