Untuk Ibu Pertiwi
Jakarta, 14 Februari 2016
Salam Hormat,
Ibu Pertiwi
7 Oktober 22 Tahun yang lalu di sebuah Rumah Sakit Bersalin, seorang ibu tengah berjuang, untuk menyediakan tempat yang lebih indah dari rahimnya bagi sang putri tercinta. Seorang ibu yang mempercayai pusat kota sebagai tempat teraman dan paling nyaman untuk membesarkan seorang perempuan yang diharapkan dapat menebar cinta di tiap sudut kota. Maka lahirlah aku, sebagai perempuan yang dijuluki anak ibu kota.
Aku tak tahu darimana dan bagaimana julukan itu ada. Aku lahir dari rahim ibu ku, bukan dari rahim si ibu kota. Tapi mengapa? Kali pertama aku menginjakan kaki di tanah Yogya, mereka langsung memberikan julukan itu padaku. Mereka bilang, aku terbiasa hidup dalam dunia glamour nan penuh kemewahan. Anak ibu kota, yang hanya mengenal gedung tinggi dan mall menjulang, katanya. Beberapa dari mereka memandang ku sebelah mata, enggan berdekatan dengan ku, karena mereka pikir aku sombong dan tak akan asyik untuk diajak berkawan. Beberapa lainnya mengulurkan tangan untuk mengajak berkenalan. Tentu saja aku menyambut dengan hangat, menyebutkan nama ku secara lantang, "Ara! Anak ibu Anida, bukan anak ibu kota". Gelak tawa terlontar dari mulut mereka.
17 tahun aku besar di Jakarta, kemudian Tuhan mengizinkan ku untuk mengenal bagian lain dari luasnya rumah mu, Ibu Pertiwi. Ku habiskan 4 tahun dunia ku di Yogya. Tak hanya Yogya, sesekali aku melangkah ke sebelah kotanya, mengunjungi Magelang, Wonosobo, Dieng.
Dieng! Adalah rumah Ibu Pertiwi yang pertama kali berhasil membuat bibir ku berucap kata cinta. Aku jatuh cinta dengan Dieng, juga dengannya. Kali pertama merasakan udara dingin dan puas karena dapat berlama-lama dalam peluknya.
Melangkah lebih jauh ke Timur, aku pun mengunjungi Pulau Dewata. Sungguh indah duhai engkau Ibu Pertiwi, rumah mu di Bali tak ada satu pun tempat yang tak membuat ku berdecak kagum. Ini langkah pertama, aku melewati batas waktu barat ku. Kemolekan tanah Hindu, jatuh cinta kepada pulau ini akan keunikan cara umatnya mengabdi kepada Tuhan. Aku berjanji padamu, Bali, aku akan kembali. Masih banyak keindahan mu yang belum sempat ku nikmati.
Ibu Pertiwi,
masih banyak rumah mu yang belum ku singgahi. Masih banyak keindahan mu yang belum terekam dalam ingatan. Masih banyak tempat di mana akan ku buat tiap sentinya dengan kenangan. Maka, tetaplah indah, tetaplah subur, tetaplah makmur. Ku akan menjagamu, sesuai kemampuan ku.
----
Aku ingin hidup bersamanya di pulau sana. Kembali meniggalkan zona waktu barat ku. Aku ingin mengenal kota tempat ia lahir, mengikuti tiap jalan yang mana sudah dihapal oleh kakinya. Izinkanlah, restuilah. Agar tak hanya Jawa yang aku cinta, pun Kalimantan juga.
Surat Cinta dari Ibu Kota.
Komentar
Posting Komentar