Paragraf Terakhir
Sampai sudah pada paragraf terakhir yang ku susun kata demi kata tanpa air mata. Ntah karena ku tlah mati rasa atau memang tak ada lagi hal yang perlu tuk ku tangisi. Kamu menyerah. Mungkin benar kamu sudah terlalu lelah. Mungkin benar tak ada lagi cinta. Mungkin benar inilah yang seharusnya terjadi pada kita. Tak ada lagi kita, kini kembali hanya menjadi aku dan kamu. Satu demi satu mimpi yang mengandung kamu telah ku gugurkan. Meski menyakitkan, ku lakukan dengan teramat perlahan agar hati tak banyak menerima luka. Satu demi satu doa yang ku layangkan atas nama mu, ku biarkan tetap mengawang. Setidaknya telah ku panjatkan segala yang baik untuk mu. Anggap saja itu hadiah karena telah memberikan ku hari-hari indah. Atas semua yang telah ku perjuangkan, tak pernah sedikit pun ada rasa sesal. Kamu harus ingat dengan baik bahwa kamu lah yang memutuskan untuk beranjak, kamu lah yang memutuskan untuk pergi, kamu lah yang memutuskan untuk berlari. Dan keputusan ku lah menghilangk...