Pindah
Jakarta, 6 Februari 2015
Ada resah yang belakangan tak pernah alpha,
ada hati yang tak siap untuk pindah.
Masih terekam jelas, saat ayah memutuskan untuk menitipkan ku padamu. Sebab ayah terlalu sibuk bekerja, hingga tak ada lagi sisa waktunya untuk mengurusku. Dari situ, saat malam sebelum lelap dan pagi sebelum aku hendak berangkat ke sekolah, senyum mu lah yang selalu ku lihat. Kadang juga kau marah, bila sulit membangunkan ku yang teramat malas untuk bersekolah.
Kita saling bertukar cerita. Menghabiskan malam dengan sama-sama menyaksikan sinetron-sinetron yang pada jamannya dulu masih layak untuk diikuti ceritanya. Saat iklan, kita bersama-sama mendiskusikan apa yang terjadi di dalam cerita. Aneh, kita tahu itu hanya rekayasa, tapi teramat gemas dengan tokoh antagonisnya.
Dulu saat aku masih malas untuk mengurus diri, sehingga tumbuh subur kutu di kepala, kau sangat rajin untuk membersihkannya. Kau tak ingin aku terganggu belajar di sekolah dengan menggaruk-garuk kepala ku setiap saat. Kadang aku sampai tertidur, saat kau mencarikan kutu, yang mana sentuhan lembut di rambutku adalah penghantar untuk mata terpejam.
Ku ceritakan semua padamu. Tentang aku yang merinduka mama, dan kau berkata untuk kirim doa. Tentang aku yang mendapatkan nilai rendah di sekolah, dan kau menyuruh ku untuk lebih giat lagi belajar agar tak membuat malu ayah. Tentang aku yang mulai memasuki masa remaja, dan kau mengajari ku bagaimana mempersiapkan diri dan mengatur emosi saat menstruasi ku yang pertama.
Dulu kau masih kuat, dulu tenaga mu masih banyak, tak seperti sekarang yang semakin memutih rambutmu.
Kau tampak gembira, padahal aku tahu kau sedih dan berat melepas kepergian ku yang akan menuntut ilmu jauh dari rumah. Tak akan ada lagi malam yang akan kita habiskan, tapi kata mu aku harus semangat. Aku harus dapat menyelesaikan pendidikan ku dengan cepat agar lekas lagi pulang ke dalam pelukan mu.
Ku buktikan, aku hanya menghabiskan 4 tahun untuk berjauhan dari mu. Kini aku sudah di rumah, sudah kembali lagi untuk bergantian merawat dan menjagamu. Aku ingin setiap hari mengupas dan memarut wortel yang akan kau peras dan minum airnya sebagai obat. Kau bilang juga pada ku untuk mengikuti kebiasaan mu itu agar minus di mata ku berkurang, tapi aku tak mau, sebab aku bebal. Aku hanya ingin melakukan itu untuk mu. Agar mata mu selalu sehat, bisa lebih lama lagi menemani ku melihat dunia.
Tapi, karena keegoisan suami mu, yang mungkin terlalu benci dengan anak lelaki pertamu, mengharuskan kita menghabiskan hari-hari akhir bersama. Setelah 3 hari dari surat ini dikirimkan, kita tak akan lagi berada di bawah atap yang sama. Ku tinggalkan nomor telepon ku, agar kapan saja kau rindu aku, kau bisa menghubungi ku. Aku berjanji padamu, akan tetap merawat dan menjagamu dari jauh.
Karena kau bukan hanya sekedar nenek, kau juga seorang ibu bagiku.
Sehat-sehat, Nek. Jangan lupa untuk tetap rajin meminum wortel mu. Jangan kau parut sendiri, sebab tangan mu sudah tak boleh terlalu lelah. Nanti, kalau aku sudah bergaji, akan ku belikan alat paling canggih yang dapat dengan cepat menyajikan wortel enak untuk mu. Oleh karna itu, kau harus tetap sehat, tetap kuat, tetap semangat menjalani hidupmu, kau harus menunggu aku memiliki gaji.
Oya, terimakasih atas hidangan makan siang ikan mas diarsik yang selalu lezat!
Dari aku,
Linda.
Komentar
Posting Komentar