Surat Tak Bertuan
Yogyakarta, 22 Februari 2015 Minggu pagi. Ntah kepada siapa hendak surat ini ku tuan-kan, kepada semua yang rela matanya letih karena menuruti tiap kata. Jangan lupa bersyukur; berterimakasih kepada Tuhan yang tak pernah sedikit pun meminta bayaran untuk oksigen yang tlah kau pergunakan cuma-cuma, berterimakasih atas jantung yang senantiasa terus berirama, atas darah yang tak pernah berhenti mengalir, dan atas cinta yang telah ditumbuhkan di tiap-tiap hati umatnya. Jangan lupa, untuk berterima kasih, agar Ia mengembalikan kasih-Nya pada kita. Belakangan aku bahagia. Terlalu banyak tawa yang ku rajut hingga lelah muluktku untuk terbuka. Tapi jangan pikir aku tak menangis, aku menangis. Dalam tiap tangis ku, ku lafalkan syukur ku. Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan? Aku adalah penikmat matahari, menjadikannya anak dan selalu berterimakasih atas sinarnya. Meski kadang aku luput, hingga senja datang, aku melupakan apa-apa saja yang matahari tlah kerja...