Kamu

Jakarta, 20 Februari 2016



Bi,

Sepuluh surat lagi yang akan ku tulis dan ku yakin isinya akan tetap ada kamu. Setelah dua puluh surat ku tuliskan nama mu dan rindu, ku rasa yang membaca sudah bosan. Aku bingung, tak tahu dan tak mengerti harus menyandingkan mu dengan apa. Yang ku tahu, cinta dan rindu adalah salah dua pilihan yang pantas untuk dibersamai dengan nama mu.

Kamu adalah sosok yang hanya dengan menghadirkan wajahmu dalam pikiran saja aku sudah dapat merangkai puisi indah. Meski sering kali tak kau baca, meski tak jarang kau tanggapi hanya dengan sekedar "Ah, sayang...so sweet." Tapi aku senang, setidaknya aku mengagumi bukan hanya lewat lisan pun tulisan. Bi, walau hubungan kita tak melulu indah layaknya bait kata yang ku jadikan rima, semoga tetap kamu, teman hidup ku dalam berjuang.

Merindu mu bukan hanya persoalan temu yang tak kunjung datang, merindu sebuah terngkar dengan mu aku pun lakukan. Beradu pendapat, tak mau mengalah, sulit mengeja maaf adalah kita yang sama-sama berkepala batu. Meski di penghunjung selalu ada yang merelakan hati dan berlapang dada untuk menjadi yang kalah. Sebab selalu pasti ada yang menang dan kalah, yang menang tak melulu dapat hadiah dan kalah tak melulu meneteskan air mata. Itu perlu, hancur sudah hubungan bila keduanya tetap ingin menang.

Sudahlah bi, ku irit-irit kata cinta ku untuk surat-surat berikutnya, bila ku habiskan di sini, aku takut tak punya simpanan kata untuk merayu mu di hari kemudian.



-Aku

Ba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia