Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Kini aku hanya bayangan, yang akan dilupakan.

Sebelumnya kita tak pernah saling mengenal; tak pernah mengetahui nama, dan tak pernah mengetahui bagaimana bunyi suara masing-masing dari kita. Tak pernah juga sebelumnya aku bermimpi bisa mengenal mu; tak pernah pula berdoa untuk dipertemukan dengan mu, dan tak pernah berharap untuk bisa melalui hari dengan mu. Bahwa sesungguhnya kamu pernah menjadi syukur yang tak henti aku panjatkan, kamu pernah menjadi pencipta dari segala tawa, dan kamu pun pernah menjadi sosok yang ada saat ku membuka hingga memejamkan mata. Tapi seketika yang sudah biasa menjadi tak biasa; tak biasa aku terlalu lama kau biarkan sendiri, tak biasa aku terlalu lama menunggu hanya untuk sekedar mendapat kabarmu, dan ini tak biasa, bukan seperti kamu saat pertama kita bertemu muka. Dan itu adalah awal aku menjadi sebuah bayangan..... Bersiap pergi dari hati mu meski dengan kaki yang berjinjit, mengunci rapat mulut ini agar tak ada isak tangis yang terdengar, menahan sekuat tenaga air mata yang ...

Selamat ulang tahun, Papah!

Pah, happy birthday. Wish you all the best! Hari ini adalah harinya bertambah umur, mungkin lebih tepatnya berkurang, itu yang ku tahu. Yang tak ku ketahui adalah sampai umur ke berapa Tuhan menyediakannya untuknya. Bahkan ia sendiri pun tak tahu. Andai aku tahu, tak kan pernah satu detik pun ku lewatkan tanpanya. Aku bersamanya saat pertama aku membuka mata, meski pertama kali yang ku kenal adalah mamahku. Tapi suara pertama yang melatunkan ayat suci di telinga ku adalah ia, pria yang sampai saat kini ku panggil dengan sebutan papah. Usianya tak lagi muda, aku tahu itu. Tapi parasnya masih terlihat muda. Beberapa orang-orang mengira ia pacarku saat aku dirangkul olehnya. Lucu? Iya. Itulah yang menjadi bahan untuk tawa kami saat kami bisa menghabiskan waktu bersama. Ia adalah sosok yang keras, tak mau mengalah, dan tak mau dibantah. Dan ia pula satu-satunya orang yang tak pernah menyakiti fisikku. Semarah apapun ia dengan ku, tangannya tak pernah melukai wajahku. Beruntungn...

Yang seperti ini, ntahlah namanya apa.

          Hallo, November! Lama gak nulis. Terimakasih untuk Oktober yang penuh kejutan, meski sedikit cinta. Tumben... Biasanya...Ya biasanya juga tak banyak cinta. Tapi gue selalu cinta padanya, Oktober.           Hallo, rasa 'yang seperti ini'! Selamat datang kembali! Yang seperti ini? Iya rasa yang diri sendiri aja juga gak ngerti harus apa dan harus gimana ngadepin rasa ini. Bisa dibilang bosen hidup. Bukan bosen narik oksigen buat napas, atau bosen ngedenger detak jantung. Tapi lebih bosen buat ngejalanin hidup yang akhir-akhir ini terkesan flat banget. Mungkin istilahnya hambar kalau dalam masakan. Bosen ngejalanin hidup yang gitu-gitu aja. Bosen ketemu orang yang sama. Bosen harus lihat dan ngelakuin hal yang sama setiap hari. Mungkin gue perlu liburan. Liburan yang jauh, biar bisa ngelakuin hal dan ketemu orang baru. Mungkin harus ke Sumatera buat ke Kiluan atau ke Bali buat ke Lovina yang disana banyak lumba-lumba buat jadi ...

Herzlichen Willkommen, Zwanzig!

