Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Terimakasih Kamu

Yogyakarta, 28 Februari 2016 Selamat pagi dari Jogja, kaJe! Hai, kaJe! Aku Ara. Gadis Libra yang hampir 30 suratnya kamu baca setiap hari. Dari surat-surat yang telah kamu baca, kamu pasti bisa menebak aku perempuan macam apa. Perempuan setia yang mengirimkan surat-suratnya untuk dia yang jauh. Perempuan yang tak pernah mengaku kalah dengan jarak, meski sering kali hati lelah, bila sedang marah, tak ada peluk yang bisa digapai. Maaf kaJe, sebagai bocah mu, tiba-tiba curhat adalah salah satu kemampuan yang aku miliki. Hehehe. KaJe, apa kamu pernah juga memiliki kekasih jauh? Apa kamu akhirnya bertahan atau menyerah dengan jarak yang berada di tengah kalian? Aku ingin tahu, aku ingin dengar banyak cerita sebagai bahan pembelajaran agar tak mudah menyudahi apa yang telah berani aku mulai. KaJe, apa kamu perempuan pencemburu? Tak senang melihat perempuan lain dekat dengan kekasih mu? Iya ataupun tidak, jelaskan pada ku, apa cemburu perlu sering dilakukan atau hanya s...

Wis Udah

Yogyakarta, 27 Februari 2016 Wis tokh yang, kamu saiki wis dadi sarjana. See you babay sama Jogja! Selamat pulang kembali ke Samarinda, yang. Selamat berpacaran semakin jauh. Semoga setelah ijazah ada ijabsah. Hihihi. Selamat, sayangku! With love, Yours.

Sampai

Yogyakarta, 26 Februari 2016 Lelah, adalah teman perjalanan.  Tak mengapa, setelah sampai akan menjadi hal yang menyenangkan. Tak pernah mengharap untuk langsung berpeluk, melihat senyum mu tanpa harus lagi lewat foto adalah bahagia pertama di tiap awal pertemuan. Setelah banyak tabungan rindu ku, kini akan ku habiskan hingga kosong, agar hati siap untuk jauh kembali. Aku membiasakan diri, untuk berada jauh dari mu. Karena di kemudian aku yakin, jarak tak akan ada artinya bila kamu mampu menunggu. Selamat bergandengan tangan mengelilingi kota, sayang! Kita habiskan waktu yang singkat ini dengan kenangan yang teramat banyak. Dengan cinta, kekasih mu yang sedang libur LDR

Sebelum Di Kereta

Jakarta, 25 Februari 2016 Sebelum mengenal Jogja, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya sebuah perjalanan. Terlalu nyaman dengan Jakarta membuat ku takut bila harus beranjak jauh dari keluarga. Sampai akhirnya ku beranikan diri, merantau meski tak seberapa jauhnya. Sampai akhirnya aku bertemu dengan mu, dan siap menjalin persahabatan dengan kereta. Selesai sudah tugas ku di Jogja mengharuskan ku untuk kembali pulang ke pelukan ibu kota. Menyisakan kamu yang masih berjuang dalam pendidikan. Aku tak berhenti memberikan mu semangat dan mendoakan mu agar Tuhan memberikan mu hadiah kelulusan. Agar kamu lekas pulang, agar kamu lekas kembali pada peluk ibu dan hangat genggam tangan bapak. Meski aku tahu, setelah kamu pulang, jarak kita akan semakin jauh. Bukan lagi beda kota pun beda pulau. Tak masalah, awal ku jatuhkan hati, aku tahu resiko terbesar yang harus ku tanggung adalah sosok ketiga yang bernama jarak. Sebab Jogja bukan kota kita, kita hanya menumpang untuk ...

Hari Rabu Milik BangJo

Jakarta, 24 Februari 2016 Ingin menuliskan selamat pagi, tapi takut kamu membaca saat tak ada lagi matahari. Ingin menuliskan selamat malam, tapi matahari belum pergi. Maka, ku ucapkan selamat ulang tahun kepadamu, karena hari ini adalah hari Rabu, Hari milik mu. 2 tahun lalu pernah juga aku mengirimkan surat cinta berisikan ucapan selamat ulang tahun bukan berisikan kata cinta di dalamnya. Sebab aku tak pernah sampai mencintai mu, hanya sampai terjatuh. Kemudian, tak ku teruskan lagi rasa itu. Hahahaha.  Halo, BangJo! Ingin menanyakan kabar, tapi ku yakin kamu baik-baik saja. Sebagai lelaki yang tak lagi terbilang remaja, aku tahu kamu sangat pandai menjaga diri pun menjaga hati. Memiliki hati yang terkunci rapat, tak dapat membuat perempuan mudah untuk memasukinya. Terkecuali kamu sendiri yang mempersilahkannya.  Baiknya aku bertanya di mana kah keberadaan mu saat membaca surat ini? Apakah berada di kota yang sama dengan kota saat surat ini dik...

Sebentar Lagi

Jakarta, 23 Februari 2016 Aku ingin hidup, di jalan, di mana kaki mu hapal menapakinya. Sebab perjalanan yang menyenangkan adalah tanpa keraguan dan ketakutan. Dalam genggam tangan mu, aku percaya, bahwa dunia lebih indah dari sekedar kata cinta. ......  Sampai tibalah aku di sebuah tempat di mana tak ada kamu, bahkan jejak kaki mu. Layaknya aku tersesat, tak dapat melihat padahal tak gelap. Aku terus menyusuri jalan itu dengan kaki berjinjit. sebab tak mengerti apa yang ada di bawah kaki. Dingin, lembut, rapuh, hanya itu rasanya. Perjalanan ku terus berlanjut, sampai tiba aku pada suatu tempat yang sama sekali tak ada orang, termasuk kamu. Lalu di mana dirimu? Di mana kamu menunggu? Mengapa tak menjemput ku?  Di dinding-dinding ini tertulis ribuan puisi dengan jutaan kata yang sama. Rindu. Siapa yang menuliskannya? Kamu kah? Atau aku? Ku coba penjamkan mata, menarik napas dalam-dalam, tapi tak lagi gelap. Cahaya datang perlahan-lahan merubah gel...

Gadis Bali Kesayangan

Jakarta, 22 Februari 2016 Berdasarkan apa yang kau minta, ini ku jadikan nyata. Perempuan macam apa yang meminta-minta dengan penuh harap kepada perempuan lainnya untuk dibuatkan surat cinta. Hanya kau! Gadis Bali yang ku temui, tanpa pernah ku kehendaki. Hahaha. Hanya bercanda. Pada surat ini akan ku coba mengetikan kalimat demi kalimat manis yang mungkin tak pernah kau dapat dari lelaki yang mengaku cinta padamu. Aku? Tak pernah sedikit pun ku pakai waktu yang ku punya untuk mencintai mu, sebab hari ku terlalu sibuk untuk merindukan ia yang masih satu kota dengan mu. Sampaikan rindu, sampaikan salam penuh kesungguhan bahwa aku tak sabar untuk berjumpa dengannya. Jangan sampai kau lupa! Ada hal yang tak pernah ku lupa, tentang suatu hari di sebuah gedung terbuka adalah waktu pertama di mana kita berjumpa. Saling memperkenalkan diri, melempar senyum, tak pernah tahu bahwa pada akhirnya kita bisa tetap berteman hingga detik surat ini kau baca. Apa yang kita jala...

