Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Pagi ini, kamu.

"Belakangan ini terlalu sering melepas rindu dengan orang-orang tersayang hanya sekedar lewat mimpi. Seakan-akan enggan untuk bangun. Pagi ini, kamu" Itu adalah tweet pertama ku pagi ini. Memang akhir-akhir ini aku sudah mulai jarang untuk berkicau di sosial media itu. Waktu ku lebih sering ku pakai untuk baca novel, bercerita disini, dan untuk tidur. Tidur? Ya tentu saja. Seperti yang sudah ku katakan, belakangan ini aku terlalu sering melepas rindu dengan orang yang ku sayangi lewat mimpi. Jadi enggan untuk ku bangun, dan memutuskan untuk kembali tidur. Di dunia disana lebih menyenangkan dan menenangkan, untuk saat ini.           Pagi ini aku bermimpi tentang mu. Ntah ini kali keberapa aku memimpikan mu. Yang jelas ini bukan untuk yang pertama. Sejak pertengakaran kita, lalu perubahan sikap dingin mu kepada ku, sejak saat itu aku sering memikirikan mu. Ada yang bilang, ntah itu siapa, aku lupa. Ia berkata: "Biasanya kalo kamu sering mimpiin dia, seb...

Mah, dimana sih?

          Hey, Mah! Apa kabar? Ini puasa entah kali berapa gak sahur bareng mamah. Sekarang tau kan aku sahur dimana dan sama siapa? Iya di kosan dan sendirian. Hebat kan anak mu sekarang? Lebih dari sekedar mandiri hehehehe.           Tadi mamah kemana? Kita sempat (hampir) bertemu meskipun hanya dalam mimpi. Ya semenjak mamah pergi duluan untuk tinggal di langit sana, pertemuan kita hanya sebatas dunia mimpi. Tak apa, kalau lewat itu bisa melepaskan rasa rindu yang kita punya. Tapi, tidak untuk kali ini. Belum sempat kita bertemu, alarm ku sudah berbunyi. Sepagi ini aku benci banget dengan bunyi alarm itu. Kalau saja alarm itu bisa lebih bersabar dan menunda untuk berbunyi, mungkin akan ada sebuah pelukan yang mamah kasih buat aku. Ntah harus dengan kata apa harus ku ceritakan kalau aku kangen sama mamah.           Aku, mamah, papah, dan rumah kita. Iya mimpi ku tadi seakan-akan menjelaskan secara sempurna ...

Sekali-kali, tak apa kan?

"Perempuan kadang hidup di dalam pikirannya sendiri, yang ia buat, yang ia ciptakan, dan ia pula yang tidak tahu kebenaran akan pikirannya tersebut. Ya itu kami, perempuan." Pikiran buruk mu mana yang tak pernah menggangu? Ragu? Cemburu? Mana diantara itu yang selalu mengganggu? Ku rasa keduanya. Bersaing dalam pikiran, saling menguatkan dugaan, tanpa pernah tau soal kebenaran. Aku, ragu. Bukan ragu akan cinta mu padaku. Bukan juga ragu bahwa kau sayang atau tidak pada ku. Bagiku tak ada waktu untuk meragukan itu semua. Sebab bilanya kau tak cinta dan sayang padaku, tak mungkin kini kau jadi milikku. Tapi aku ragu pada hatiku sendiri, yang sulit percaya bahwa kau telah lepas dari masa lalu mu. Sudahkah bisa sepenuhnya kau pergi dari masa lalu mu? Sudahkah bisa semampunya kamu berjalan tanpa pernah melihat lagi ke belakang? Sudahkah bisa seutuhnya kamu menerima ku tanpa pernah membandingkan ku dengan yang ada di masa lalu mu? Sudahkah? Bisakah? Itu yang ku ragukan...

Ramadhan di (hampir) 20.

Sebelumnya, mari kita (iya aku dan kamu yang baca) flashback ke beberapa tahun silam~ Dari kecil - 17 tahun Iya, dari kecil. Hm lupa sih umur berapa, kira-kira TK. Gue udah mulai coba-coba puasa dari TK. Tapi taulah gimana puasanya anak TK..... Gak makan, tapi tetep minum dan jajan, gitu kira-kira. Masih dimaklumin kalau umur-umur anak TK mah. Kalau sekarang masih begitu? Ya malu aja sih sama kumis dan jenggot yang udah lebat~. Berhubung gue menderita mag akut dari kecil, jadi dokter menyarankan untuk berpuasa secara bertahap. Waktu itu puasa gue masih didampingin almarhumah mamah Anidah. Jadilah beliau guru gue dalam berpuasa. Papah juga sih, cuman kan tiap hari papah kerja, jadi lebih sering ketemu mamah :). Jadi mulai lah gue mencoba berpuasa bersungguh-sungguh saat hm mungkin SD (gak begitu inget waktu pastinya, maklum namanya juga manusia, sering lupa). Dicoba-coba puasa, tapi ternyata gak kuat, jadilah gue puasa cuma sampe jam 9. Lalu bertahap jadi mulai terbiasa, dan bat...