Sedih Bukan Hanya Milik Mu
Jakarta, 31 Januari 2016
Siang tak selalu terang, seperti belakangan warna awan yang kelabu, sama dengan kamu.
Ada apa? Aku bertanya. Kenapa? Aku meminta. Maka jelaskanlah, maka ceritakanlah. Aku menyipakan 24 jam untuk mu menumpahkan segala rasa, yang ku yakin sudah tak cukup lagi kau sembunyikan di tempat sesempit hati.
Mengapa hanya memandangku? Mata mu yang bengap seperti tak pernah mengenal lelap.
Aku tak suka dipandang seperti itu. Tak biasanya kamu menemuiku tanpa pipi yang merona.
Belum kamu mulai cerita, sedikit banyak aku tahu. Kamu menangis, memukul-mukul dada karena sesak, ingin marah, tapi tak cukup tenaga. Benarkah?
Hal yang paling sering kamu lakukan adalah menyakiti dirimu sendiri. Meski kamu tahu kamu tak ingin, namun kamu tak punya pilihan. Sebab hidup tak sama dengan soal pilihan ganda, tinggal memilih karena pasti ada satu yang benar.
Kalau kamu hanya bisa diam, memandangku dengan muka tanpa nyawa, melirik ku dengan tatapan tanpa harapan, aku yang akan mulai bercerita. Aku pandai dalam menebak, akan ku kuak segala apa yang kamu sembunyikan.
Kasihan...
Aku tahu kamu lelah, aku tahu kamu lemah, aku tahu kamu sakit, aku tahu kamu sulit, aku tau kamu muak, dan aku pun tahu kamu sangat ingin berteriak. Lepaskanlah. Biarkan mata mu bekerja dengan mengeluarkan bulir-bulir air sebagai obat penenang untuk hati. Berteriaklah, bebaskan apa-apa yang terkunci di dalam dada. Cari tenang mu, cari bahagia mu. Sebab kamu tak melulu harus bersedih, sebab dukamu tak melulu harus ditanggung sendiri. Bagikanlah, berikanlah, kepada mereka yang mengaku sayang pada mu.
Sabarlah....
Menuju dewasa tak mudah, selalu banyak hal yang membuat mu jatuh tapi jangan pernah lupa untuk kembali berdiri. Kamu tak sendiri, aku selalu bersama kamu dan akan tetap selalu begitu.
Surat ini terkirim untuk kamu, yang tak pernah selesai menyisir rambut dan memakai gincu.
Sudahilah, tak baik berlama-lama di depan kaca. Kembalilah ke sisinya, lelaki yang ku tahu tak pernah hatimu sudi untuk membenci.
Dari aku,
seseorang di dalam kaca.
Komentar
Posting Komentar