"Dear ALLAH, Engkau Maha Baik, Maha Segalanya, terimakasih untuk semuanya. Kado terindah hari ini adalah doa-doa yang dikabulkan. Semoga segala yang baik jadi nyata. Aaamiiin." Mulai dari mana ya.......... Dari bisa dapet kesempatan buat dialog pagi sama Sang Pencipta, terlaksana sudah. Segala doa, keinginan, dan harapan sudah dipanjatkan. Tinggal nunggu semesta mengamini dan dikabulkan Sang Pencipta. Terus ucapan yang datang silih berganti, dari keluarga, teman-teman baik yang di dunia nyata maupun dunia maya. Segala doa yang juga mereka panjatkan semoga juga diaminkan semesta dan dikabulkan. Aaaamiiiin. Sampai gak tau apa yang mau diceritakan disini. Dibilang gak bahagia tapi kok ya bahagia, dibilang bahagia tapi kok ya sedih rasanya. Ah lagi-lagi sifat kurang bersyukur ini selalu saja datang. Harus terus diasah kemampuan bersyukur dimulai dari hal kecil. Aber, Gott sei dank! Hari ini indah :') .............. Terimakasih untuk segala ucapan,...

Sebelum 20....

Seperti biasa, di malam pergantian usia, gue suka yang namanya nge- flashback apa aja yang udah terjadi di sepanjang usia gue (sebelum berganti) kemarin. Mulai dari 7 Oktober 2012 sampai 6 Oktober 2013 ini. Dan ya, malam ini? Sebelum 20... Apa yang terjadi di sepanjang 19? Alhamdulillah ya Allah, 19 banyak banget perubahan dalam hidup, hal-hal yang gak pernah di duga, suka dan duka yang datang silih berganti, dan makin pendewasaan diri. 19? AMAZING! Mari kita mundur sebentar dari awal 19 hingga malam ini...... - 19; ulangtahun pertama yang dirayain bener-bener jauh dari keluarga. Tanpa ibu yang di Bantul dan tanpa papah yang di Jakarta. Iya 19 ini ulangtahun pertama yang dirayain di kosan. - 19; akhirnya kesampaian juga punya boneka bebek gede. Bebeknya dari Aspian, padahal waktu itu mintanya cuma becandaan, eh tapi jadi kenyataan. Makasih deh :p. Jadilah bebek itu penghuni di kasur gue sampai sekarang. Sebut aja Dunny :) -19; awal mula jadi anak kosan. Biasanya apa...

Kapan aku jatuh cinta? Oktober.

"Bila ada yang bertanya, 'kapan aku jatuh cinta?' jawabannya akan selalu: Oktober"           Aku berada diantara mereka. Berkat mereka, aku ada. Sebut saja wanita yang di telapak kakinya ada surgaku; September. Lalu pria yang selalu berusaha untuk kehidupan ku; November. Maka jadilah aku; Oktober. Oleh sebabnya, aku menjadi penyatu diantara mereka, oleh sebabnya aku menjadi kenangan yang tak akan mungkin dilupakan oleh si pria, meski si wanita telah berada di dunia yang mungkin kini jauh lebih indah. Dan oleh sebabnya aku selalu jatuh cinta pada bulan ini, karena aku hasil cinta mereka di bulan ini. ................ Teramat syukur ku haturkan pada-Nya; sebab karena-Nya yang merancang kelahiran ku di bulan ini, sebab karena-Nya di bulan ini aku pernah merasa beruntung karena pernah bersama lelaki teramat istimewa, sebab karena-Nya bulan ini indah, sebab karena-Nya aku tak pernah bisa melupakan segala kejadian yang indah yang terjadi di bulan in...

Terimakasih, atas kedatangan mu.

"Aku tak pernah melupakan mu. Berniat untuk melupakan saja aku tak pernah. Berbedanya dunia kita tak pernah mengurangi rasa sayang ku padamu." Pagi ini tak biasanya. Kemarin adalah hari pertama yang teramat berbeda di dalam hidupku. Kau, datang. Mungkin sudah terlalu banyak rindu yang tak terungkap, sudah terlalu banyak salah yang belum ku utarakan. Sampai tak ada hati, kau berkata seperti itu. Tak ada tatapan mata yang kita jalani, sebab hati ku tidak terlalu tangguh untuk melihat kau meneteskan air mata. Kau bilang kau merindukan ku, begitu pun aku.  Kau bilang kau menyanyangi ku, aku lebih menyanyangi mu. Kau bilang aku melupakan mu, berniat saja aku tak pernah. Kau menangis, menjatuhkan air mata mu di dalam raga yang berbeda, aku tak tega.  Jatuh pula air mata ku dan tak ada kata yang terucap. Hanya anggukan kepala yang mengisyaratkan aku mengiyakan semua kata mu. Maaf, mungkin aku terlalu sibuk. Terlalu asyik dengan kota rantau ku, hinggg...

Entah ini namanya apa.

"Andai melupakan semudah mencuci piring yang kotor lalu kotorannya hilang, pasti pikiran ku tak akan penuh dengan kenangan." Sudah hampir memakan waktu beberapa hari, seharusnya lukanya benar-benar sembuh dan tak akan pernah lagi terasa sakit bila disentuh. Tapi ini? Tersentuh sangat halus dengan kenangan pun perihnya bagaikan luka yang ditetesi oleh cuka. Entah ini namanya apa. Banyak yang berkata percuma aku seperti ini, padahal kau tak melakukan hal yang sama. Tapi aku tak perduli. Justru aku nikmati sakitnya, ditiap kenangan yang melintas menyentuh luka. Entah ini namanya apa. Merindukan mu harusnya bukan lagi menjadi tugasku. Sebab tak ada lagi ikatan diantara kita. Melupakan mu harusnya menjadi pekerjaan ku sekarang. Yang sudah ku tekuni, tapi terus saja tak berhasil. Entah ini namanya apa. Mungkin aku belum terbiasa. Sebelumnya aku terbiasa menunggu, menunggu kamu. Tapi kini? Rasanya ingin selalu memejamkan mata dan bermimpi bahwa aku masih menungg...

Bingung.

Sebelum posting ini ada satu lembar maya yang udah dicurhatin panjang-panjang tapi akhirnya saya close . Kemudian saya bingung dan jari-jari ini ntah mau ngetik apa lagi. Entahlah belakangan ini mood lagi gampang berubah-ubah kayak bunglon. Mau ngungkapin pake lisan tapi gengsi, mau cerita lewat tulisan malah bingung mau ngetiknya. Udah deh, yang ini gak usah dibaca. Gak penting juga. Yang penting aku masih sayang kamu, dan masih kangen. Udah gitu aja. Bye!

Habis semua disini.

"Seperti dihujani ribuan es, kemudian membeku, lalu hancur" Aku sulit bernapas. Rasanya bagaikan ada lubang hitam yang menelan secara utuh jantung dan paru-paru ku. Sudah ku coba membuka mulut ku lebar-lebar untuk membantu hidungku mendapatkan oksigen, tapi semuanya sia-sia. Sama dengan apa yang sudah ku lakukan, sia-sia. Aku tak pernah bersikap jahat kepada mu. Segala bentuk amarah dan kesal ku dengan mu, ku hapuskan dengan cuma-cuma, semata-mata hanya karena rasa sayang ku padamu. Tapi apa yang kamu lakukan? Mungkin kata 'jahat' saja tidak cukup untuk menggambarkan dirimu yang sekarang. Tak punya hati? Rasanya itu pantas ku ucapkan. Maaf , izinkan aku untuk menjahati mu kali ini dengan berkata "Kau tak punya hati." Tak ada pisau tajam yang menghujam jantungku, tak ada goresan luka di paru-paru ku, tapi mengapa rasanya begitu sulit untuk bernapas? Padahal bila ada alat yang bisa ku gunakan untuk melihat oksigen di sekitarku, akan ada lebih d...

Pagi ini, kamu.

"Belakangan ini terlalu sering melepas rindu dengan orang-orang tersayang hanya sekedar lewat mimpi. Seakan-akan enggan untuk bangun. Pagi ini, kamu" Itu adalah tweet pertama ku pagi ini. Memang akhir-akhir ini aku sudah mulai jarang untuk berkicau di sosial media itu. Waktu ku lebih sering ku pakai untuk baca novel, bercerita disini, dan untuk tidur. Tidur? Ya tentu saja. Seperti yang sudah ku katakan, belakangan ini aku terlalu sering melepas rindu dengan orang yang ku sayangi lewat mimpi. Jadi enggan untuk ku bangun, dan memutuskan untuk kembali tidur. Di dunia disana lebih menyenangkan dan menenangkan, untuk saat ini.           Pagi ini aku bermimpi tentang mu. Ntah ini kali keberapa aku memimpikan mu. Yang jelas ini bukan untuk yang pertama. Sejak pertengakaran kita, lalu perubahan sikap dingin mu kepada ku, sejak saat itu aku sering memikirikan mu. Ada yang bilang, ntah itu siapa, aku lupa. Ia berkata: "Biasanya kalo kamu sering mimpiin dia, seb...

Mah, dimana sih?

          Hey, Mah! Apa kabar? Ini puasa entah kali berapa gak sahur bareng mamah. Sekarang tau kan aku sahur dimana dan sama siapa? Iya di kosan dan sendirian. Hebat kan anak mu sekarang? Lebih dari sekedar mandiri hehehehe.           Tadi mamah kemana? Kita sempat (hampir) bertemu meskipun hanya dalam mimpi. Ya semenjak mamah pergi duluan untuk tinggal di langit sana, pertemuan kita hanya sebatas dunia mimpi. Tak apa, kalau lewat itu bisa melepaskan rasa rindu yang kita punya. Tapi, tidak untuk kali ini. Belum sempat kita bertemu, alarm ku sudah berbunyi. Sepagi ini aku benci banget dengan bunyi alarm itu. Kalau saja alarm itu bisa lebih bersabar dan menunda untuk berbunyi, mungkin akan ada sebuah pelukan yang mamah kasih buat aku. Ntah harus dengan kata apa harus ku ceritakan kalau aku kangen sama mamah.           Aku, mamah, papah, dan rumah kita. Iya mimpi ku tadi seakan-akan menjelaskan secara sempurna ...

Sekali-kali, tak apa kan?

"Perempuan kadang hidup di dalam pikirannya sendiri, yang ia buat, yang ia ciptakan, dan ia pula yang tidak tahu kebenaran akan pikirannya tersebut. Ya itu kami, perempuan." Pikiran buruk mu mana yang tak pernah menggangu? Ragu? Cemburu? Mana diantara itu yang selalu mengganggu? Ku rasa keduanya. Bersaing dalam pikiran, saling menguatkan dugaan, tanpa pernah tau soal kebenaran. Aku, ragu. Bukan ragu akan cinta mu padaku. Bukan juga ragu bahwa kau sayang atau tidak pada ku. Bagiku tak ada waktu untuk meragukan itu semua. Sebab bilanya kau tak cinta dan sayang padaku, tak mungkin kini kau jadi milikku. Tapi aku ragu pada hatiku sendiri, yang sulit percaya bahwa kau telah lepas dari masa lalu mu. Sudahkah bisa sepenuhnya kau pergi dari masa lalu mu? Sudahkah bisa semampunya kamu berjalan tanpa pernah melihat lagi ke belakang? Sudahkah bisa seutuhnya kamu menerima ku tanpa pernah membandingkan ku dengan yang ada di masa lalu mu? Sudahkah? Bisakah? Itu yang ku ragukan...

Ramadhan di (hampir) 20.

Sebelumnya, mari kita (iya aku dan kamu yang baca) flashback ke beberapa tahun silam~ Dari kecil - 17 tahun Iya, dari kecil. Hm lupa sih umur berapa, kira-kira TK. Gue udah mulai coba-coba puasa dari TK. Tapi taulah gimana puasanya anak TK..... Gak makan, tapi tetep minum dan jajan, gitu kira-kira. Masih dimaklumin kalau umur-umur anak TK mah. Kalau sekarang masih begitu? Ya malu aja sih sama kumis dan jenggot yang udah lebat~. Berhubung gue menderita mag akut dari kecil, jadi dokter menyarankan untuk berpuasa secara bertahap. Waktu itu puasa gue masih didampingin almarhumah mamah Anidah. Jadilah beliau guru gue dalam berpuasa. Papah juga sih, cuman kan tiap hari papah kerja, jadi lebih sering ketemu mamah :). Jadi mulai lah gue mencoba berpuasa bersungguh-sungguh saat hm mungkin SD (gak begitu inget waktu pastinya, maklum namanya juga manusia, sering lupa). Dicoba-coba puasa, tapi ternyata gak kuat, jadilah gue puasa cuma sampe jam 9. Lalu bertahap jadi mulai terbiasa, dan bat...

Setelah itu

          Sebelumnya, aku pernah bersama dengan seseorang dalam kurun waktu yang cukup lama. Kita (ya dulu kata itu masih bisa mengawakili aku dan dia) tak pernah sehari pun tak menghabiskan waktu untuk tertawa bersama, tak pernah sedetik pun tak saling bertukar kabar, tak pernah semenit pun tak mendengar suara walaupun hanya lewat sebuah alat komunikasi. Aku dan dia, bagaikan tak akan pernah terpisahkan sekalipun kami tak hidup dalam raga yang sama. Sampai akhirnya semua usai begitu saja. Bagai debu yang ditiup angin yang berhembus, semua hilang tanpa bekas seperti tanpa pernah terjadi apa-apa.                                   Cinta? Aku mulai apatis dengannya.          Butuh waktu, bukan hanya itu. Aku juga harus bisa bersahabat dengan keadaan. Keadaan dimana segalanya sudah nampak berbeda. Hampir 365 hari aku tak bersama siapapun. Banyak yang s...

Untuk kali ini, jangan lagi

Aku pernah, bersama untuk waktu yang lama, lalu berpisah Untuk kali ini, jangan lagi.. Aku pernah, nyaman berada daalam satu pelukan, akhirnya dilepaskan Untuk kali ini, jangan lagi.. Aku pernah, bermanja-manja dalam tawa, berakhir dalam tangisan Untuk kali ini, jangan lagi... Aku pernah, berdoa agar bisa selalu bersama, tapi tak dikabulkan Untuk kali ini, tolong kabulkan........ Tak mudah berpisah dari seseorang yang telah bersama dalam ribuan hari Tak mudah memulai dari awal kembali perkenalan yang teramat asing Tak mudah melepaskan pelukan yang padahal disana sudah teramat nyaman Tak mudah menggenggam jemari yang baru yang hangatnya tak lagi sama Tapi itu semua telah ku lalui.... Bersamanya ku mulai lagi, untuk menjalani ribuan hari Bersamanya ku mulai perkenalan ku, yang tanpa langsung bertatap muka Bersamanya ku mulai menyamankan diri, dalam pelukannya Bersamanya kini jemari ku terisi, tak lagi ada ruang kosong yang dingin. Untuk kali...

Jakarta tak lagi sama (?)

          Dimulai dari abang gondrong yang dulu berjualan kue pukis keliling, sekarang jualan cakwe. Lalu siomay bandung yang hampir tiap hari lewat depan rumah, dulu bentuk siomaynya kotak tidak rata, sekarang bulat sempurna. Jakarta tak lagi sama. Banyak yang berubah yang sebenarnya tak berubah. Abang gondrong yang kini berjualan cakwe padahal dulu jualan pukis, sebenarnya tak berubah, toh ia masih tetap mencari uang dengan berjualan makanan. Bentuk siomay, yang dulu kotak gak jelas dan sekarang bulat sempurna, hanya bentuknya saja yang berubah, rasanya tetap sama, masih enak. Beberapa hal memang nampaknya saja berubah tapi sebenarnya, tidak. ...................................................           Lalu bagaimana dengan kehidupan seorang gadis di ibu kota ini? Hampir setengah tahun kakinya tak menginjak ke tanah basah Jakarta, dan ketika ia pulang, semuanya berubah. Tak ada lagi rumah tempat kemana ia harus pulang. Kini ...

Kalau kamu perempuan dan anak pertama.... Kita Sama!

"Nambah adik 1 lagi. Tadinya punya adik cuma 1, tapi sekarang jadi 4. Papah sama ibu umurnya makin tua, sayang aja sih kalau gak bisa jadi anak dan kakak yang baik....." Kira-kira kayak gitu lah tweet yang gue post di twitter gue. Ya tiba-tiba kepikiran aja, sejak lahirnya little Dara 18 mei kemarin, adik gue nambah satu. Jadi ya................... ..............................................................           Sebelumnya saya anak pertama, sampai ketika usia saya 4 tahun, lahirlah seorang anak laki-laki dari rahim mama Anida, ya itu awal mula saya jadi kakak. Perhatian mama saya mulai terbagi, tidak sepenuhnya untuk saya lagi seperti sebelum saya punya adik. Tidak cuma perhatian mama, perhatian papa saya pun mulai terbagi. Tapi tidak masalah bagi saya, sebab kini saya punya teman bermain, setidaknya tidak kesepian di rumah. Lalu kami sama-sama tumbuh besar, sampai akhirnya ketika saya kelas 4 SD, mama memberitahukan bahwa beliau hami...

Selamat Datang, Kamu!

"Aku pernah jatuh, bukan hanya sekali, mungkin ribuan kali. Jatuh ke seseorang yang mungkin belum tepat, karena ternyata aku jatuh sendiri, tidak dengannya. Tapi kini, aku jatuh kembali. Kini aku jatuh tidak sendiri, bersamanya, aku jatuh cinta." Waktu ku berubah. Tetap berputar seperti sediakala. Tetap berjalan 24 jam setiap harinya. Lalu apanya yang berubah? Jalan cerita di dalam waktunya. Biasanya hanya aku yang membuat cerita dalam setiap waktu ku, tapi kini ada kamu, yang dimana bersamamu banyak cerita yang bisa ku buat dalam waktu ku. Hari ku berubah. Tetap senin hingga minggu. Tetap 7 hari dalam seminggu. Lalu apanya yang berubah? Warnanya. Warna dalam hari ku yang berubah. Aku percaya dan aku yakin pelangi hanya memiliki 7 warna, sebab dengan mata ini aku pernah melihatnya. Aku percaya dan aku yakin hari ku akan terus berwarna, sebab ada kamu di dalamnya yang mewarnainya dengan segala senyum dan tawamu. Seakan aku tak percaya bahwa sesekali kaki ini men...

Aku takut membuat mu jatuh cinta

Hai kamu nya aku! Jadi gini, aku pernah jatuh cinta, bukan hanya sekali, bukan juga berkali-kali. Tapi sesekali. Sesekali aku jatuh pada seseorang yang sekiranya bisa membuat aku nyaman berada di belakangnya, di sampingnya, atau pun di depan matanya. Menatap matanya? Tidak. Aku tak berani. Terlalu lemah dan bahkan tak berdaya bila bertatapan dengan matanya, sebab cinta bisa dimulai dari sana. Kamu pernah jatuh cinta? Rasanya? Bahagia? Ah, sudah sering dengar yang seperti itu dari mereka di luar sana. Memang bahagia, tapi tak semuanya. Ada bagian tertentu dari jatuh cinta yang juga buat merana. Bagian mana? Rindu. Rindu terhalang waktu yang tak bisa bertemu. Lalu? Cemburu? Bisa jadi. Sebab cemburu bila ternyata banyak kaum ku yang dekat juga dengan dirimu. Tapi tenang, bila kamu cintanya padaku? Kamu tak akan kemana-mana. Sebentar, sebelumnya ada pertanyaan yang harus kamu cari tau dulu jawabannya. Hanya satu sih, kamu yakin dengan ku? Aku tak serta-merta selalu baik seperti...

Pura-Pura

Pura-pura saja kau berjalan sendiri tanpa perlu menyadari bahwa ada bayangmu di belakang Pura-pura saja kau tak pernah tau masa lalu mu meski itu terus bersemayam dalam pikiranmu Pura-pura saja kau tak ingin tau padahal senantiasa ego mu mendesak untuk cari tau Pura-pura saja kau menulis kepura-puraan ini untuk menutupi segala pura-puramu Pernah merasa seakan-akan kau mati rasa? Pernah merindu meski tak tau siapa yang rindu itu tuju? Pernah kesepian padahal kau berada di tengah keramaian? Pernah sulit menjawab segala pertanyaan yang memang tak kau punyai jawabannya? Jangan pernah merasa butuh untuk tau lebih jauh soal hidup orang lain Cobalah ketahui dulu seperti apa hidupmu Pura-puralah tau bilanya hidup mu selalu bahagia Meski sering diselingi air mata Siapa yang bertanggung jawab atas segala duka yang tercipta? Siapa yang tak mau bilanya suka selalu ada? Siapa yang tak mau dicinta? Siapa yang mau berpura-pura kalau tak pernah merasa akan hal yang sama? Pura-pural...

Sejauh Mata Memandang, Bayangmu Tetap Bertahan

Aku pernah merasa, bahwa aku pernah ada dihati mu Aku pernah merasa, bahwa rasaku sama dengan rasamu Aku pernah merasa, bahwa ragaku tak bisa jauh dengan ragamu Aku pernah merasa, bahwa segala yang ku rasa ternyata hanya ada dalam mimpi tidurku Aku pernah melihatmu, tepat didepan mataku Aku pernah memelukmu, tepat dimana jantung kita berirama secara bersama Aku pernah menciummu, merasakan lembut bibirmu mendarat di pipiku Aku pernah menangis, menjatuhkan air mata karena tersadar itu semua hanya tinggal kenangan Aku pernah ingin hidup lebih dari ribuan tahun, karena kamu selalu ada disisiku Aku pernah ingin sehari lebih dari 24 jam agar tak ada hari yang bisa pisahkan kita Aku pernah ingin menikah dengan mu, membangun sebuah atap yang sama tanpa pernah pergi dari dalamnya Aku pernah merasa sulit bernapas, karena tersadar bahawa itu semua hanya inginku, bukan inginmu Aku melihat bayangmu, bergandeng tangan dengan bayangku Aku melihat bayangmu, hitam pekat ...

Malam Dibawah Atap Yang Sama

Gambar
          Bukan, ini bukan bagian dari surat cinta. Bikin surat cintanya udah selesai. Cintanya sudah terkirim kemana-mana ya meski belum ada balasan, mungkin ada yang balas, tapi salah alamat kali ya #uhuk. Jadi gini, ada yang tau standup comedy? Kalo yang tau pasti banyak lah, kalo gak tau, ya silahkan kunjungi om google , masukan keyword "standup comedy" dan kalian akan dapatkan jawaban disana. Jangan tanya saya, bukan bidang saya buat jelas-menjelaskan, gak enak ah masa ngambil lahan kerjanya om google :|. Di tempat saya menimba ilmu dan menjunjung tinggi nilai sebagai mahasiswi, ada komunitas ini. Sebelumnya tau kan saya kuliah dimana? Gak tau? Yauda coba baca ini;  UNY Kampusku  (tanpa harus dibaca, dari judulnya aja udah ketauan kok-_-). Iya, UNY, Universitas Negeri Yomblo, nggg... maaf kebawa curhat, maksudnya Universitas Negeri Yogyakarta. Nah, baru hari juma't kemarin (1 Maret 2013), @standupUNY  baru aja menjalankan ritual, nggg.....