Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Surat Tak Bertuan

Yogyakarta, 22 Februari 2015 Minggu pagi. Ntah kepada siapa hendak surat ini ku tuan-kan, kepada semua yang rela matanya letih karena menuruti tiap kata. Jangan lupa bersyukur; berterimakasih kepada Tuhan yang tak pernah sedikit pun meminta bayaran untuk oksigen yang tlah kau pergunakan cuma-cuma, berterimakasih atas jantung yang senantiasa terus berirama, atas darah yang tak pernah berhenti mengalir, dan atas cinta yang telah ditumbuhkan di tiap-tiap hati umatnya. Jangan lupa, untuk berterima kasih, agar Ia mengembalikan kasih-Nya pada kita. Belakangan aku bahagia. Terlalu banyak tawa yang ku rajut hingga lelah muluktku untuk terbuka. Tapi jangan pikir aku tak menangis, aku menangis. Dalam tiap tangis ku, ku lafalkan syukur ku. Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?  Aku adalah penikmat matahari, menjadikannya anak dan selalu berterimakasih atas sinarnya. Meski kadang aku luput, hingga senja datang, aku melupakan apa-apa saja yang matahari tlah kerja...

Surat Cinta Buat Sodara.

Yogyakarta, 15 Februari 2015 #np Michael Buble - Home Surat cinta hari ini buat sodara satu-satunya yang sepantaran. Hihihi. Apa kabaaaar? Tsah elah resmi banget nanya kabar segala. Rumah banjir gak? Gpp banjir air hujan asal jangan banjir air mata hehehehehehe. Kangeeeeeeeeen. Duh menjelang sore gini tiba-tiba jadi mellow gara-gara lagunya mas Maikel. Tuhlah nyebelin emang huhuhu. Mi, inget gak? Dulu kita sering mandi bareng. Di kamar mandi sederhana banget. Bahkan bisa dibilang jelek, tapi bikin bahagia yak? Hahahahaha. Keramasan bareng, sambil ketawa-tawa ntar nunggu dimarahin dulu baru deh udahan. Lu juga sering nemenin gue ke kamar mandi, karena gue takut amat buat jalan sendiri ke belakang. Serem. x)) Mi, dulu kita juga sering tidur bareng. Nonton tv, makan, dalam satu ruangan. Sempit banget ya kan, Mi? Tapi nyenengin. Hangat rasanya. Mau lagi, Mi. Tidur di kosan sendirian gak enak :( Mi, dulu kita kerjaannya maen ke lapangan. Dari siang sampe sore. A...

Alafu.

Yogyakarta, 14 Februari 2014 Setahun silam. Malam itu dengan perut yang lapar aku bingung apa yang harus ku makan. Pikiran pun sedang runyam atas tugas-tugas ku yang tak kunjung terselesaikan. Kemudian dorongan dari perut yang mengharuskan untuk diisi sesuatu, mengiyakan langkah ku untuk pergi ke sebuah supermarket yang letaknya tak memakan banyak waktu. Sebuah ice cream menjadi penyelamat dalam malam yang gelap dan hasrat ingin makan yang kuat. Sekembalinya aku, rasa ingin menunjukan kepada media sosial bahwa aku tlah membeli sebuah ice cream tampaknya lebih kuat dari rasa ingin ku untuk memakannya. Jadilah ku ambil gambar dari es tersebut, kemudian upload ke akun instagram ku yang mana tlah terhubung ke akun twitter. Dan satu pemberitahuan dari akun twitter ku datang. Kau, dengan comment di retweet twitter ku berhasil mengubah dunia ku dalam satu kedipan mata. Ya, itu adalah asal muasal bagaimana kita bisa saling kenal. Dari hal konyol yang tak pernah kita bayangka...

Untuk Cinta.

Yogyakarta, 13 Feberuari 2015 "Ketika kamu sudah yakin untuk hidup bersama dengan seseorang yang kamu cintai dan kasihi, ia adalah sebenar-benarnya sosok yang akan selalu ada bersama di sepanjang hidupmu. Tapi bila satu waktu dari kebersamaan itu muncul keraguan, apakah cinta boleh ragu?" Segala yang berhubungan dengan hati selalu saja perasaan yang digunakan. Tak bisakah barang sesaat menggunkan akal? Sebab masalah hati tak melulu harus dirasa, sesekali perlu dipikir dengan logika, dengan akal, dengan kepala yang dingin tanpa ada rasa panas dari emosi yang ada. Hal yang paling sulit dalam hidup mungkin 'memutuskan'. Bila banyak pilihan yang tersedia, tak bisa memilih kesemuanya, sebab hanya manusia serakah yang menginginkan kesemuanya. Manusia bijak harus dapat memilih, harus dapat memutuskan mana sekiranya yang terbaik dari yang baik. Apabila pilihannya salah, tak mengapa. Setidaknya ia telah mencoba memutuskan, untuk hidupnya. ...

