Hampir Sore
Jakarta, 13 Februari 2016
Menengok ke langit yang hampir sore mengingatkan ku akan masa di mana semua begitu mudah hanya dengan meminta. Bermodal muka polos dan lugu, aku tak pernah merasa sulit, hanya mengatakan apa yang aku ingin, kemudian ayah mengabulkan. Semudah itu, tanpa pernah memperhitungkan seberapa banyak usaha yang telah ku lakukan.
Aku tahu, aku tak lagi kanak-kanak. Umur ku pun tak lagi bilangan satu angka atau belasan. Tapi aku pun tahu, ayah memperlakukan ku tetap sama seperti sedia kala-- meski kini harus ayah lihat dulu seberapa keras aku berusaha. Hari ini, bila ku ingat telah jauh ku lalui masa kecil, aku merasa sedih. Sebab tak ada lagi waktu sesering dulu, waktu ayah masih sanggup menggendong ku setiap saat. Ku dapati gendongan itu kini hanya saat aku sakit, tapi bersyukur aku tak pernah lagi kau gendong, karna berarti aku baik-baik saja. Terimakasih ayah, tak pernah berkata lelah meski dulu hampir 24 jam aku tak pernah mau lepas dari gendongan mu.
Berbalas budi, adalah hal yang mungkin hingga surat ini diketikan belum juga ku lakukan. Terlalu berat dan tak pernah mengenal kata mudah untuk membalas tiap harta maupun kasih yang telah kau curahkan untuk ku. Sebab semua itu tak dapat dihitung, karena bukan hanya persoalan harga. Menahan diri untuk tidak berkata "tidak" atas segala perintah mu, adalah hal yang ku lakukan sebagai wujud pengabdian kepada engkau yang menjaga ku saat adzan pertama dikumandangkan di telinga dan sampai nanti, sampai nanti aku telah memiliki pengganti yang dapat menjaga ku layaknya engkau.
Ayah,
Izinkanlah aku, restuilah aku, dan doakan aku yang akan terus berlari menuju masa depan. Kau sering mengatakan aku harus berlari agar tak tertinggal, tapi sesekali bila lelah aku dipersilahkan berjalan sembari mengamati apa-apa yang ku temui di jalan. Bila lelah sudah teramat sangat kau pun memperbolehkan ku untuk duduk sebentar, menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, mengumpulkan kembali tenaga, sampai ku rasa mampu untuk berlari lagi.
Aku pun senang berlari, aku suka sekali merasakan lelah hanya sekali.
Dibanding berjalan, akan terasa melelahkan dan memakan waktu lama untuk sampai ke tujuan.
-Anak pertama Ayah.
Komentar
Posting Komentar