Surat Rasa Cemburu

Jakarta, 1 Februari 2016




Halo, Kekasih!

Aku menuliskan surat ini, bukan untuk mengutarakan aku rindu, melainkan cemburu.
Kau tahu, tak pernah ada hari yang ku lalui tanpa merindu, tapi kali ini izinkan aku tuk cemburu.

Menjalin hubungan dengan mu, dengan jarak sebagai orang ketiga adalah sekuat-kuatnya pohon melindungi daun dari angin yang bertiup kencang agar tak lepas dari rantingnya. Aku tak pernah membayangkan, bahwa ada satu waktu yang mengharuskan kita untuk tak bertemu muka setiap saat. Ku kira hubungan jarak jauh hanya bisa dijalankan dalam mimpi, sampai aku sadar bahwa apa yang ku jalani dengan mu sekarang adalah aku yang tanpa menutup mata. Berada pada kota berbeda, meski masih di bawah langit yang sama.

Menjalani hubungan dengan jarak, tak perlu terlalu banyak membawa perasaan. Sampai akhirnya ku ikutkan rasa cemburu di dalamnya.
Aku cemburu, dengan perempuan-perempuan di tempat mu sana yang puas menikmati senyummu-- sedangkan aku, menikmati senyummu hanya dalam selembar foto.
Aku cemburu, dengan teman-teman mu yang mudah sekali untuk menemui mu-- sekali berkirim pesan, kalian janjian. Sedangkan kita? Harus tunggu rindu penuh, baru bisa bertemu.

Sekali-kali saja bolehkan aku cemburu? Sebab hati ku tak terbuat dari besi, yang sulit hancur meski terbakar dalam kobaran api. Tapi, hati ku sekuat karang, diterjal ombak rindu sedemikian kencang tetap kokoh berdiri menanti sebuah pertemuan.

Ku tinggalkan rasa itu sebab harusnya mereka yang cemburu, bukan aku. 
Perempuan-perempuan di sana hanya menikmati senyummu-- tak menikmati lembut genggam tanganmu, tak menikmati kecup mesra bibir mu, tak menikmati lirik nakal dari mata mu, tak menikmati alunan merdu dari jantungmu, dan tak menikmati hangat dekapmu. Teman-teman mu harusnya cemburu, sebab mereka bertemu dengan mu bila ada janji, sedangkan aku? Kamu yang telah berucap janji, kapan pun aku butuh, kamu akan selalu ada.

Sayang, jangan menyebalkan. 
Cemburu itu rasa paling tak enak, bukankah lebih enak bila kita bisa menikmati semangkuk bakso dengan tawa?




Salam,


kekasih jauh mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia