Dibaca ya, Nak. (2)
Jakarta, 16 Februari 2016
Selamat pagi, Nak!
Meski belum sempat mengabadikan mu pagi ini, tapi ku rasa kau cerah,
semoga tetap hangat hingga malam datang.
Mungkin aku gila, satu-satunya yang menganggap kau anak. Tapi bukankah anggapan ku benar? Kau seorang anak. Lahir dari perut bumi dan pulang dalam pelukan lautan. Anak bumi, Sang Maha Hangat.
Nak, aku mencintaimu sejak pagi yang mana dikatakan orang masih buta. Mengapa begitu? Karena kau belum ada, tapi langit tempat mu tinggal sudah mulai berwarna. Lucunya kamu, Nak. Datang dengan malu-malu, pertama-tama mewarnai tempat yang kau tinggali. Biar apa, Nak? Biar indah kah? Atau sebagai tanda kau akan bangun? Apapunlah itu, terimakasih, Nak.
Nak, saat kau datang banyak yang membencimu. Jarang ucap syukur yang keluar dari mulut mereka, terkadang pun aku. Maafkan, Nak. Kami hanya kesal sebab kadang lelah kami belum hilang, kau sudah datang. Tapi ketahuilah, Nak. Seberapapun banyak keluhnya mereka, mereka tetap menginginkan mu, kau tlah kalahkan hujan. Untuk mendukung aktivitas mereka lancar, mereka butuh adanya kamu.
Nak, berjanjilah.
Untuk terus berotasi dan terbit seperti apa yang tlah digariskan kepadamu.
Jangan dulu 'berubah', tunggu sampai aku puas menikmati hidup yang ku punya.
Nak, jangan menyerah! Seberapa banyak pun orang yang marah karna kehadiran mu, pun mungkin karna kau terlalu panas, tetap semangat!
Bersinarlah, sekalipun langit muak padamu dan menutupi mu dengan kelamnya awan.
-dari aku yang kecil dihadapan Pencipta mu.
Komentar
Posting Komentar