Postingan

Tersadar

Ada satu masa, di mana rasanya senang sekali menyalahkan diri sendiri. Menyakitinya hingga air mata tumpah. Padahal bukan aku yang salah, tapi tak mengapa, itu salah ku. Kemudian sampai di suatu waktu, ketika perasaan itu kembali datang. Perasaan di mana aku merasa tak bersalah, tapi tak mengapa itu salah ku, membuat isi pikiran ku terus mengulangi apa yang hati ku rasa. Bukan aku yang salah, tapi tak mengapa, itu salah ku. Lalu aku menarik napas lebih dalam. Menikmati tiap aliran oksigen yang berjalan menuju jantung dan paru-paru. Menutup mata ku rapat-rapat, sampai tiba kalimat itu terucap di bibir ku: "bukan salah ku. Aku tak melalukan apapun. Itu salah mereka, mereka yang melakukan, kesalahan ada pada mereka." Lega sekali rasanya. Isi pikiran ku bisa sama seperti kebanyakan orang. Aku tak lagi menghakimi diriku sendiri, saat ini aku bebas, saat ini tak lagi aku menyalahkan diri. Oh seperti inikah yang mereka maksud? Untuk sadar bahwa tak banyak hal yang bisa berjalan sesu...

Mengapa Takut?

Pertanyaan yang ku ajukan kepada diriku sendiri, aku mendapatkan jawabannya dari diriku sendiri, tapi aku tak merasa puas. Sebenarnya, rindu sekali rasanya ingin memiliki seseorang, lagi, di mana sedari pagi hingga pagi lagi ada alasan untuk tersenyum padahal hanya melihat namanya di layar handphone. Tak apa walau tak ada temu muka, asal suaranya pun bisa sering didengar. Tak apa saat pagi hingga sore sibuk bekerja, asal malamnya bisa bertukar cerita untuk jadi bahan tertawa bersama. Ingin sekali, tapi takut. Saat ini, diriku berada di masa mulai membutuhkan mu, tapi kamunya sedang nampak menjauh. Apa hanya perasaan ku saja?  Saat ini, aku sedang candu menerima kabar darimu, tapi kamunya seakan nampak mulai tak peduli. Apa hanya perasaan ku saja? Saat ini, berbagai hal ku lakukan untuk mendapatkan perhatian mu, tapi kamunya acuh tak acuh, seakan aku tak ada. Apa hanya perasaan ku saja? Gawat sekali ini, aku sudah mulai membawa perasaan. Padahal baru ku katakan kemarin untuk semua t...

Hal Yang Menakutkan

Apa yang menakutkan bagi ku, terlebih hatiku, saat ini? Jatuh cinta. Dua kata, satu makna, yang banyak orang bilang rasanya indah, tapi tak menurut hatiku. Bagiku, bagi hatiku, sulit sekali untuk meyakinkan bibir tuk berucap: ya aku jatuh cinta. Karena seketika, baru niatan saja yang diutarakan hatiku, isi kepala ku langsung membantah; bagaimana bila nanti patah hati, lagi? Kemudian ku urungkan niatku. Ku tutup rapat-rapat kembali bibir ku. Tak usahlah, bilang ku pada hati ku. Tak juga melulu bahagaimu darisana, orang lain hanya menjanjikan, tak banyak yang bisa menepati. Ada seseorang, yang menurutku mungkin ia menyimpan rasa padaku. Meski bagiku ini terlalu percaya diri, tapi aku yakin, paling tidak seperempat dari isi hatinya sudah ada namaku.  Ingin ku sambut sebagaimana mestinya. Dengan hati yang terbuka dan siap kapanpun menanggapi obrolannya. Tapi tak bisa, terlalu takut. Isi pikiran ku terlalu mengada-ada. Bagiku, kehadiranmu, tak akan lama. Bahkan jumlah jari tanganku bisa...