Maha Penting

Jakarta, 21 Februari 2016 Biasanya doa ku, ku lisankan.  Hari ini, ku tuliskan. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Raja dari segala raja Penggerak bumi dan matahari dan Maha Menentukan bintang untuk datang atau tidak Aku pernah, mengutuki semesta karna terlalu kejam menyiksa hati dan pundak dengan beban bagaikan memanggung dua ekor gajah dewasa. Aku pernah, terlalu sering lupa untuk berterimakasih atas oksigen yang masih bisa ku hirup dengan puas tanpa sepeser pun mengeluarkan biaya. Aku pernah berdosa, meski di kemudian berkali-kali mengucap kata ampun atas hal-hal salah yang telah ku lakukan. Aku, adalah pelaku atas semua yang telah ku jabarkan, karna aku tak pernah mampu menggapai kesempurnaan. Aku berterimakasih, atas ayah yang baik, ibu yang cantik, dan adik-adik yang teramat asyik. Atas keluarga ku yang lengkap, tanpa ada satu pun niatan di antara kami untuk saling meninggalkan. Meski banyak umat mu di luar sana yang tak turut bahagia meliha...

Kamu

Jakarta, 20 Februari 2016 Bi, Sepuluh surat lagi yang akan ku tulis dan ku yakin isinya akan tetap ada kamu. Setelah dua puluh surat ku tuliskan nama mu dan rindu, ku rasa yang membaca sudah bosan. Aku bingung, tak tahu dan tak mengerti harus menyandingkan mu dengan apa. Yang ku tahu, cinta dan rindu adalah salah dua pilihan yang pantas untuk dibersamai dengan nama mu. Kamu adalah sosok yang hanya dengan menghadirkan wajahmu dalam pikiran saja aku sudah dapat merangkai puisi indah. Meski sering kali tak kau baca, meski tak jarang kau tanggapi hanya dengan sekedar "Ah, sayang... so sweet. " Tapi aku senang, setidaknya aku mengagumi bukan hanya lewat lisan pun tulisan. Bi, walau hubungan kita tak melulu indah layaknya bait kata yang ku jadikan rima, semoga tetap kamu, teman hidup ku dalam berjuang. Merindu mu bukan hanya persoalan temu yang tak kunjung datang, merindu sebuah terngkar dengan mu aku pun lakukan. Beradu pendapat, tak mau mengalah, sulit mengej...

Mundur

Jakarta,19 Februari 2016 144 jam 143 jam 142 jam 141 jam 140 jam 139 jam 138 jam 137 jam 136 jam 135 jam 134 jam 133 jam 132 jam 131 jam 130 jam 129 jam 128 jam 127 jam 126 jam 125 jam 124 jam 123 jam 122 jam 121 jam 120 jam ............. Akan terlalu banyak kertas yang terpakai, jadi biar waktu yang menghitung dirinya sendiri untuk mundur. -enam hari sebelum bertemu kamu.

Paragraf

Jakarta, 18 Februari 2016         Seperti surat sebelumnya, telah dijelaskan kepada mu atas rindu yang menggebu. Diberitahukan kepada mu dalam satu kata yang berarti segalanya. Atas pertemuan yang tak mudah, atas keadaan yang tak bisa dipaksa, atas kesabaran yang harus dibudidayakan. Menghitung hari menuju pertemuan. Aku belajar banyak hal, untuk membuat kamu kagum di kemudiannya. Belajar berdandan. Merias diri, agar sedikit lebih cantik dari biasanya. Untuk mu, untuk hari spesial mu. Maka sambutlah kedatangan ku, dengan rindu yang kamu punya, dengan senyum yang paling indah. Paragraf dari aku, seminggu sebelum bertemu.

Satu Kata

Jakarta, 17 Februari 2016 Rindu

Dibaca ya, Nak. (2)

Jakarta, 16 Februari 2016 Selamat pagi, Nak! Meski belum sempat mengabadikan mu pagi ini, tapi ku rasa kau cerah, semoga tetap hangat hingga malam datang. Mungkin aku gila, satu-satunya yang menganggap kau anak. Tapi bukankah anggapan ku benar? Kau seorang anak. Lahir dari perut bumi dan pulang dalam pelukan lautan. Anak bumi, Sang Maha Hangat. Nak, aku mencintaimu sejak pagi yang mana dikatakan orang masih buta. Mengapa begitu? Karena kau belum ada, tapi langit tempat mu tinggal sudah mulai berwarna. Lucunya kamu, Nak. Datang dengan malu-malu, pertama-tama mewarnai tempat yang kau tinggali. Biar apa, Nak? Biar indah kah? Atau sebagai tanda kau akan bangun? Apapunlah itu, terimakasih, Nak. Nak, saat kau datang banyak yang membencimu. Jarang ucap syukur yang keluar dari mulut mereka, terkadang pun aku. Maafkan, Nak. Kami hanya kesal sebab kadang lelah kami belum hilang, kau sudah datang . Tapi ketahuilah, Nak. Seberapapun banyak keluhnya mereka, mereka teta...

Kardus Bekas

Jakarta, 15 Februari 2016 Kita tak saling mengenal, hanya bertatapan tapi sebentar. Dari tatapan itu aku merekam jelas wajahmu, sudah mulai banyak keriput menghiasinya. Aku pun menghapal baju yang kau kenakan, dress sepanjang lutut berwarna kuning lusuh, dan celana jeans abu-abu yang mulai menipis. Ntah berapa lama pakaian itu kau kenakan. Atau mungkin itu satu-satunya pakaian yang kau punya. Suami dan gerobak mu adalah pelengkap dari sosok mu yang ku lihat di siang itu. Kalian saling bahu-membahu, bantu-membantu mendorong gerobak yang berisikan kardus dan botol-botol bekas. Di tengah teriknya mentari, kau pun masih bisa tersenyum, tanpa kenal lelah. Aku saja, yang saat itu sedang duduk di depan sebuah Supermarket sudah tidak betah karena panas matahari yang terlalu menyengat. Aku malu, terlalu manja, padahal kau dan (mungkin) ribuan orang lainnya di luar sana berjuang melawan panas matahari demi kehidupan di kemudian hari. Rezeki. Aku menyaksikan kau mengelu-elukan ...

Untuk Ibu Pertiwi

Jakarta, 14 Februari 2016 Salam Hormat, Ibu Pertiwi 7 Oktober 22 Tahun yang lalu di sebuah Rumah Sakit Bersalin, seorang ibu tengah berjuang, untuk menyediakan tempat yang lebih indah dari rahimnya bagi sang putri tercinta. Seorang ibu yang mempercayai pusat kota sebagai tempat teraman dan paling nyaman untuk membesarkan seorang perempuan yang diharapkan dapat menebar cinta di tiap sudut kota. Maka lahirlah aku, sebagai perempuan yang dijuluki anak ibu kota. Aku tak tahu darimana dan bagaimana julukan itu ada. Aku lahir dari rahim ibu ku, bukan dari rahim si ibu kota. Tapi mengapa? Kali pertama aku menginjakan kaki di tanah Yogya, mereka langsung memberikan julukan itu padaku. Mereka bilang, aku terbiasa hidup dalam dunia glamour nan penuh kemewahan. Anak ibu kota, yang hanya mengenal gedung tinggi dan mall menjulang, katanya. Beberapa dari mereka memandang ku sebelah mata, enggan berdekatan dengan ku, karena mereka pikir aku sombong dan tak akan asyik untuk diaja...

Hampir Sore

Jakarta, 13 Februari 2016           Menengok ke langit yang hampir sore mengingatkan ku akan masa di mana semua begitu mudah hanya dengan meminta. Bermodal muka polos dan lugu, aku tak pernah merasa sulit, hanya mengatakan apa yang aku ingin, kemudian ayah mengabulkan. Semudah itu, tanpa pernah memperhitungkan seberapa banyak usaha yang telah ku lakukan.           Aku tahu, aku tak lagi kanak-kanak. Umur ku pun tak lagi bilangan satu angka atau belasan. Tapi aku pun tahu, ayah memperlakukan ku tetap sama seperti sedia kala-- meski kini harus ayah lihat dulu seberapa keras aku berusaha. Hari ini, bila ku ingat telah jauh ku lalui masa kecil, aku merasa sedih. Sebab tak ada lagi waktu sesering dulu, waktu ayah masih sanggup menggendong ku setiap saat. Ku dapati gendongan itu kini hanya saat aku sakit, tapi bersyukur aku tak pernah lagi kau gendong, karna berarti aku baik-baik saja. Terim...

Bujang Tersayang

Jakarta, 12 Februari 2016 Aku penasaran, waktu kau dalam kandungan, mama mu ngidam apa? Bisanya melahirkan seorang lelaki, yang mampu membuat ku menunggu dan tersenyum tiap waktu. Bilang mama mu, tugasnya hampir selesai untuk menjagamu. Akan ku gantikan tugas itu, meski mungkin peluk ku tak sehangat dekap mamamu. Bujang ku. Lelaki yang ku dapati dari dunia maya. Dunia yang kata banyak orang adalah penuh kepalsuan. Tapi tidak juga, buktinya aku menemukan mu yang penuh dengan ribuan kepastian. Kau tak pernah memberikan harapan, hanya keinginan yang satu demi satu berhasil diwujudkan. Berkenalan dengan mu saat umur ku berada di angka 21. Langkah pertama untuk menjadi alumni dalam dunia per-abege-an. Saat itu mungkin kau masih mengenal ku yang sedikit banyak masih tersisa sifat kanak-kanak. Aku yang mudah marah bila rindu, mudah cemburu bila melihat mu bersenang-senang tanpa aku, mudah menangis, dan mudah sekali termakan omongan orang lain tentang kau. Padahal tak sem...

Perempuan Yang Terbiasa

Jakarta, 11 Februari 2016 "Mencintai bukan perkara ia yang selalu dan harus mau menjadi apa yang kamu inginkan, tapi lebih kepada kamu yang harus bisa dan membiasakan menerima ia yang begitu adanya."   Sering kali diri ini lalai untuk bersyukur, acap kali terucap keluhan-keluhan dari mulut yang memang tak pernah alfa untuk berdosa. Tapi bagaimana? Aku hanya manusia biasa, hati ku pun tak bisa selalu dituntut untuk bahagia. Keputusan ku untuk menjadikan mu sebagai pernak-pernik dalam kehidupan ku adalah alasan untuk tetap menyirami cinta ini agar senantiasa selalu tumbuh tak pernah layu. Tapi bukankah untuk menanam diperlukan pupuk yang baik? Harusnya kau selalu pupuki itu dengan segala sifat baik mu tanpa pernah sedikit pun membuat ku kesal, tapi mengapa tak bisa seperti itu? Kau ingin melihat cinta ini layu? Dengarkan baik-baik, sesuatu yang telah layu tak bisa lagi kembali segar. Hanya tinggal menunggu tercabutnya akar dari tanah. Jang...

Surat Singkat

Mendung di Jakarta, 10 Februari 2016 Belakangan tak ada mentari, tapi masih tersimpan rindu di hati Berkawan dengan jarak, memangkas ego yang memuncak. Aku tak pernah merasa susah, sebab memikirkan mu adalah hal yang mudah. Bila waktu telah setuju, akan ada hari di mana kita akan kembali bertemu. Kekasih, bila rasanya kau bosan, dengan segala ucap rindu yang ku haturkan, mohon dimaafkan. sebab sudah tugas ku, untuk bersikap adil, dengan bersabar dan menunggu. jangan pernah bosan dengan penat, bayangkanlah sebuah pelukan penuh hangat. dalam doa yang senantiasa tertulis nama mu dalam baitnya, semoga rindu ini sampai kepada tuannya. Surat singkat. hanya ingin menjelaskan, bahwa pikiran terlalu sempit karena penuh dengan bayang mu. -Sayang mu.

Perahu

Gerimis di Jakarta, 9 Februari 2016 Tuhan-- ingin ku haturkan ribuaan maaf atas diri yang selalu luput untuk panjatkan syukur. Atas diri yang sering kali lalai atau bahkan ingkar kepada janji-janji yang telah diterbangkan ke angkasa. Sebenar-benarnya aku adalah ciptaan-Mu yang tak menyentuh kesempurnaan. Aku selalu tak percaya, berada dalam perahu yang sering kali tak ku senangi perjalanannya. Sering kali aku ingin perahu ini berjalan ke timur, tapi kemudian ombak tak sependapat dan melayarkan perahu ini ke arah barat. Sering kali aku ingin sejenak beristirahat tanpa harus ada sebuah perjalanan, tapi angin tak kenal kompromi untuk tetap menggerak-gerakan layarnya. Aku lelah-- butuh tempat tenang tanpa gelombang, tapi aku belum tiba di daratan. Daratan telah nampak, meski sering kali menghilang, dan ku tahu itu hanya sebuah angan-angan. Perjalanan ku masih jauh, dalam perahu yang tak bisa ku kendalikan sendiri, arahnya. Orang-orang di dalam perahu ini, menyebal...

Menerima Dan Berkasih

Jakarta, 8 Februari 2016 Hari ini adalah hari pertama. Aku menapaki kaki di keadaan serba baru. Seperti katamu, aku pasti bisa dan kau yakin aku akan mampu beradabtasi. Bermodal dengan keyakinan mu, ku lapangkan hati dan rela menerima semua yang tlah disediakan Tuhan. Sebab aku terlalu lelah untuk lagi dan lagi berontak. Aku terlalu bosan untuk lagi dan lagi mengeluh. Oleh karna itu, ku putuskan untuk bersyukur. Tak ada salahnya mengalah dengan Tuhan. Tokh, Ia yang menjamin segala-galanya yang ada di bumi. Terimakasih, atas keyakinan mu pada diri ku yang mana diri ku sendiri pun meragukan. Terimakasih, atas semangat yang kau berikan, kepada diri yang hampir saja ingin menyerah pada kehidupan. Terimakasih, atas kalimat-kalimat penuh kehangatan yang kau berikan sehingga mengalir energi positif dalam tiap aliran darah. Terimakasih, surat ini ku tuliskan secara singkat, meski tak ada kata cinta di dalamnya. Untuk mu, Yang belum lagi ku temui.

Aku Bagian Dari Kamu (2)

Jakarta, 7 Februari 2016 3 tahun lalu,  dari Yogyakarta, aku mengirimkan surat cinta untuk kamu si baju merah. Kini, ku jarang melihat mu lagi mengenakan baju merah. Makin ke sini, kamu makin gaya, makin buat aku jatuh cinta. #halah Halo, bang Alitt! Apa kabar? Aku percaya abang sehat jiwa raga, sebab abang tak pernah lupa olahraga dan tak alpha untuk ketawa. I know you so well , kalau kata liriknya lagu sm*sh sih gitu.  Tapi mungkin i know you tak begitu so well, sebab belakangan bang Alitt jarang lewat di linimasa. Ntah sekarang bang Alitt lewat mana, yang jelas bang Alitt bikin kerjaan ku untuk kepo twitter mu menjadi berkurang. Apapun yang sedang atau akan kamu lakukan, jangan lupa jaga kesehatan ya bang, sebab apalah artinya karya bila kesehatan terabaikan. ----- Menjadi bagian dari followers mu adalah cara untuk mengagumi mu secara diam. Memantau apa-apa yang sedang kamu kerjakan, membaca apa-apa yang kamu ceritakan, dan mengamini apa-ap...

Pindah

Jakarta, 6 Februari 2015 Ada resah yang belakangan tak pernah alpha, ada hati yang tak siap untuk pindah. Masih terekam jelas, saat ayah memutuskan untuk menitipkan ku padamu. Sebab ayah terlalu sibuk bekerja, hingga tak ada lagi sisa waktunya untuk mengurusku. Dari situ, saat malam sebelum lelap dan pagi sebelum aku hendak berangkat ke sekolah, senyum mu lah yang selalu ku lihat. Kadang juga kau marah, bila sulit membangunkan ku yang teramat malas untuk bersekolah. Kita saling bertukar cerita. Menghabiskan malam dengan sama-sama menyaksikan sinetron-sinetron yang pada jamannya dulu masih layak untuk diikuti ceritanya. Saat iklan, kita bersama-sama mendiskusikan apa yang terjadi di dalam cerita. Aneh, kita tahu itu hanya rekayasa, tapi teramat gemas dengan tokoh antagonisnya. Dulu saat aku masih malas untuk mengurus diri, sehingga tumbuh subur kutu di kepala, kau sangat rajin untuk membersihkannya. Kau tak ingin aku terganggu belajar di sekolah dengan menggaruk...

Pengganti Aku

Jakarta, 5 Februari 2013 Hai! Tadi malam aku meminjam. Seseorang yang kau sayang. Aku bersumpah, hanya meminjam selama 2 jam, tak ada niatan untuk memilikinya kembali. Aku bercerita padanya-- tentang aku yang mengutuk Tuhan, menyalahkan waktu, dan tak menerima keadaan. Dia menasihatiku seperti dulu, dengan lembut, sabar, ia kirimkan bait-bait kalimat penuh kehangatan. Tapi ada yang berbeda, ia yang kau sayang, nampak jauh lebih dewasa sekarang. Ku jaga hati ku baik-baik, takut-takut kalau hatiku berhasil ia curi lagi. Tapi, asal kau tahu saja, aku hanya terlalu percaya diri. Jelas-jelas di akhir, ia mengatakan bahwa ingin menjadikan mu istri. Ah, aku iri. Terimakasih telah meminjamkan dua jam dalam hidupnya untuk ku. Meski ku tahu, kau tak tahu kalau aku menghabiskan dua jam malamnya. Terkecuali jika ia cerita. Tapi ku yakin, tak mungkin ia cerita. Ia akan malas menjawab segala pertanyaan mu yang yang penuh rasa penasaran. Oiya, ia juga menceritakan sos...

Lelaki Kedua

Jakarta, 4 Februari 2015 Kau tak pernah tahu aku menyanyangi mu, kau tak pernah tahu bahwa sama beratnya kita menjalani hidup setelah kepergiannya. Beranjak dewasa sendiri, aku tahu itu sulit, dan tak mudah untuk kita lewati. Jarang bertegur sapa dengan mu, sebab hanya tengkar bila kita saling berucap membawa emosi ikut serta di dalamnya. Tapi percayalah, sebenci-bencinya diri ini akan sosokmu, selalu ada nama mu di akhir doa yang ku panjatkan pada yang Maha Sempurna. ----- Kembali ke masa dulu, saat hidup hanya berisikan makan, tidur, bermain, dan jalan-jalan. Kita bisa sangat mudah untuk berbagi tawa, pun sesekali menangis karena jatuh tanpa disengaja. Kemudian hidup terasa mulai berat-- saat warisan pertama yang diberikan perempuan itu kepada kita adalah hidup tanpa ada lagi sosoknya. Kita menangis, bersama-sama menjatuhkan air mata di atas makamnya. Lalu ku pikir, aku bisa menggantikan sosoknya. Membangunkan mu di kala pagi, menyiapkan makan mu saat siang hari, ...

Perempuan Yang Patah Hati

Jakarta, 3 Februari 2016 Lama tak berkabar, aku mengetahui bahwa kau tlah patah hati. Begitulah resiko jatuh cinta, tak hanya suka, duka pun akan turut menyertainya. Bagimana kabar mu kini, setelah ditinggalkan atau kau yang meninggalkan? Aku tak banyak tahu bagaimana lengkap ceritanya. Aku hanya membaca, sesekali mengamati rintihan-rintihan yang kau bagi di social media. Teruskanlah, berceritalah, sampai hati mu puas dan perasaan mu lega. Tunjukanlah apa-apa yang kau rasa berhak untuk dipentaskan. Tak ada larangan, tak ada batasan. ------ Hey, perempuan! Patah hati itu menyenangkan. Kapan lagi kau bisa menangis tanpa harus beralasan? Kapan lagi kau bisa makan tanpa harus memikirikan berat badan? Kapan lagi kau bisa tidur seharian karna malas menghadapi kenyataan? Kapan lagi kalau bukan ketika patah hati. Nikmatilah patah hati mu. Sampai kau pikir sudah cukup membiarkan hati itu patah, maka bersihkanlah remukannya perlahan. Susun kembali tiap keping dengan sebuah har...

Untuk Sayangku

Jakarta, 2 Februari 2016 Seperti biasa tanpa ada beda, tak ada ucapan bila bukan aku yang mulai duluan. Begitulah kamu, lelaki yang menyatakan cinta di depan pintu pagar kosan, sembari memberikan hadiah kecil yang tak seberapa, permen yupi. "Aku sebenarnya sayang sama kamu". Ku sambut dengan tawa kalimat yang kau utarakan. Bagaimana tidak lucu? Ekspresi mu saat mengucapkan kata-kata itu persis seperti tentara perang yang sedang berada di tengah kekacauan, tapi kemudian bertemu dengan bidadari di tengahnya. Tegang, kaku, malu, gemetar, ingin senyum, tapi tak bisa lepas, seakan-akan ada musuh yang juga melirik-lirik nakal pada bidadari itu. "Kamu mau kan jadi pacarku?" Tak bisa ku ingat dengan pasti apa kalimat lengkapnya, tapi ya begitulah intinya. Maaf sayang, kalimat-kalimat indah itu yang kau ucapkan tepat di tanggal ini, 25 bulan lalu telah ku lupakan. Bagaimana tidak lupa? Kau telah memberikan ku ribuan kalimat indah lainnya. Sayangku, si tuka...

Surat Rasa Cemburu

Jakarta, 1 Februari 2016 Halo, Kekasih! Aku menuliskan surat ini, bukan untuk mengutarakan aku rindu, melainkan cemburu. Kau tahu, tak pernah ada hari yang ku lalui tanpa merindu, tapi kali ini izinkan aku tuk cemburu. Menjalin hubungan dengan mu, dengan jarak sebagai orang ketiga adalah sekuat-kuatnya pohon melindungi daun dari angin yang bertiup kencang agar tak lepas dari rantingnya. Aku tak pernah membayangkan, bahwa ada satu waktu yang mengharuskan kita untuk tak bertemu muka setiap saat. Ku kira hubungan jarak jauh hanya bisa dijalankan dalam mimpi, sampai aku sadar bahwa apa yang ku jalani dengan mu sekarang adalah aku yang tanpa menutup mata. Berada pada kota berbeda, meski masih di bawah langit yang sama. Menjalani hubungan dengan jarak, tak perlu terlalu banyak membawa perasaan. Sampai akhirnya ku ikutkan rasa cemburu di dalamnya. Aku cemburu, dengan perempuan-perempuan di tempat mu sana yang puas menikmati senyummu-- sedangkan aku, menikmati senyum...

Sedih Bukan Hanya Milik Mu

Jakarta, 31 Januari 2016 Siang tak selalu terang, seperti belakangan warna awan yang kelabu, sama dengan kamu. Ada apa? Aku bertanya. Kenapa? Aku meminta. Maka jelaskanlah, maka ceritakanlah. Aku menyipakan 24 jam untuk mu menumpahkan segala rasa, yang ku yakin sudah tak cukup lagi kau sembunyikan di tempat sesempit hati. Mengapa hanya memandangku? Mata mu yang bengap seperti tak pernah mengenal lelap. Aku tak suka dipandang seperti itu. Tak biasanya kamu menemuiku tanpa pipi yang merona. Belum kamu mulai cerita, sedikit banyak aku tahu. Kamu menangis, memukul-mukul dada karena sesak, ingin marah, tapi tak cukup tenaga. Benarkah? Hal yang paling sering kamu lakukan adalah menyakiti dirimu sendiri. Meski kamu tahu kamu tak ingin, namun kamu tak punya pilihan. Sebab hidup tak sama dengan soal pilihan ganda, tinggal memilih karena pasti ada satu yang benar. Kalau kamu hanya bisa diam, memandangku dengan muka tanpa nyawa, melirik ku dengan tatapan tanpa...