Untuk Saya.

Yogyakarta, 12 Februari 2015 Jogja masih mendung, meski mendung tak berarti hujan. Dear, saya. Ketika saya sedang jenuh dan bosan dengan kehidupan yang sedang saya jalani, dan ketika itu pula saya tak tau apa yang harus saya lakukan, saya memilih untuk menangis dan mencurahkan segala apa yang sedang ingin saya ungkapkan dalam tulisan. Biasanya, setelah itu saya akan sedikit merasa tenang. Dan di kemudian hari akan ada senyum kecil saat saya membaca lagi tulisan yang telah saya buat. Di usia ke 21 ini. Menjadi tua dan mengharuskan diri untuk menjadi dewasa itu menyebalkan. Kita sering kali dituntut untuk bisa menyelesaikan semuanya dengan baik dan benar di usia yang tua ini. Pendidikan, pertemanan, cinta, semuanya harus dijalankan dengan baik dan benar. Adakah pernah dalam hidupmu merasa jenuh menjalani itu semua? Tahukah kamu kemana harus kamu keluarkan segala unek-unek di hati saat perasaan seperti itu datang? Mulai menjalani hidup sendiri saya jalankan...

Aku di samping mu.

Yogyakarta, 11 Februari 2015 Surat cinta untuk seorang wanita yang tak lagi menjalani masa muda, tapi bersiap untuk membangun sebuah rumah tangga. Hallo, momsky! Bagaimana kabar hati mu saat membaca surat ini? Masihkah terasa nyeri bila mengingat beberapa perbuatannya yang agak-agak membuat hati mu senut? Bagimana dengan otak mu? Masihkah memutar beberapa adegan indah yang pernah kau perankan dulu dengannya? Kau memang keras kepala, bila mana semua hal itu masih saja kau lakukan. Cinta. Adalah rasa yang mungkin bisa menimbulkan rasa sakit tapi tak ada satupun yang orang yang penduli dengan sakitnya. Karena apa? Bagi mereka, jatuh cinta adalah jatuh yang bahagia, jatuh yang bertaburan suka, meski tanpa sadar ada paketan duka yang juga akan mereka dapatkan. Tapi bersyukurlah, sebab hanya orang yang memiliki hati yang bisa merasakan jatuh dalam cinta. Sudah sejauh mana kini perjuangan mu? Terakhir kita saling tukar cerita, ia yang kau cinta masih sulit ditebak sik...

Untuk Mu.

Yogyakarta, 9 Februari 2015 Terimakasih atas sakit hati yang tlah kau beri. Setidaknya setelah itu aku bisa lebih kuat, menapakan kaki ku untuk melangkah di tiap jalan yang pernah kita lalui, meski kini tak ada kau lagi. Rasanya masih saja ingin marah tiap teringat kata-kata terakhir yang kau rangkai sedemikian rupa hingga bisa seperti pisau yang menyayat-nyayat hati ku hingga seperti potongan ayam di atas bubur. Rapih. Sempurna. Tapi tak nikmat untuk disantap. Kau yang semula ku puja, kau yang jadikan aku pujangga, lalu dengan satu kata, kau rubah aku menjadi setan, yang siap menghantui mu detik demi detik untuk balaskan sakit hati ku. Tapi tidak, tidak ku lakukan. Semua hanya ku bayangkan dengan air yang menetes dari mata dan mulut yang tak berhenti berdoa. Aku ikhlas. Bila memang kepergian mu adalah hal paling wajib yang harus kau lakukan, maka pergilah. Jangan pernah kembali, bahkan niat mu untuk kembali saja telah ku tutupi dengan gerbang tinggi digembok dengan ratusa...

Aku Pendusta, Bila Dengan Mu.

Yogyakarta, 8 Februari 2015 Langit sedang terbuka. Sedang ada air yang menetes dari tempat tinggal Sang Pencipta. Harusnya tulis surat dulu. Harusnya beri kabar dulu. Tak cukup hanya dengan petir yang menyambar dan kilat yang menyala. Tak cukup jua dengan gemuruh dan awan yang seram warnanya. Tak bisa kah ucapkan kalimat "aku akan datang" ??? Aku menunggu kalimat mu, bukan tanda-tanda akan kehadiran mu. Bukan aku tak menyukai kedatangan mu, bukan aku marah bila ternyata aku harus basah. Bukan itu. Tapi aku kecewa, karena tiap kali kau akan datang, kau tak pernah memberikan kabar. Marah. Harusnya kau bisa datang dengan baik-baik. Pun demikian ketika kau akan pergi lagi, semua secara baik-baik. Datang dengan kalimat "aku akan datang" dan pergi dengan kalimat "tugasku selesai, bumi mu telah sejuk. Aku akan pergi". Jangan lupa, 7 warna yang indah itu. Melengkung tanpa orang pernah tahu di mana ujungnya. Kau jangan seperti dia. Datang dan p...