Menjadi Dewasa Itu Sulit

Halo! Apa kabar? Im back! Glad to be back here again. Lebih tepatnya aku kembali karena sudah sangat butuh lagi tempat untuk berbagi cerita. Lama tak bersua, karena seperti yang kalian tau, rasanya berat untuk datang lagi ke sini. Ke tempat di mana dulu inspirasi ku untuk menulis datang mengalir begitu saja bila hanya mengingat satu nama; seseorang yang tak lagi namanya ku sebut. Am i okay? Bin ich? Not at all. Hari ini, Kamis, 16 Desember 2021, setahun sejak aku kembali menjadi anak kos. Keputusan terhebat dan terkeran yang ku ambil di 2020. Siapa sangka? Bahwa yang ku butuhkan secara sederhana untuk punya kamar sendiri, akhirnya aku wujudkan. Kalau teringat kala itu, aku mengemasi barang-barangku yang tak seberapa banyak, dibantu oleh teman ku untuk memindahkan barang-barang itu dari rumah sampai ke tempat kos, kepergian yang tidak banyak menerima dukungan. Mereka pikir aku sombong, mereka pikir aku sok, mereka pikir aku tak bisa menghidupi diriku sendiri, tapi apa yang mereka saat i...

Sebelum 27!

10 tahun lalu Di atas jembatan penyebrangan, tempat orang berlalu-lalang Ada seorang manusia diam terpaku Di dalam kepalanya berisi dua suara beradu Satu sisi memintanya untuk bertahan, sisi yang lain memintanya untuk menyerah Sisi mana yang ia pilih? Tentu sisi yang membuatnya bisa menulis ini di malam ini, sebelum 27! Halo! Setahun berlalu. Datang lagi diri ini untuk mengisahkan apa yang sudah ku lalui setahun kemarin. Berat? Oh sudah pasti. Bukankah memang demikian bila menjalani hidup. Apakah akan menjadi mudah bila sudah mati? Ntahlah. Satu-satunya hal yang menurut ku mudah adalah ketika akhirnya aku bisa menjauhi segala bising yang bikin pusing. Aku menghadiahkan diri ku sendiri ruang tenang, ruang sendiri, ruang bahagia, untuk 27 ku. 2020 sungguhlah tahun yang berisi hal-hal tanpa perencanaan. Ku kisahkan dalam tulisan ini agar kelak ketika ku baca kembali, aku ingat. Seberapa tangguh telah ku jalani hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan di 2020. Sejak awal tahun,...

Sebelum 26!

Sebelum 23, ada Sebelum 24, skip Sebelum 25, skip Ntah mengapa bisa-bisanya dua tahun skip untuk menulis padahal rencananya ini mau dijadikan ritual untuk menulis sebelum hari lahir tiba. Ah, biar kita ingat-ingat sebentar apa yang terjadi di dua tahun belakangan itu.. 24 tahun, sepertinya saat berulang tahun baru saja putus cinta, eh iya ga sih? Kayaknya sih gitu. Gak tahulah juga, sudah lupa. 25 tahun, nah sepertinya ini nih di tahun ini kemarin sebelum ulang tahun juga putus cinta. Putus melulu kok ya? Ya gimana, usaha sudah tapi ternyata semesta tidak berkata iya, maka berpisah menjadi pilihannya. Sebelum 26? Apakah malam ini saya sedang merasakan patah hati? Putus cinta? Oh tentu saja tidak. Thanks, God. Yang baru saja terjadi hari ini, sepanjang hari tadi menghabiskan waktu untuk pergi ke bioskop, menonton sebuah film yang harusnya tidak ditonton sih tapi penasaran, jadilah tetap menontonnya. Oh sebentar, sebelum 26 ini bukan patah hati yang menghampiri, tapi sebuah pe...

Penasaran

Pernah ga punya rasa ingin tahu sebegitu besarnya pada seseorang? Naksir, mereka bilang. Ntahlah kenapa bisa, padahal hanya bertemu maya. Suka. Naksir. Kepo. Kepo. Kepo. Punya pacar tidak ya? Sudah menikah belum ya? Oh masih sendiri. Baguslah. Semakin jauh langkah dapat melaju. Tapi sebagai pribadi yang mudah sekali menjadi ilfeel dengan seseorang, biasanya aku teramat hati-hati dalam melangkah. Tidak terburu-buru tapi setiap hari pasti maju. Bagiku, untuk bisa naksir duluan itu seru, ketimbang harus dikejar-kejar oleh lelaki terobsesi tetapi hanya berakhir untuk jadi koleksi. Hiyeks. Kadang sebal sendiri, kadang kesal sendiri, kadang merasa aneh sendiri, mengapa bisa sebegitu penasarannya dengan seseorang yang bahkan nampaknya tak punya ketertarikan dengan orang yang sedang mengintainya? Apa masih pantas di usia ini menjadi pemuja rahasia? Oh tentu saja tidak, oleh sebab itu belum seratus persen hari ku berisi dia. Kadang bosan juga dan merasa semua tak ada artin...