Perempuan Yang Patah Hati
Jakarta, 3 Februari 2016
Lama tak berkabar, aku mengetahui bahwa kau tlah patah hati. Begitulah resiko jatuh cinta, tak hanya suka, duka pun akan turut menyertainya.
Bagimana kabar mu kini, setelah ditinggalkan atau kau yang meninggalkan? Aku tak banyak tahu bagaimana lengkap ceritanya. Aku hanya membaca, sesekali mengamati rintihan-rintihan yang kau bagi di social media. Teruskanlah, berceritalah, sampai hati mu puas dan perasaan mu lega. Tunjukanlah apa-apa yang kau rasa berhak untuk dipentaskan. Tak ada larangan, tak ada batasan.
------
Hey, perempuan!
Patah hati itu menyenangkan. Kapan lagi kau bisa menangis tanpa harus beralasan? Kapan lagi kau bisa makan tanpa harus memikirikan berat badan? Kapan lagi kau bisa tidur seharian karna malas menghadapi kenyataan? Kapan lagi kalau bukan ketika patah hati.------
Hey, perempuan!
Nikmatilah patah hati mu. Sampai kau pikir sudah cukup membiarkan hati itu patah, maka bersihkanlah remukannya perlahan. Susun kembali tiap keping dengan sebuah harapan akan kebahagiaan di masa yang akan datang. Tak usah lagi bersedih, tak usah lagi menangis. Sebab senyummu dirindukan, oleh bayangan mu di kaca, dan oleh dia yang belum kau jumpa.
Kau harus bisa jadi perempuan hebat, yang mampu kembali menata hati, mengelola perasaan mu lagi, dan menyelesaikan urusanmu. Selesaikan urusan mu dengannya, sudahi tangis mu karnanya, dan berbahagialah karna mungkin perpisahan adalah hasil terbaik dari benih-benih cinta yang kemarin tlah kalian tanam.
Perempuan yang patah hatinya,
sebab hati mu harus dulu patah, sebab kau harus dulu bertemu dengan orang yang salah,
sampai kau berhasil memantaskan diri untuk memiliki seseorang yang tepat.
Dari aku,
Perempuan
yang sudah lebih dulu merapihkan hatinya.
Komentar
Posting Komentar