Surat Untuk Sayangku

Yogyakarta, 7 Februari 2015 Selamat pagi, sayang. Apa kabar? Sudah hampir dua hari terlewat dari 'hari yang hectic itu'. Hari di mana rasanya ketakutan ku bersarang di dalam hati lalu membentuk sebuah keluarga turun-temurun yang buat sepertinya ketakutan itu tak akan pernah habis dalam diriku. Tapi terimakasih, berkat tangan mu yang senantiasa menggenggam tangan ku selalu, ketakutan itu bisa ku bunuh satu persatu dari induknya. Ini adalah kala pertama aku menjalaninya. Bagai meniti jalan yang penuh jarum dengan telapak kaki tanpa alas, membayangkannya lagi pun membuat sakit seluruh tubuh, padahal yang sakit hanya kaki. Ku kira sakit paling parah adalah ketika hati mu dipatahkan, tapi kini ada yang mengalahkan. Sakitnya jarum yang dililit dengan benang kemudian dijahitkan di bagain tubuhmu rasanya teramat sakit dari hati yang patah. Terlebih bila pengaruh biusnya habis. Oh haruskah sebelum salah satu kaum membuat patah hati kaum lainnya diberi bius terlebih dahu...

Untuk Wanita Dari Samarinda

Gambar
 Yogyakarta, 6 Februari 2015 Inilah yang pertama menyenangkan saat bertambah angka 1 di belakang umurku setelah 20. Pertama-tama.... Aku bingung. Ntah apa yang harus ku kenakan. Baju apa? Celana apa? Kerudung apa? Sepatu? Bahkan aku tak tahu mana yang harus duluan ku lakukan, mandi atau sarapan? Seketika pagi itu menjadi sangat hectic padahal tak ada tugas yang harus ku kerjakan dan tak ada kuliah yang harus ku jalani. Yang ada hanyalah pertemuan pertama ku dengan wanita dari Samarinda. Kemudian aku mengatur rencana dengan lelaki ku. Harus naik apa, nantinya bertemu dimana dan segala macam lainnya. Semua diatur sedemikian rupa, sedemikian sempurna agar meniggalkan sisi baik di awal perjumpaan ini. Pertemuan pertama? Alhamdulillah. Indah dan dipenuhi dengan ribu senyuman. Pertama kali ku jabat tangannya, melihat langsung senyumnya, perlahan irama detak jantungku mulai kembali normal. Awalnya ritme jantung ini seperti sedang berlari kencang mengitari stadi...

Apa kabar, rindu?

Yogyakarta, 5 Februari 2015 Surat cinta untuk, rindu. Lama tak datang, kemana saja rindu? Apa karena pertemuan yang tanpa jeda, hingga kau enggan datang? Mengapa? Ceritakan dan jelaskan segala alasan yang kau punya! Sampai lupa aku bagaimana rasa mu. Lama sudah tak merindu, karena tak tau kepada siapa rindu itu hendak ku tuan-kan. Aku ingin kau datang, merasakan rasanya sesak karena ingin bertemu tapi tak bisa, karena ingin memeluk tapi tak sampai, dan karena ingin dicinta tapi semua berantakan adanya. Belakangan hati ku penuh. Cinta, bahagia, dan tawa mengalir deras dalam tiap aliran darah di sekujur tubuh. Sudah tak ada celah untuk masuknya duka. Terimakasih, semesta. Atas ribuan suka yang tlah kau berikan. Tapi aku rindu dengan rindu. Aku ingin kau datang walau hanya sekedar mampir. Aku harus apa biar kau ada? Haruskah menjauh dari orang yang ku cinta? Menciptkan jarak agar kembali ada sabar di tengahnya? Seperti itu?~ Ku rasa aku tak bisa, tak kuasa...

Matur Suksma, Bli.

