Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Paragraf Terakhir

Sampai sudah pada paragraf terakhir yang ku susun kata demi kata tanpa air mata. Ntah karena ku tlah mati rasa atau memang tak ada lagi hal yang perlu tuk ku tangisi. Kamu menyerah. Mungkin benar kamu sudah terlalu lelah. Mungkin benar tak ada lagi cinta. Mungkin benar inilah yang seharusnya terjadi pada kita. Tak ada lagi kita, kini kembali hanya menjadi aku dan kamu. Satu demi satu mimpi yang mengandung kamu telah ku gugurkan. Meski menyakitkan, ku lakukan dengan teramat perlahan agar hati tak banyak menerima luka. Satu demi satu doa yang ku layangkan atas nama mu, ku biarkan tetap mengawang. Setidaknya telah ku panjatkan segala yang baik untuk mu. Anggap saja itu hadiah karena telah memberikan ku hari-hari indah. Atas semua yang telah ku perjuangkan, tak pernah sedikit pun ada rasa sesal. Kamu harus ingat dengan baik bahwa kamu lah yang memutuskan untuk beranjak, kamu lah yang memutuskan untuk pergi, kamu lah yang memutuskan untuk berlari. Dan keputusan ku lah menghilangk...

Monolog

Ketika aku bertemu dengan seseorang, tampak tak mengenal senyum untuk harinya, lalu ku bertanya "Ada apa?" Ia hanya menjawab "Aku tak mengerti." Di keesokan harinya aku kembali bertemu lagi dengan dirinya. Masih seseorang yang mungkin tak tahu bagaimana caranya untuk tersenyum. Aku pun kembali bertanya "Ada apa?" Dan lagi lagi jawaban yang ia berikan adalah "Aku tak mengerti." Aku pun semakin sering bertemu dengan dirinya. Semakin sering pula aku bertanya ada apa, semakin sering itulah juga ia memberikan ku jawaban bahwa ia tak mengerti. Lalu suatu hari aku ku ajukan padanya sebuah pernyataan "Aku tak mengerti" kemudian dia bertanya pada ku "Ada apa?" Sampai akhirnya aku tersadar, ia adalah aku. Seseorang yang tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

Bagian Dari Usaha Ku

Aku ingat bagaimana untuk pertama pertemuan kita di depan gerbang itu. Mengulurkan tangan pun tidak, seakan-akan telah ribuan hari kita saling kenal. Setelah itu, bermimpi tentang menjadi milik mu tak pernah ku lakukan. Sebab aku takut, diri ini tak begitu baik untuk menjadi kepunyaan mu. Pertemuan berikutnya, lebih dekat. Bahkan tak ada lagi jarak di antara ruas jari. Kita saling mengisi, pun di dalam hati. Sedikit demi sedikit, bunga-bunga di taman pikiran dan perasaan telah bermekaran. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, bila tak ada jumpa, lahirlah rindu. Adalah kita yang sedang saling membahagiakan kala itu. Sampai aku tahu bahwa mungkin setidaknya aku sedikit pantas untuk menjadi penghuni hati mu. Bermodalkan dengan sayang setengah ragu, ku katakan iya, saat kau bertanya sudikah aku menjalani lebih banyak hari dengan mu. Ku pikir, kebersamaan itu hanya semu. Sebulan dua bulan, ku kira kita akan saling bosan. Tapi ternyata tiap kesalahan yang saling kita buat, dapat de...

Menunggu

11 Februari 2017 Merindukan mu. Saat pertama bertukar nama, Tuhan menyediakan sepasang kekasih yang terikat cinta sebagai pemberi nama terindah kepada mu. Merindukan mu. Saat pertama melihat senyum tulus yang kau kembangkan dari telinga ke telinga. Dari situ aku tahu, bahwa ku harus siap untuk jatuh. Jatuh cinta. Memberanikan diri untuk menyapa lewat sebuah teks yang beribu kali ku hapus tulis isinya. Mempersiapkan diri kalau ternyata teks ku tak berbalas. Tapi mungkin Tuhan setuju, dari situ kita diizinkan untuk memulai apa-apa yang mungkin tanpa sengaja telah kita doakan. Hari-hari yang telah kita lalui. Kenangan demi kenangan yang telah kita ciptakan. Semoga semua yang mengandung namamu, adalah hal yang tak kan berusaha untuk ku lupakan. Maka tetaplah di sini. Tetaplah menerima ku meski kadang ego ku sulit untuk ditaklukan. Tetaplah menerima ku meski kadang cemburu ku tak memiliki alasan. Tetaplah menerina ku meski kadang marah ku sulit untuk dipadamkan. Ingatla...

Hanya Mencoba

10 Februari 2017 Hai! Surat hari ketiga. Ditujukan masih untuk kamu. Mereka bilang aku pejuang, berjuang pada jarak yang sebenarnya tak pernah kita terima kehadirannya. Tapi mereka salah, aku tidak berjuang, bahkan tidak pernah. Apa yang sudah kita bangun tidak sedang ku perjuangkan, melainkan sedang ku pertahankan. Mempertahankan adalah hal yang selama ini banyak memakan waktu ku. Itulah mengapa akan banyak timbul kesia-siaan bila pada akhirnya aku menyerah pada apa yang sedang ku pertahankan. Bukan sekali dua kali aku mencoba untuk menyerah. Tapi semua hanya berujung percobaan, tak pernah benar-benar ku lakukan. Sebab aku harus bertanggung jawab atas keputusan yang telah berani ku ambil. Tetap bersamu, meski akan ada banyak kesulitan untuk sebuah pertemuan. -berterima

Penipu

9 Februari 2017 Hapus-tulis-hapus-tulis-hapus-tulis. Itu saja kerjaku. Karena entahlah mengapa rasanya terlalu sulit untuk memilih kata terbaik dalam surat ini. Ingin menyebutkan rindu sebagai kata pertama, tapi aku ragu. Aku takut bila hanya aku yang rindu, kamu tidak. Memang, Dilan bilang; "Rindu itu berat, biar aku saja, kamu tak akan kuat." Tapi kata ku, kamu juga harus rindu, biar sama-sama kita tanggung yang berat ini. Kamu rindu? Seberapa banyak? Bila ku katakan seberapa banyak rindu ku, tak kan cukup seribu atau dua ribu episode untuk menceritakannya. Jadi aku malas, lebih baik tak usah ku katakan. Biarlah kau tak pernah tahu, dengan begitu kau akan menganggap ku baik-baik saja. Tak apa. Aku pandai berpura-pura. Sebab pertemuan kita hanya sebatas teks dan suara. Ku bisa menipu dengan titik dua kurung buka. Lagi-lagi dengan begitu kau akan menggangap ku baik-baik saja. Kadang aku merasa, aku baik-baik saja tapi tidak baik-baik saja. Kadang aku terlalu lelah...

Jangan Seperti Itu

8 Februari 2016 Mereka bilang jarak adalah resep terbaik untuk ciptakan rindu. Mereka bilang saat berjauhan, maka tak ada hal buruk yang akan terjadi kecuali hati yang terus mengemis untuk bertemu. Adakah mereka benar? Atau aku yang salah karena terlalu percaya? Berada dalam persimpangan jalan, untuk menentukan mana jalan selanjutnya yang akan ku pilih saja aku tak tahu. Berhenti. Berpikir. Terlampau sering berpikir hingga lupa untuk bernapas. Rasanya sesak. Tak seberapa sesak bila dibandingkan dengan sesaknya hati saat diacuhkan. Apakah aku penting? Adakah hadir ku menjadi suatu keharusan dalam hidup mu? Ataukah aku hanya sekedar hiburan, yang sesekali kau datangi saat kau telah jenuh dengan hidup mu? Coba tuk jangan terlalu peduli dengan apa-apa yang masih belum jelas di masa depan, masa yang kata mu sedang kau persiapkan untuk kita. Cobalah tuk lihat aku. Perhatikan aku. Seseorang yang masih kamu milki di masa sekarang. Sebelum akhirnya masa depan kita telah siap, tapi ak...