Sebelum Di Kereta
Jakarta, 25 Februari 2016
Sebelum mengenal Jogja, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya sebuah perjalanan.
Terlalu nyaman dengan Jakarta membuat ku takut bila harus beranjak jauh dari keluarga.
Sampai akhirnya ku beranikan diri, merantau meski tak seberapa jauhnya.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan mu, dan siap menjalin persahabatan dengan kereta.
Selesai sudah tugas ku di Jogja mengharuskan ku untuk kembali pulang ke pelukan ibu kota. Menyisakan kamu yang masih berjuang dalam pendidikan. Aku tak berhenti memberikan mu semangat dan mendoakan mu agar Tuhan memberikan mu hadiah kelulusan. Agar kamu lekas pulang, agar kamu lekas kembali pada peluk ibu dan hangat genggam tangan bapak. Meski aku tahu, setelah kamu pulang, jarak kita akan semakin jauh. Bukan lagi beda kota pun beda pulau.
Tak masalah, awal ku jatuhkan hati, aku tahu resiko terbesar yang harus ku tanggung adalah sosok ketiga yang bernama jarak. Sebab Jogja bukan kota kita, kita hanya menumpang untuk beberapa tahun menitipkan kenangan-kenangan indah yang telah kita buat. Sekarang, giliran hati yang bertugas untuk menelan habis-habis rasa sedih, karena mungkin tak ada lagi pertemuan kita di Jogja, mungkin di Jakarta atau di rumah mu, Samarinda.
Maka nikmatilah hari-hari terakhir di Jogja sebelum kepulangan mu ke rumah. Kalau perlu ulangi dan datangi kembali tempat-tempat yang telah kita titipkan tawa kita di sana. Percayalah, sejauh apapun kita meninggalkan kenangan kita, ia akan turut serta mengikuti, karena telah lekat di hati dan menetap di pikiran.
Tunggu aku,
di Jogja.
-Aku, sebelum di kereta.
Kalo udah nyaman pasti berat buat meninggalkan hehe
BalasHapus