Bujang Tersayang
Jakarta, 12 Februari 2016
Aku penasaran, waktu kau dalam kandungan, mama mu ngidam apa? Bisanya melahirkan seorang lelaki, yang mampu membuat ku menunggu dan tersenyum tiap waktu. Bilang mama mu, tugasnya hampir selesai untuk menjagamu. Akan ku gantikan tugas itu, meski mungkin peluk ku tak sehangat dekap mamamu.
Bujang ku.
Lelaki yang ku dapati dari dunia maya. Dunia yang kata banyak orang adalah penuh kepalsuan. Tapi tidak juga, buktinya aku menemukan mu yang penuh dengan ribuan kepastian. Kau tak pernah memberikan harapan, hanya keinginan yang satu demi satu berhasil diwujudkan.
Berkenalan dengan mu saat umur ku berada di angka 21. Langkah pertama untuk menjadi alumni dalam dunia per-abege-an. Saat itu mungkin kau masih mengenal ku yang sedikit banyak masih tersisa sifat kanak-kanak. Aku yang mudah marah bila rindu, mudah cemburu bila melihat mu bersenang-senang tanpa aku, mudah menangis, dan mudah sekali termakan omongan orang lain tentang kau. Padahal tak semuanya benar. Usut punya usut omongan itu hanya berisi kalimat iri dan dengki yang mereka utarakan karena tak suka melihat kita bersama.
Mencintai anak pertama dan menjadi satu-satunya, teramat sulit. Terlampau banyak perbedaan dalam latar belakang kehidupan yang kita jalani. Bila aku terbiasa iri melihat adik-adik ku yang dibelikan mainan oleh ayah, kau mungkin teramat senang karena menjadi satu-satunya yang menerima mainan. Tapi tak mengapa, perbedaan diciptakan untuk saling melengkapi kekosongan.
Tahun pertama kita bersama, berada dekat dengan semangat yang sama untuk menyelesaikan pendidikan. Dan kemudian aku pertama yang meninggalkan mu dengan bertoga lebih dulu. Kata mu "ladies first", ya terimakasih atas kesopanan mu untuk mendahulukan ku. Tapi kemudian aku meminta mu untuk berjanji, menyusul ku tanpa memerlukan waktu yang lama. Kau menepati, dan selamat sebentar lagi akan ada toga yang kau kenakan. Aku senang, bahwasanya kau tak pernah mengingkari janji yang telah kau ucap, begitu seharusnya seorang lelaki. Dan semoga akan tetap selalu seperti itu.
Bujang ku tersayang, nikmatilah dunia mu sendiri yang mana belum sepenuhnya ada aku di dalamnya. Kau masih memiliki dunia mu, aku masih memiliki dunia ku. Sampai ketika mungkin Semesta akan setuju, menyediakan dunia baru untuk kita.
Aku akan bersabar menunggu waktu-- untuk dapat selalu menatap mata mu sebelum lelap, selalu mendengar bisik manis mu saat pagi menjelang dan menyediakan milo hangat untuk mu di dalam cangkir kesayangan di kala hujan. Banyak-banyaklah merajut doa untuk sebuah tujuan hidup bersama. Siapa tahu Tuhan setuju dan mengiyakan segala apa yang kita pinta.
Salam manis,
Gadis mu
Komentar
Posting Komentar