Yogyakarta, 4 Februari 2015 Linglung. Lelah yang bersemayam di tubuh membuat rasanya tak enak badan ku. Mungkin bila dimasakan, bagai tanpa garam. Perjalanan yang meletihkan di pulau mu membuat penglihatan kabur tapi tidak setelah melihat senyummu. "Itu loh...itu..yang main itu...yang di baris belakang itu..manis kan..." Tak hentinya rangkaian kata itu ku sampaikan kepada sahabat ku yang kala itu tubuhnya menjadi penopang tubuh ku saat kami berjalan mengitari Bali Classic Center. Kau ada di sana. bersama teman-teman mu memainkan wayang Bali untuk menghibur kami. Bali yang mempesona membuat ku jatuh cinta. Pandangan pertama padamu, membiarkan mata ku melekat untuk menatap mu. Untung hanya mata, bukan hati. Bagaimana tidak, lelaki asli Bali, dengan 'udeng' di kepalanya, berhasil tak memalingkan pandangan ku. Tak diduga, ketika letih benar-benar datang karena matahari yang tak bersahabat, seketika hilang, saat ku tahu kau sadar bahwa aku memerhati...

Please.

Yogyakarta, 3 Februari 2015 Dear God. Surat ini langsung ku tujukan pada-Mu, meski langit tak terbuka lebar sebab tak ada hujan yang turun, semoga matahari bisa menghangatkan lalu membuat tiap katanya menguap dan datang kepada-Mu. Aku sedang butuh, teramat butuh bantuan, dan kepada-Mu lah aku meminta. Saat ini banyak hal yang sedang ku kerjakan, semua demi masa depan yang indah. Maka permudahlah apa-apa yang ku lakukan, maka jauhkanlah kesulitan dari hal yang sedang ku kerjakan. Aku tak pernah meminta banyak, meski seringnya doa ku panjatkan. Dalam harap, tiap paragraf yang ku sampaikan, ada beberapa yang Kau kabulkan. Sang Maha Pencipta. Kaulah segala penentu dari kehidupan yang ada. Maka kuasa-Mu berkendak atas apapun. Untuk sekarang, tak banyak pintaku, hanya saja lancarkanlah apa yang sedang ku kerjakan. Semoga kelak apa yang ku tanam sekarang, akan ada buah manis yang bisa kucicipi nantinya. Tolong, Tuhan. Bacalah suratku. Dengarkan pinta...

Selamat Tanggal Dua, Adica.

Yogyakarta, tanggal jadian yang diperingati tiap bulan. Aoooo sayangnya aku! Tanggal berapa hari ini? Iya benar, tanggal dua. Lima hari lagi aku gajian. Hehehehe Biar kita tetap kekinian dan jiwa selalu rasa SMA, kita harus banget nih nyelametin tanggal di mana kita jadian. Yang keberapa? Yang keberapa ajadeh yang penting masih sama kamu terus hehehe. Sebenarnya aku gak minta kok untuk selalu diberi ucapan selamat tiap tanggal dua. Kalau dulu sih sewaktu aku masih labil banget emang harus banget tuh, terlebih harus ada perayaan di tiap tanggal jadian. Tapi sekarang? Ntahlah, rasa-rasanya masih sama kamu jauh lebih penting dari perayaan tanggal jadian. Fungsinya tanggal jadian itu ya untuk diingat aja sih. Ingat moment di mana hati dan jantung kita iramanya bak lomba lari marathon. Dag dig dug dag dig dug! Kamu yang nyatakan cinta ya deg-deg-an, aku yang dikatakan cinta pun sama. Tapi itu sensasinya setelah perjalanan panjang pada proses pendekatan akhirnya diberi kepas...

Love!

Yogyakarta, 01 Februari Bismillah... Rasanya baru saja malam kemarin menyaksikan jutaan cahaya menjadi hiasan di kelamnya langit malam, eh kenapa sekarang sudah masuk bulan ke-2? Ku kira hanya mobil sport yang dapat berlari dengan cepat, ternyata ada yang bisa mengalahkan, waktu. Gulirnya waktu tak ada yang bisa merasakan. Dilihat-lihat memang lama, tapi bila tak dirasakan melaju cepat. Bulan ini kembali lagi ke bulan Februari, bulan yang di mana jadi momok orang banyak sebagai bulan penuh cinta. Semua karena tanggal 14, tanggal yang diperingati dengan cokelat dan bunga serta langit yang mendadak merah jambu. Indah. Tapi semua berdasarkan percaya dan kebiasaan. Ada yang benar-benar percaya dan biasa untuk merayakannya adapun yang tidak. Ya apapun lah itu, asal hidup dalam damai pasti menyenangkan. Februari, jangan terlalu cepat berlalu. Berjalanlah dengan irama tap-tap-tap. Perlahan tapi pasti berjalanlah jangan berlari, sebab masih banyak yang harus ku lunasi....