Untuk Sayangku

Jakarta, 2 Februari 2016



Seperti biasa tanpa ada beda, tak ada ucapan bila bukan aku yang mulai duluan.
Begitulah kamu, lelaki yang menyatakan cinta di depan pintu pagar kosan, sembari memberikan hadiah kecil yang tak seberapa, permen yupi.

"Aku sebenarnya sayang sama kamu". Ku sambut dengan tawa kalimat yang kau utarakan. Bagaimana tidak lucu? Ekspresi mu saat mengucapkan kata-kata itu persis seperti tentara perang yang sedang berada di tengah kekacauan, tapi kemudian bertemu dengan bidadari di tengahnya. Tegang, kaku, malu, gemetar, ingin senyum, tapi tak bisa lepas, seakan-akan ada musuh yang juga melirik-lirik nakal pada bidadari itu.

"Kamu mau kan jadi pacarku?" Tak bisa ku ingat dengan pasti apa kalimat lengkapnya, tapi ya begitulah intinya. Maaf sayang, kalimat-kalimat indah itu yang kau ucapkan tepat di tanggal ini, 25 bulan lalu telah ku lupakan. Bagaimana tidak lupa? Kau telah memberikan ku ribuan kalimat indah lainnya. Sayangku, si tukang rayu.

Sejak saat itu, malam setelah aku dan kamu menyaksikan kembang api yang memenuhi angkasa, aku dan kamu tlah setuju untuk menjadi kita. Tak banyak kata yang bisa mengungkapkan kebahagiaan kala itu, hanya yang ku tahu, setelah itu aku bisa sepuasnya menggenggam tangan mu tanpa malu. Ku selipkan jari-jari di jemarimu untuk mengisi kekosongan yang selama ini dingin dan hampa. Terimakasih sayang, telah menjadi pelengkap dalam puzzle kehidupan yang sedang ku coba untuk selesaikan.

Selamat tanggal 2, sayang!
Layaknya anak muda di mabuk asrama, kita selalu merayakan meski hanya sekedar ucapan. Bukankah kita telah menua? Oh tentu tidak. Sebab tawa yang sering kau ciptakan, akan terus menunda datangnya kerutan.

Semoga akan ada lagi dan terus ada lagi hingga kita meninggalkan bumi, tanggal 2 yang kita rayakan. Semoga kita semakin mampu, untuk saling bantu melewati tapak demi tapak jalan yang tak melulu aspal. Semoga kamu selalu diberikan banyak sabar oleh Tuhan untuk menghadapi aku, kekasih mu yang banyak mau. Semoga aku selalu dikelilingi pikiran positif untuk menunggu kamu yang kadang lupa memberi kabar. Semoga aku dan kamu selalu bersemangat untuk memangkas jarak, demi dekap hangat setiap saat. Dan semoga lainnya yang telah kususun rapi dalam sebalut doa, yang akan dilayangkan ke rumah Sang Pencipta!

Baris terakhir, selama tanggal 2 lagi, sayang!
Aku mau flu, jangan sampai kamu tertular.




Peluk dan cium,

Kekasih mu yang banyak mau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia