Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Menangislah : saat ini butuh.

Saya butuh bercerita, tapi mulut terlalu malas untuk berkata, jadi biarlah saya menumpahkan segalanya disini. Mungkin saya adalah satu-satunya makhluk yang tak pernah bisa untuk ikhlas. Itu adalah hal paling tersulit sekalipun soal matematika aljabar. Saya tak benar-benar bisa berkata "Yasudahlah, tak apa", selalu saja "Kenapa harus begini? Kenapa gak begitu? Tak bisakah begini?" selalu saja seperti itu. Sebab mengikhlaskan sebuah kepergian adalah hal yang sulit saya lakukan mungkin sampai di ujung nafas saya nanti. Kenapa mereka harus memutuskan bersama bila pada diri mereka berdua tak ditemui kecocokan? Kenapa mereka selalu saja berdiri pada prinsip hidup mereka masing-masing? Tak bisakah salah satu dari mereka mengalah? Apakah mengalah lebih sulit dari mengikhlaskan? Lalu kenapa mereka bersama? Apa karena mereka saling cinta? Lalu kenapa.... terlalu banyak kenapa di semua bagian otak ini hingga tak tau mana dulu yang harus dicari jawabannya. Pertanyaan yan...

Kalau cinta, boleh ragu?

"Ketika kamu sudah yakin untuk hidup bersama dengan seseorang yang kamu cintai dan kasihi, ia adalah sebenar-benarnya sosok yang akan selalu ada bersama di sepanjang hidupmu. Tapi bila satu waktu dari kebersamaan itu muncul keraguan, apakah cinta boleh ragu?" Segala yang berhubungan dengan hati selalu saja perasaan yang digunakan. Tak bisakah barang sesaat menggunkan akal? Sebab masalah hati tak melulu harus dirasa, sesekali perlu dipikir dengan logika, dengan akal, dengan kepala yang dingin tanpa ada rasa panas dari emosi yang ada. Hal yang paling sulit dalam hidup mungkin 'memutuskan'. Bila banyak pilihan yang tersedia, tak bisa memilih kesemuanya, sebab hanya manusia serakah yang menginginkan kesemuanya. Manusia bijak harus dapat memilih, harus dapat memutuskan mana sekiranya yang terbaik dari yang baik. Apabila pilihannya salah, tak mengapa. Setidaknya ia telah mencoba memutuskan, untuk hidupnya. Tapi berapa kali manusia melakukan kesalahan dalam ha...

Menjadi tua dan dewasa itu menyebalkan

Ketika saya sedang jenuh dan bosan dengan kehidupan yang sedang saya jalani, dan ketika itu pula saya tak tau apa yang harus saya lakukan, saya memilih untuk menangis dan mencurahkan segala apa yang sedang ingin saya ungkapkan dalam tulisan. Biasanya, setelah itu saya akan sedikit merasa tenang. Dan di kemudian hari akan ada senyum kecil saat saya membaca lagi tulisan yang telah saya buat. Di usia ke 21 ini. Menjadi tua dan mengharuskan diri untuk menjadi dewasa itu menyebalkan. Kita sering kali dituntut untuk bisa menyelesaikan semuanya dengan baik dan benar di usia yang tua ini. Pendidikan, pertemanan, cinta, semuanya harus dijalankan dengan baik dan benar. Adakah pernah dalam hidupmu merasa jenuh menjalani itu semua? Tahukah kamu kemana harus kamu keluarkan segala unek-unek di hati saat perasaan seperti itu datang? Mulai menjalani hidup sendiri saya jalankan sejak kepergian almarhumah mamah. Hidup sendiri yang tak benar-benar sendiri, sebab kala itu masih ada beberapa keluarga y...

Wanita dari Samarinda

Gambar
Inilah yang pertama menyenangkan saat bertambah angka 1 di belakang umurku setelah 20. Pertama-tama.... Aku bingung. Ntah apa yang harus ku kenakan. Baju apa? Celana apa? Kerudung apa? Sepatu? Bahkan aku tak tahu mana yang harus duluan ku lakukan, mandi atau sarapan? Seketika pagi itu menjadi sangat hectic padahal tak ada tugas yang harus ku kerjakan dan tak ada kuliah yang harus ku jalani. Yang ada hanyalah pertemuan pertama ku dengan wanita dari Samarinda. Kemudian aku mengatur rencana dengan lelaki ku. Harus naik apa, nantinya bertemu dimana dan segala macam lainnya. Semua diatur sedemikian rupa, sedemikian sempurna agar meniggalkan sisi baik di awal perjumpaan ini. Pertemuan pertama? Alhamdulillah. Indah dan dipenuhi dengan ribu senyuman. Pertama kali ku jabat tangannya, melihat langsung senyumnya, perlahan irama detak jantungku mulai kembali normal. Awalnya ritme jantung ini seperti sedang berlari kencang mengitari stadion bola, tapi lambat laun ritmenya mulai turun, s...

Sebelum 21........

6 Oktober 2014. Selamat ulangtahun uda saya tercinta, uda Omi. Satu-satunya uda yang ulangtahunnya pasti gue inget. Iyalah orang satu hari sebelum ulangtahun gue x)). Segala yang terbaik buat uda Omi. Amu sayang Udaaa {} Oke. Seperti biasa, sebelum menyambut usia baru, gue suka banget flashback apa aja yang udah terjadi di umur 20 tahun gue belakangan kemarin. Pastinya banyak banget hal-hal yang gak pernah maupun pernah gue pikirkan terjadi di hidup gue. Dari mulai suka sampai duka semuanya ada. Ya karena suka dan duka itu kan jalannya barengan ya. Hidup harus seimbang, gak boleh kebanyakan suka dan jangan sampai juga kebanyakan duka :)) 20 tahun...... -20; Satu bulan tepat setelah umur gue genap 20tahun, Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyanyang rupanya baca blog gue kali ya, dipertemukannya gue dengan seseorang lelaki via twitter. Oke ini kedua kalinya gue kenalan via twitter sama cowok. Ini di bulan November, Perkenalan pun dimulai dari dia yang nge-RT sebuah tweet gue yan...

Sebelum Benar-Benar Pagi

Tak pernah tahu jam berapa yang benar-benar menyatakan bahwa sudah pagi Tak pernah tentu jam berapa tepatnya Sang Maha Hangat menguasai langit angkasa Tak pernah mengerti mengapa harus ada "Selamat" di tiap pagi Dan tak pernah ku bayangkan sebelumnya bahwa aku sudah pernah beberapa kali bahagia, bahkan sebelum benar-benar pagi. Kicauan burung yang banyak orang dengar saat pagi pun tak ada ku dengar, berarti benar kalau waktu yang ku alami itu sebelum benar-benar pagi. Udara yang ku rasakan saat itu pun tak hangat, itu pertanda bahwa belum ada Sang Maha Hangat. Lalu apa yang menguasai langit angkasa? Bulan? Ya. Tapi tak kuning seperti sinarnya saat gelap, melainkan putih, bagaikan kapas yang tergantung tanpa tali di angkasa. Dari sana banyak pikir dan tanya ku yang belum ku tahu apa jawabnya. Salah satunya adalah; Apakah akan banyak bahagia 'sebelum benar-benar pagi' lainnya yang akan ku lewati bersama mu? Itulah yang sampai sudah hampir pagi aku mengetikan ini ...

Tekadang keputusan-Nya membingungkan.

Bukan aku yang menginginkan untuk berkenalan dengan dia. Bukan aku yang berkenaan untuk bisa bersama dia hingga sekarang. Tapi aku, yang dulu berdoa agar bisa dipertemukan dengan apa yang aku minta, kemudian dikabulkan. Tapi kadang aku bingung dan tak paham atas keputusan-Nya. Sering kali aku jengkel dan tak jarang aku rindu dengan dia, doa ku yang dikabulkan. Tingkahnya kadang buat amarah ku meninggi, kadang juga tingkahnya buat tawa ku pecah. Aku bingung, kenapa kini aku harus bersama orang yang seperti itu, padahal yang seperti itu tak pernah ku minta. Oh aku baru ingat, aku minta yang baik-baiknya saja. Aku lupa bahwa tak pernah ada satupun manusia yang hanya baik, pasti ada buruk juga dalam dirinya. Dari sekian hari yang ku jalani bersama dia, tak penuh semuanya dijalani dengan tawa. Ada beberapa dengan kesunyian, dengan amarah. dan ada pun yang dengan air mata, Kadang aku bingung pun heran, kenapa harus dipersatukan dua orang yang tak bisa selalu saling bahagia? Tapi...

Jangan Diam.

Semua tentang mu, aku mengerti. Tapi ada satu darimu yang tak ku pahami, diam mu. Ayolah sayang, jangan begitu. Tuhan menciptakan mulut, lidah, gusi dan gigi serta pita suara untuk berkolaborasi agar dapat berkata. Utarakan lah apa yang kamu rasa, jangan sembunyi dalam diam mu, sebab tak tahu aku harus menggunakan kamus apa agar bisa mengerti diam mu itu. Bila ternyata aku ini yang tak mencapai kata sempurna berbuat salah, maka katakanlah. Jelaskanlah bagian mana dan apa yang salah dari diriku. Namun bila bagimu sulit untuk mengutarakannya secara langsung, tuliskanlah. Sebab tulisan dapat menyampaikan apa-apa yang sulit tersampaikan oleh lisan. Aku akan membacanya dengan teliti, membacanya berulang kali, agar tak lagi diri ini melakukan salah yang sama kembali. Sayang, janganlah diam. Aku tak suka dirimu yang diam. Aku suka kamu yang banyak berkata. Aku suka kamu dengan ribuan kelakuan mu yang tak pernah ku duga. Aku suka gelak tawa mu yang ceria. Aku suka semua tentang mu kec...

Surat Untuk Mantan

Ini yang pertama dan yang terakhir. Bacalah, agar kamu tahu bagaimana aku setelah tanpa mu. Awalnya, mungkin memang kita terlalu menyingkat waktu. Terburu-buru dalam hal meresmikan aku dan kamu yang menjadi kita. Tapi tak masalah, karena benar adanya ku lihat di kedua mata mu sebuah rasa yang lebih dari hanya sekedar menjadi teman. Sekiranya hatiku belum sepenuhnya siap untuk dihuni, tapi ku beranikan diri, berkata ‘iya’ dalam segala pertanyaan yang kau sampaikan lewat bait teks yang berujung atas kepemilikan diriku untuk mu. Ya, setelah itu aku milik mu. Hari demi hari tak ada yang aneh, sampai akhirnya saat akan menuju hari ke-90 semuanya usai. Ya, selesai. Sudah tak ku miliki lagi dirimu pun tak lagi kamu memiliki aku. Apa yang salah? Mungkin sebuah bait teks yang ku kirimkan untukmu menjadi pertimbangan mu untuk meninggalkan ku. Ah, lupa sudah aku mengetikan apa saat itu. Tak ingat sedikitpun, sebab telah bertekad sejak kamu pergi, untuk melupakan semua tentangmu kec...

Singkat saja.

Tuhan...... Aku ingin sama dia terus. Karena dia terus buat aku tertawa Karena dia terus ada, waktu ku butuhkan. Karena dia tenangkan aku dalam segala kondisi. Karena dia yang memimpin ku dalam sujud. Bila tak bertemu, membayangkan tingkahnya pun aku bisa tertawa. Bila tak bertemu, membaca tiap pesan yang masuk ke telepon genggam ku pun bisa merekah senyumku. Bila tak bertemu, mengingat kembali semua hal yang tlah ku lalui bersamanya pun aku jadi malu. Bila tak bertemu, mendengar suaranya pun tumbuh bahagiaku. Karena itu, aku mau sama dia terus, Tuhan. Cintaku padanya tak kan melebihi cinta ku pada-Mu, Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyanyang. Semoga kali ini Kau dan aku sepakat, bahwa dia adalah yang terakhir dan akan jadi selamanya. Singkat saja, Aku mencintainya karna hati dalam tubuhku yang tlah Kau berikan, Tuhan. Singkat saja, Syukur ku atasnya tak akan pernah usai, sebab kini bertambah lagi anugerah dalam hidupku. Aamiin.

Berantakan!

Sudah lama tak seperti ini, sudah lupa bahkan bagaimana rasanya, lalu terjadi lagi. Kalut sekalut-kalutnya tanpa pernah mengerti akar masalahnya bisa seperti ini itu apa. Baru kemarin lupa kapan terakhir kali menumpahkan air mata, dan kemudian hari ini habis-sehabis-habisnya air mata itu tumpah. Ntah karena apa. Ingin saja rasanya mengeluarkan semua yang tertahan.  Harusnya yang seperti ini tak pernah terulang lagi, harusnya kini sudah pandai bahkan sudah harus sangat pandai mengatur emosi, tapi lagi dan lagi gagal. Banyak pihak mungkin yang tak paham atau malah membenci aku yang seperti ini.  Tak tau kemana harus bercerita kalau sudah seperti ini. Rasa-rasanya pun percuma, karna diri sendiri pun tak mengerti apa yang harus diceritakan. Kalau pun ada orang yang mengerti, tapi dia sudah diharamkan untuk ku hubungi sekarang. Berharap penuh sama kamu yang bisa menetralkan semua, tapi apa? Malah semakin membuat buruk semuanya. Ah tidak juga, mungkin aku saja yang t...

2 Untuk 2: Kita.

Gambar
Yogyakarta, 2 Maret 2014 Hari ini adalah hari terakhir dari surat-surat cinta ku selama 30 hari. Hari ini pula adalah hari ke 59 yang sudah ku jalani bersama mu, sebenarnya lebih dari itu. Sebab tak cukup rasanya 24 jam dalam sehari waktu ku untuk mu. Banyaknya surat yang sudah ku tulis, seringnya aku menyisikan waktu untuk berenang dalam aksara, itu semua karna kamu. Sebab dari 1 hingga 30 hampir keseluruhan kamu lah penyebab adanya tulisan itu. Meski beberapa ku utarakan untuk mereka di luaran sana, tapi percayalah selalu ada kamu dalam sela pikiran ku. Aku tak tahu dan tak ingin pula untuk tahu apa kamu baca tiap rangkaian kata ku atau tidak. Yang ku tahu dan selalu ku tahu adalah bahwa kamu telah menyayangi ku selama 59 hari ini. Sepatutnya sudah ku balas itu semua dengan rasa sayang yang ku punya untuk mu. Maka jadilah kita, dua insan yang sedang menyayangi dan semoga akan selalu seperti itu. Dica, Aku tak pernah bermimpi dan tak pernah ada dalam pikiran...

Yang Tak Terkirim III

Yogyakarta, 1 Maret 2014. Hampir akhir yang lagi lagi terlewat, Tak apalah.

Dan Hati Yang Bercerita.

Yogyakarta, 27 Februari 2014 Apa kabar hati? Nampaknya sedang bahagia. Apakah benar? Kalau memang iya benar, apa yang membuatmu bahagia? Dia? Dia? Dan dia? Oh benarkah? Selalu saja karna dia kau bisa bahagia? Sempurna. Coba jabarkan, apa yang sudah dia lakukan hingga kau bahagia (hati) Dia. Sosok yang sebelumnya tak pernah hadir dalam hidupku. Jangankan untuk hadir, membayangkan kedatangannya pun aku tak pernah. Tapi sekalinya ia hadir, aku bahagia. Dia. Lelaki yang memiliki tubuh yang hangat. Entahlah. Bentuknya sama seperti kebanyakan lelaki di luar sana. Tapi dalam dekapnya, aku bahagia. Dia. Tak memiliki jiwa humor cukup tinggi layaknya para pelawak di televisi. Tak juga sering pun menceritakan kepada ku hal yang lucu. Tapi tingkahnya mampu pecahkan tawa ku, aku bahagia. Dia. Tiap hari yang ku lalui bersama, selalu ada cerita baru. Tiap tempat yang kami kunjungi bersama, selalu ada kenangan yang kami tinggalkan disitu. Ti...

Surat Terjauh.

Yogyakarta, 26 Februari 2014 "A ku mengulurkan tangan kananku padamu untuk kau jabat. Ya… aku ingin kita berjabat tangan, sebagai teman. Sebagai dua orang yang saling kenal." Tak ingin ku sambut uluran tanganmu, sebab kita sesama hawa. Mendekatlah, seakan raga kita berada dalam tempat yang sama, kemudian ku dekap. Sebab dekapan lebih hangat kekuatannya bila dibandingkan uluran tangan. Dan kini kita sudah saling mengenal, walau tak pernah menatap mata secara langsung, tak pernah saling mendengar tawa yang kita punya, tapi kita tetap di bawah langit yang sama. Terimakasih atas bait kata yang telah kamu rangkai untuk ku yang kini telah menjadi lantunan kalimat indah  dalam blog mu. Ah, siapalah aku ini yang kamu kagumi tulisannya. Tak pantas. Tulisan ku tak seberapa dibanding balas-balasan surat mu dengan lelaki mu. Iri, lelaki ku selalu berkata tak bisa bila ku ajak ia untuk berenang dalam lautan kata. Iya, adam ku berbeda dengan punya mu yang selalu berani t...

Satu Dari Tiga Puluh Nanti.

Yogyakarta, 25 Februari 2014 Satu dari tiga puluh. Ntahlah, mungkin aku tak seindah langit jingga dalam menuturkan kata disini. Tapi aku tak pernah lupa karna aku bukan pelupa untuk memejamkan mata dan membuka hati lebar-lebar saat akan berenang dalam ribuan kata. Awal rencana kita akan beradu kata dalam balas-membalas surat pun aku urungkan. Sebab aku tahu, telah ada disana, di langit jingga, sosok yang tak pernah ku lihat tatap matanya tapi ku tahu mungkin menyimpan sejuta cinta untuk mu. Ya, mungkin. Sebab aku tak benar-benar bisa menerka apa yang belum menjadi nyata. Aku hanya manusia biasa, menebak, kemudian bisa jadi salah, karna semesta tak mau jadi kawan ku, jadi ia membuat keputusannya sendiri. Maka, sesekali aku menjadi pembaca. Meneliti tiap bait kata yang kau dan dia utarakan. Terselip ribuan senyum dalam kalimat-kalimat indah itu. Aku tahu, kalian menulisnya tanpa berpikir, hanya merasa. Indah, sesuai dengan keberadaannya di langit jingga. Tapi i...

Lampu Merah-Hijaunya Orang Jawa. (Bangjo)

Yogyakarta, 24 Februari 2014 Surat ke 24! Bang, Jo. Selamat ulangtahun. Semoga panjang umur. Sehat selalu. Sukses dalam segala hal. Dan semoga segala doa yang terpanjatkan untuk mu senantiasa diaminkan oleh semesta, hingga dikabulkan oleh-Nya. Ini surat cinte ku ke-24, tapi ntahlah apa itu setara dengan usia mu kini atau tidak. Sebab sejatinya manusia tak pernah benar-benar tahu akan nominal usianya. Yang hanya manusia tahu adalah bersenang-senang selagi jantungnya masih bisa bekerja. Apa yang spesial di hari ke 24 bulan 2 ini? Kado istimewa? Ucapan manis dari dia (yang ntahlah siapa)? Atau segala bentuk doa yang dikirimkan orang-orang yang mengasihi mu? Apapun lah itu, tak berhak juga aku untuk tahu. Sebab siapalah aku, hanya gadis yang belum lewat usianya dari 20 tahun, yang suka jajan di warung burjo. Apa yang membuat mu bahagia di hari ke 24 bulan 2 ini? Ah tak mau lagi menerka-nerka, sebab pasti lagi dan lagi terkaan ku tak ada yang tepat. Ya a...

Dan begitulah seharusnya.

Yogyakarta, 23 Februari "Biarkan aku melukiskan bayangmu, karna semua mungkin akan sirna." Demi kamu, yang ada di pagi ku. Demi senyum mu, yang memulai hari ku. Demi suaramu, yang bangkitkan semangatku. Demi hatimu, yang kini bersemayam di hati ku. Perlahan tapi pasti, banyak hari sudah kita lewati. Segala apapun yang terjadi, suka duka yang kita miliki adalah bagian perjalanan bahagia. Bahagia, dimana tangis menjadi air mengalir yang sanggup menyapu segela ego dan amarah yang ada. Tiap tetesnya yang jatuh, adalah tanda akan datangnya bahagia. Tinggalkanlah tawa saat akhir penghabisan segala lara Sempatkahlah peluk untuk rindu yang menumpuk Rajut kenangan yang bisa diputar kembali saat ada jarak membentang. Panjatkanlah selalu syukur atas kesempatan yang telah diberikan-Nya hingga kita bisa bersama.

Yang Tak Terkirim III

Yogyakarta, 22 Februari 2014 Surat yang terlambat ditulis, tak sempat dikirimkan karena sedang bahagia dengan mereka di kehidupan nyata. -Ara.

Ini untuk mu, iya kamu..

Yogyakarta, 20 Februari 2014 "tidak semua bisa ku utarakan lewat lisan, sebab itu malam ini ku buatkan sebuah tulisan, iya untuk kamu, untuk, kamu" (baca setiap katanya dan kamu akan temukan siapa kamu didalamnya) Kamu boleh sekarang nakal Bermain-main dan bersenang-senang dengan teman perempuan mu diluar sana Kamu boleh sekarang umbar cinta Ke banyak wanita yang setiap hari kau sanjung-sanjung dengan pujianmu Tapi nanti setelah kamu lelah bermain dan ingin untuk menjalin satu yang pasti kembali lah padaku Aku akan jadi rumah Dimana kamu kembali setelah kamu lelah Selagi kamu bermain dengan mereka diluar sana, aku disini perbaiki hati Membenarkan setiap keping yang mungkin hancur oleh luka Aku berjanji padamu, ku perbaiki setiap kepingnya Agar ketika kau kembali, nyaman untuk kau tempati Tanpa harus kau tinggal pergi (lagi) Aku disini juga belajar, menerima setiap 'kekurangan' yang kau punya Kurang mu cuma satu, kamu ...

Untuk kali ini, jangan lagi

Yogyakarta, 19 Februari 2014 Aku pernah, bersama untuk waktu yang lama, lalu berpisah Untuk kali ini, jangan lagi.. Aku pernah, nyaman berada daalam satu pelukan, akhirnya dilepaskan Untuk kali ini, jangan lagi.. Aku pernah, bermanja-manja dalam tawa, berakhir dalam tangisan Untuk kali ini, jangan lagi... Aku pernah, berdoa agar bisa selalu bersama, tapi tak dikabulkan Untuk kali ini, tolong kabulkan........ Tak mudah berpisah dari seseorang yang telah bersama dalam ribuan hari Tak mudah memulai dari awal kembali perkenalan yang teramat asing Tak mudah melepaskan pelukan yang padahal disana sudah teramat nyaman Tak mudah menggenggam jemari yang baru yang hangatnya tak lagi sama Tapi itu semua telah ku lalui.... Bersamanya ku mulai lagi, untuk menjalani ribuan hari Bersamanya ku mulai perkenalan ku, yang tanpa langsung bertatap muka Bersamanya ku mulai menyamankan diri, dalam pelukannya Bersamanya kini jemari ku terisi, tak lagi ada rua...

Yuk, kak Faris!

Yogyakarta, 18 Februari 2014 Surat ke-18. Dear, kak Faris. Ntah sudah berapa surat ku yang aku tulis di kota istimewa ini yang tak terjemput (ter-RT) olehmu. Mungkin surat itu terlewat atau tenggelam dalam tumpukan kotak pos mu. Atau mungkin kamu lelah. Menerima banyak surat cinta dan mengantarkan semuanya mungkin tak mudah. Atau mungkin....ya terlalu banyak mungkin untuk menjadikan alasan mengapa surat-surat ku itu tak terjemput. Tak masalah.... Surat ini jauh dikirim dari Jogja ke Jakarta (karna kantor pos nya di Jakarta). Melewati banyak gangguan terutama sinyal untuk internet saat surat ini dibuat. Tapi ya tak masalah, semoga surat kencan ini bisa sampai dan kamu baca dengan saksama. Pertama-tama dan yang utama, mari kita kencan. Perjalanan indah mungkin akan kita lalui, bila kamu menjemput ku dari Jakarta menuju Jogjakarta. Tapi kita tak akan berhenti di Jogjakarta, kita hanya singgah. Singgahnya kita disini, akan membawa mu ke tempat-tempat istimewa y...

Habis semua disini.

Yogyakarta, 17 Februari 2014 "Seperti dihujani ribuan es, kemudian membeku, lalu hancur" Aku sulit bernapas. Rasanya bagaikan ada lubang hitam yang menelan secara utuh jantung dan paru-paru ku. Sudah ku coba membuka mulut ku lebar-lebar untuk membantu hidungku mendapatkan oksigen, tapi semuanya sia-sia. Sama dengan apa yang sudah ku lakukan, sia-sia. Aku tak pernah bersikap jahat kepada mu. Segala bentuk amarah dan kesal ku dengan mu, ku hapuskan dengan cuma-cuma, semata-mata hanya karena rasa sayang ku padamu. Tapi apa yang kamu lakukan? Mungkin kata  'jahat'  saja tidak cukup untuk menggambarkan dirimu yang sekarang. Tak punya hati? Rasanya itu pantas ku ucapkan.  Maaf , izinkan aku untuk menjahati mu kali ini dengan berkata  "Kau tak punya hati." Tak ada pisau tajam yang menghujam jantungku, tak ada goresan luka di paru-paru ku, tapi mengapa rasanya begitu sulit untuk bernapas? Padahal bila ada alat yang bisa ku gunakan untuk meliha...

Kini aku hanya bayangan, yang akan dilupakan.

Yogyakarta, 16 Februari 2014 Sebelumnya kita tak pernah saling mengenal; tak pernah mengetahui nama, dan tak pernah mengetahui bagaimana bunyi suara masing-masing dari kita. Tak pernah juga sebelumnya aku bermimpi bisa mengenal mu; tak pernah pula berdoa untuk dipertemukan dengan mu, dan tak pernah berharap untuk bisa melalui hari dengan mu. Bahwa sesungguhnya kamu pernah menjadi syukur yang tak henti aku panjatkan, kamu pernah menjadi pencipta dari segala tawa, dan kamu pun pernah menjadi sosok yang ada saat ku membuka hingga memejamkan mata. Tapi seketika yang sudah biasa menjadi tak biasa; tak biasa aku terlalu lama kau biarkan sendiri, tak biasa aku terlalu lama menunggu hanya untuk sekedar mendapat kabarmu, dan ini tak biasa, bukan seperti kamu saat pertama kita bertemu muka. Dan itu adalah awal aku menjadi sebuah bayangan..... Bersiap pergi dari hati mu meski dengan kaki yang berjinjit, mengunci rapat mulut ini agar tak ada isak tangis yang terdengar...

Yang Tak Terkirim II

Yogyakarta, 15 Februari 2014 Telat lagi nulis suratnya~~~~ Jogja hari kedua pasca hujan abu dampak letusan gunung Kelud. Seharian sama Dica, masak di kosan, kemudian pulang ke rumah ibu di Bantul. Daaaaaan taaraaaaa jalanan putih semua. Bener-bener kayak salju di luar negeri, bedanya gak dingin dan malah bikin sesek. Yauda terlanjur di jalan mau gimana lagi. Surat cinta ke 15 buat Dica, makasih untuk satu hari bahagianya. Alasyu.

Doa Dari Makhluk Yang Menapak Tanah.

Yogyakarta, 14 Februari 2014 Langit, kenapa kamu aneh pagi ini? Baru saja aku selesai menjelajahi mimpiku, membuka mata untuk menyambut hari ku, tapi..kenapa warnamu aneh? Tak biru pun tak gelap. Ada apa? Ternyata hujan, bukan air melainkan abu. Ini kali pertama aku merasakan, kali pertama mata ku secara langsung menyaksikan, dan kali pertama hati ini mengucap banyak kalimat suci karna tak percaya akan apa yang terjadi. Langit, kamu kenapa? Malam mu kemarin indah, tapi mengapa pagi ini seperti ini? Jogjakarta tak seperti biasanya... Segala aktivitas yang harus ku jalankan hari ini semua dibatalkan. Entah harus senang, sedih atau tetap bingung dengan apa yang terjadi. Tak pernah merasakan seperti ini. Di kota kelahiran ku sana, tiap hujan selalu saja air. Saking selalunya, air pun bisa tak mengalir, menumpuk hingga banjir. Tapi ini abu, menumpuk membuat semuanya menjadi kelabu. Oh baru aku sadar, Gunung Kelud disana sedang beraktivitas. Ya, ia menggantikan aktivit...

Yang Tak Terkirim.

Yogyakarta, 13 Februari 2014 Lelah. Itu saja. -Ara.

Sebenar-Benarnya Surat Cinta.

Yogyakarta, 12 Februari 2014 Surat ke-12, Mungkin kita bukan Edward dan Bella, bukan Rose dan Jack ataupun Romeo dan Juliet, tapi percayalah: kita akan tetap dan selalu menjadi kita bila tetap dan selalu ada aku dan kamu. Sekali aku merasakan, saat hati mu tak tenang, aku pun demikian. Tak ada kabar datang dari mu, pikiran ku berantakan. Ia seenaknya berjalan kesana kemari tanpa tahu harus memberikan informasi apa tentangmu. Aku tak bisa seperti itu. Berjanjilah untuk selalu memberi kabar tentangmu, walau hanya dua kata: "Aku baik." Setidaknya setelah itu, aku tenang. Rintihan mu, keluhan mu, tanpa pernah aku tahu apa penyebabnya adalah sakit bagiku. Sebab seakan diri ini tak ada gunanya bila bersamamu tapi tak pernah paham dengan apa yang sedang kau rasakan. Percayalah, itu menyakitkan. Lebih baik aku digantung di atas pohon yang tinggi, daripada harus merasakan menjadi orang yang tak berguna untukmu. Padahal kamu, milikku. Dalam tiap tawa ...