Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

Dan Hati Yang Bercerita.

Yogyakarta, 27 Februari 2014 Apa kabar hati? Nampaknya sedang bahagia. Apakah benar? Kalau memang iya benar, apa yang membuatmu bahagia? Dia? Dia? Dan dia? Oh benarkah? Selalu saja karna dia kau bisa bahagia? Sempurna. Coba jabarkan, apa yang sudah dia lakukan hingga kau bahagia (hati) Dia. Sosok yang sebelumnya tak pernah hadir dalam hidupku. Jangankan untuk hadir, membayangkan kedatangannya pun aku tak pernah. Tapi sekalinya ia hadir, aku bahagia. Dia. Lelaki yang memiliki tubuh yang hangat. Entahlah. Bentuknya sama seperti kebanyakan lelaki di luar sana. Tapi dalam dekapnya, aku bahagia. Dia. Tak memiliki jiwa humor cukup tinggi layaknya para pelawak di televisi. Tak juga sering pun menceritakan kepada ku hal yang lucu. Tapi tingkahnya mampu pecahkan tawa ku, aku bahagia. Dia. Tiap hari yang ku lalui bersama, selalu ada cerita baru. Tiap tempat yang kami kunjungi bersama, selalu ada kenangan yang kami tinggalkan disitu. Ti...

Surat Terjauh.

Yogyakarta, 26 Februari 2014 "A ku mengulurkan tangan kananku padamu untuk kau jabat. Ya… aku ingin kita berjabat tangan, sebagai teman. Sebagai dua orang yang saling kenal." Tak ingin ku sambut uluran tanganmu, sebab kita sesama hawa. Mendekatlah, seakan raga kita berada dalam tempat yang sama, kemudian ku dekap. Sebab dekapan lebih hangat kekuatannya bila dibandingkan uluran tangan. Dan kini kita sudah saling mengenal, walau tak pernah menatap mata secara langsung, tak pernah saling mendengar tawa yang kita punya, tapi kita tetap di bawah langit yang sama. Terimakasih atas bait kata yang telah kamu rangkai untuk ku yang kini telah menjadi lantunan kalimat indah  dalam blog mu. Ah, siapalah aku ini yang kamu kagumi tulisannya. Tak pantas. Tulisan ku tak seberapa dibanding balas-balasan surat mu dengan lelaki mu. Iri, lelaki ku selalu berkata tak bisa bila ku ajak ia untuk berenang dalam lautan kata. Iya, adam ku berbeda dengan punya mu yang selalu berani t...

Satu Dari Tiga Puluh Nanti.

Yogyakarta, 25 Februari 2014 Satu dari tiga puluh. Ntahlah, mungkin aku tak seindah langit jingga dalam menuturkan kata disini. Tapi aku tak pernah lupa karna aku bukan pelupa untuk memejamkan mata dan membuka hati lebar-lebar saat akan berenang dalam ribuan kata. Awal rencana kita akan beradu kata dalam balas-membalas surat pun aku urungkan. Sebab aku tahu, telah ada disana, di langit jingga, sosok yang tak pernah ku lihat tatap matanya tapi ku tahu mungkin menyimpan sejuta cinta untuk mu. Ya, mungkin. Sebab aku tak benar-benar bisa menerka apa yang belum menjadi nyata. Aku hanya manusia biasa, menebak, kemudian bisa jadi salah, karna semesta tak mau jadi kawan ku, jadi ia membuat keputusannya sendiri. Maka, sesekali aku menjadi pembaca. Meneliti tiap bait kata yang kau dan dia utarakan. Terselip ribuan senyum dalam kalimat-kalimat indah itu. Aku tahu, kalian menulisnya tanpa berpikir, hanya merasa. Indah, sesuai dengan keberadaannya di langit jingga. Tapi i...

Lampu Merah-Hijaunya Orang Jawa. (Bangjo)

Yogyakarta, 24 Februari 2014 Surat ke 24! Bang, Jo. Selamat ulangtahun. Semoga panjang umur. Sehat selalu. Sukses dalam segala hal. Dan semoga segala doa yang terpanjatkan untuk mu senantiasa diaminkan oleh semesta, hingga dikabulkan oleh-Nya. Ini surat cinte ku ke-24, tapi ntahlah apa itu setara dengan usia mu kini atau tidak. Sebab sejatinya manusia tak pernah benar-benar tahu akan nominal usianya. Yang hanya manusia tahu adalah bersenang-senang selagi jantungnya masih bisa bekerja. Apa yang spesial di hari ke 24 bulan 2 ini? Kado istimewa? Ucapan manis dari dia (yang ntahlah siapa)? Atau segala bentuk doa yang dikirimkan orang-orang yang mengasihi mu? Apapun lah itu, tak berhak juga aku untuk tahu. Sebab siapalah aku, hanya gadis yang belum lewat usianya dari 20 tahun, yang suka jajan di warung burjo. Apa yang membuat mu bahagia di hari ke 24 bulan 2 ini? Ah tak mau lagi menerka-nerka, sebab pasti lagi dan lagi terkaan ku tak ada yang tepat. Ya a...

Dan begitulah seharusnya.

Yogyakarta, 23 Februari "Biarkan aku melukiskan bayangmu, karna semua mungkin akan sirna." Demi kamu, yang ada di pagi ku. Demi senyum mu, yang memulai hari ku. Demi suaramu, yang bangkitkan semangatku. Demi hatimu, yang kini bersemayam di hati ku. Perlahan tapi pasti, banyak hari sudah kita lewati. Segala apapun yang terjadi, suka duka yang kita miliki adalah bagian perjalanan bahagia. Bahagia, dimana tangis menjadi air mengalir yang sanggup menyapu segela ego dan amarah yang ada. Tiap tetesnya yang jatuh, adalah tanda akan datangnya bahagia. Tinggalkanlah tawa saat akhir penghabisan segala lara Sempatkahlah peluk untuk rindu yang menumpuk Rajut kenangan yang bisa diputar kembali saat ada jarak membentang. Panjatkanlah selalu syukur atas kesempatan yang telah diberikan-Nya hingga kita bisa bersama.

Yang Tak Terkirim III

Yogyakarta, 22 Februari 2014 Surat yang terlambat ditulis, tak sempat dikirimkan karena sedang bahagia dengan mereka di kehidupan nyata. -Ara.

Ini untuk mu, iya kamu..

Yogyakarta, 20 Februari 2014 "tidak semua bisa ku utarakan lewat lisan, sebab itu malam ini ku buatkan sebuah tulisan, iya untuk kamu, untuk, kamu" (baca setiap katanya dan kamu akan temukan siapa kamu didalamnya) Kamu boleh sekarang nakal Bermain-main dan bersenang-senang dengan teman perempuan mu diluar sana Kamu boleh sekarang umbar cinta Ke banyak wanita yang setiap hari kau sanjung-sanjung dengan pujianmu Tapi nanti setelah kamu lelah bermain dan ingin untuk menjalin satu yang pasti kembali lah padaku Aku akan jadi rumah Dimana kamu kembali setelah kamu lelah Selagi kamu bermain dengan mereka diluar sana, aku disini perbaiki hati Membenarkan setiap keping yang mungkin hancur oleh luka Aku berjanji padamu, ku perbaiki setiap kepingnya Agar ketika kau kembali, nyaman untuk kau tempati Tanpa harus kau tinggal pergi (lagi) Aku disini juga belajar, menerima setiap 'kekurangan' yang kau punya Kurang mu cuma satu, kamu ...

Untuk kali ini, jangan lagi

Yogyakarta, 19 Februari 2014 Aku pernah, bersama untuk waktu yang lama, lalu berpisah Untuk kali ini, jangan lagi.. Aku pernah, nyaman berada daalam satu pelukan, akhirnya dilepaskan Untuk kali ini, jangan lagi.. Aku pernah, bermanja-manja dalam tawa, berakhir dalam tangisan Untuk kali ini, jangan lagi... Aku pernah, berdoa agar bisa selalu bersama, tapi tak dikabulkan Untuk kali ini, tolong kabulkan........ Tak mudah berpisah dari seseorang yang telah bersama dalam ribuan hari Tak mudah memulai dari awal kembali perkenalan yang teramat asing Tak mudah melepaskan pelukan yang padahal disana sudah teramat nyaman Tak mudah menggenggam jemari yang baru yang hangatnya tak lagi sama Tapi itu semua telah ku lalui.... Bersamanya ku mulai lagi, untuk menjalani ribuan hari Bersamanya ku mulai perkenalan ku, yang tanpa langsung bertatap muka Bersamanya ku mulai menyamankan diri, dalam pelukannya Bersamanya kini jemari ku terisi, tak lagi ada rua...

Yuk, kak Faris!

Yogyakarta, 18 Februari 2014 Surat ke-18. Dear, kak Faris. Ntah sudah berapa surat ku yang aku tulis di kota istimewa ini yang tak terjemput (ter-RT) olehmu. Mungkin surat itu terlewat atau tenggelam dalam tumpukan kotak pos mu. Atau mungkin kamu lelah. Menerima banyak surat cinta dan mengantarkan semuanya mungkin tak mudah. Atau mungkin....ya terlalu banyak mungkin untuk menjadikan alasan mengapa surat-surat ku itu tak terjemput. Tak masalah.... Surat ini jauh dikirim dari Jogja ke Jakarta (karna kantor pos nya di Jakarta). Melewati banyak gangguan terutama sinyal untuk internet saat surat ini dibuat. Tapi ya tak masalah, semoga surat kencan ini bisa sampai dan kamu baca dengan saksama. Pertama-tama dan yang utama, mari kita kencan. Perjalanan indah mungkin akan kita lalui, bila kamu menjemput ku dari Jakarta menuju Jogjakarta. Tapi kita tak akan berhenti di Jogjakarta, kita hanya singgah. Singgahnya kita disini, akan membawa mu ke tempat-tempat istimewa y...

Habis semua disini.

Yogyakarta, 17 Februari 2014 "Seperti dihujani ribuan es, kemudian membeku, lalu hancur" Aku sulit bernapas. Rasanya bagaikan ada lubang hitam yang menelan secara utuh jantung dan paru-paru ku. Sudah ku coba membuka mulut ku lebar-lebar untuk membantu hidungku mendapatkan oksigen, tapi semuanya sia-sia. Sama dengan apa yang sudah ku lakukan, sia-sia. Aku tak pernah bersikap jahat kepada mu. Segala bentuk amarah dan kesal ku dengan mu, ku hapuskan dengan cuma-cuma, semata-mata hanya karena rasa sayang ku padamu. Tapi apa yang kamu lakukan? Mungkin kata  'jahat'  saja tidak cukup untuk menggambarkan dirimu yang sekarang. Tak punya hati? Rasanya itu pantas ku ucapkan.  Maaf , izinkan aku untuk menjahati mu kali ini dengan berkata  "Kau tak punya hati." Tak ada pisau tajam yang menghujam jantungku, tak ada goresan luka di paru-paru ku, tapi mengapa rasanya begitu sulit untuk bernapas? Padahal bila ada alat yang bisa ku gunakan untuk meliha...

Kini aku hanya bayangan, yang akan dilupakan.

Yogyakarta, 16 Februari 2014 Sebelumnya kita tak pernah saling mengenal; tak pernah mengetahui nama, dan tak pernah mengetahui bagaimana bunyi suara masing-masing dari kita. Tak pernah juga sebelumnya aku bermimpi bisa mengenal mu; tak pernah pula berdoa untuk dipertemukan dengan mu, dan tak pernah berharap untuk bisa melalui hari dengan mu. Bahwa sesungguhnya kamu pernah menjadi syukur yang tak henti aku panjatkan, kamu pernah menjadi pencipta dari segala tawa, dan kamu pun pernah menjadi sosok yang ada saat ku membuka hingga memejamkan mata. Tapi seketika yang sudah biasa menjadi tak biasa; tak biasa aku terlalu lama kau biarkan sendiri, tak biasa aku terlalu lama menunggu hanya untuk sekedar mendapat kabarmu, dan ini tak biasa, bukan seperti kamu saat pertama kita bertemu muka. Dan itu adalah awal aku menjadi sebuah bayangan..... Bersiap pergi dari hati mu meski dengan kaki yang berjinjit, mengunci rapat mulut ini agar tak ada isak tangis yang terdengar...

Yang Tak Terkirim II

Yogyakarta, 15 Februari 2014 Telat lagi nulis suratnya~~~~ Jogja hari kedua pasca hujan abu dampak letusan gunung Kelud. Seharian sama Dica, masak di kosan, kemudian pulang ke rumah ibu di Bantul. Daaaaaan taaraaaaa jalanan putih semua. Bener-bener kayak salju di luar negeri, bedanya gak dingin dan malah bikin sesek. Yauda terlanjur di jalan mau gimana lagi. Surat cinta ke 15 buat Dica, makasih untuk satu hari bahagianya. Alasyu.

Doa Dari Makhluk Yang Menapak Tanah.

Yogyakarta, 14 Februari 2014 Langit, kenapa kamu aneh pagi ini? Baru saja aku selesai menjelajahi mimpiku, membuka mata untuk menyambut hari ku, tapi..kenapa warnamu aneh? Tak biru pun tak gelap. Ada apa? Ternyata hujan, bukan air melainkan abu. Ini kali pertama aku merasakan, kali pertama mata ku secara langsung menyaksikan, dan kali pertama hati ini mengucap banyak kalimat suci karna tak percaya akan apa yang terjadi. Langit, kamu kenapa? Malam mu kemarin indah, tapi mengapa pagi ini seperti ini? Jogjakarta tak seperti biasanya... Segala aktivitas yang harus ku jalankan hari ini semua dibatalkan. Entah harus senang, sedih atau tetap bingung dengan apa yang terjadi. Tak pernah merasakan seperti ini. Di kota kelahiran ku sana, tiap hujan selalu saja air. Saking selalunya, air pun bisa tak mengalir, menumpuk hingga banjir. Tapi ini abu, menumpuk membuat semuanya menjadi kelabu. Oh baru aku sadar, Gunung Kelud disana sedang beraktivitas. Ya, ia menggantikan aktivit...

Yang Tak Terkirim.

Yogyakarta, 13 Februari 2014 Lelah. Itu saja. -Ara.

Sebenar-Benarnya Surat Cinta.

Yogyakarta, 12 Februari 2014 Surat ke-12, Mungkin kita bukan Edward dan Bella, bukan Rose dan Jack ataupun Romeo dan Juliet, tapi percayalah: kita akan tetap dan selalu menjadi kita bila tetap dan selalu ada aku dan kamu. Sekali aku merasakan, saat hati mu tak tenang, aku pun demikian. Tak ada kabar datang dari mu, pikiran ku berantakan. Ia seenaknya berjalan kesana kemari tanpa tahu harus memberikan informasi apa tentangmu. Aku tak bisa seperti itu. Berjanjilah untuk selalu memberi kabar tentangmu, walau hanya dua kata: "Aku baik." Setidaknya setelah itu, aku tenang. Rintihan mu, keluhan mu, tanpa pernah aku tahu apa penyebabnya adalah sakit bagiku. Sebab seakan diri ini tak ada gunanya bila bersamamu tapi tak pernah paham dengan apa yang sedang kau rasakan. Percayalah, itu menyakitkan. Lebih baik aku digantung di atas pohon yang tinggi, daripada harus merasakan menjadi orang yang tak berguna untukmu. Padahal kamu, milikku. Dalam tiap tawa ...

Penikmat Langit.

Gambar
Yogyakarta, 11 Februari 2014 Entahlah........ Setibanya kaki di tempat paling tinggi tapi tak menyentuh awan, lelaki ini menyandarkan tubuhnya di tanah. Terlihat lelah raut wajah dan mata setelah menghabiskan ribuan detik untuk bisa tiba di tempat tinggi ini. Entahlah...... Mengapa langsung ia rebahkan tubuhnya? Bukankah seharusnya ia berbahagia terlebih dahulu karna sekarang dirinya sudah tinggi? Atau ia masih ingin merendah?  Yang jelas, tubuhnya bercinta dengan tanah, mengacuhkan cahaya matahari dengan memejamkan matanya, kemudian menikmati tiap suara deru angin. Ia tak memperdulikan apa-apa yang terjadi di sekitarnya, ia tak perduli dan bahkan tak ingin perduli. Di benaknya hanya ada satu hal "Ia harus menikmati apa yang sudah ia capai. Ketinggian ini." Lelaki ini beruntung; mungkin ia telah dimiliki oleh salah satu bidadari, mungkin ia memiliki ribuan kawan yang siap menopang tubuhnya saat jatuh, mungkin ia memiliki suara merdu yang...

Bait Singkat.

Yogyakarta, 10 Februari 2014 Halo, selamat datang kembali ke Jogja. Semudah ini sekarang melihat senyummu tanpa harus membayangkannya lagi. Semudah ini sekarang mendengar tawamu tanpa harus mengeluarkan pulsa lagi. Tak ada lagi beda pulau, tak ada lagi beda selisih waktu. Yang ada hanya pertemuan-pertemuan kita untuk habiskan rindu.

Pertama: Jogja.

Yogyakarta, 9 Februari 2014 Dan sebelumnya harap ku dikabulkan. Alhamdulillah.... Malam sebelum kaki ini meninggalkan tanah kelahiran, aku meminta, dalam tulisan yang ku rangkai kata demi katanya aku menginginkan kerpegian ku diiringi oleh cahaya rembulan. Dan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyanyang pun mengabulkannya. Dengan toreh senyum dan sedikit haru karna harus meninggalkan kembali keluarga ku, aku berangkat menuju kota rantauku. Selalu ada tangis dan berat hati yang tak tersampaikan saat harus membiarkan raga ini berada jauh lagi dari mereka yang sepenuh hati tanpa pamrih menyayangiku. Terutama lelaki ku. Pria yang senantiasa mendendangkan adzan dengan suara merdunya ketika aku baru tiba di dunia, ia Ayahku. Pria yang senantiasa berkeringat setiap harinya hanya untuk mencari uang agar perut ku kenyang dan otak ku pintar, ia Ayahku. Pria yang tanpa lelah memohon, bersujud, bersimpuh, berdoa tanpa mengenal waktu, dan selalu menyelipkan nama ku dalam ...

Pulang.

Jakarta, 8 Februari 2014 Lagi-lagi hujan. Dimana mataharimu, Jakarta? Hampir 14 hari disini tak tampak jelas mentarimu, sekalipun ada ia sembunyi. Kenapa? Apa ia marah karna aku tak pernah pulang? Kalau memang benar begitu sampaikan maafku. Katakan pada mentari, jangan iri, bila ternyata kini aku lebih cinta Jogja. Jakarta, mengapa tak pernah berubah? Sekalipun ada perubahannya tapi tak pernah tampak jelas. Sebut saja jalan gang rumah ku yang makin menyempit. Berubah, tapi tak banyak orang sadar. Mungkin karna mereka sibuk mencari uang hingga tak punya barang sedetik waktu untuk memperhatikan jalan gang. Menyebalkan. Ia di masa lalu yang selalu saja bertanya akan kepulangan ku, kini setelah aku disini ia menghilang. Jangankan rupanya, kabar dirinya pun aku tak dapat. Kemana ia? Sembunyi? Atau juga iri karna ternyata sekarang aku lebih cinta Jogja? Sama saja seperti mentari.  Biarlah, dikemudian hari aku akan dapati ribuan pertanyaan yang sama dari dirin...

Merah.

Jakarta, 6 Februari 2014 Kenapa? Tak seperti biasanya... Kini kau datang tanpa kabar. Tak ada pula tanda-tanda bahwa kau akan datang. Lalu kenapa? Bahkan kedatangan mu pun tak bisa aku terka. Tapi kau datang tiba-tiba. Mengejutkan aku yang tanpa persiapan untuk menyambutmu. Harusnya belum di tanggal ini kau datang. Tapi kenyataan? Kau sudah datang. Tanpa PMS, si bulan sudah datang. Welcome, Red.

Dica.

Jakarta, 5 Februari 2014 Pagi-pagi sudah bahagia, siapa lagi kalau bukan karna Dica. Ada aja tingkah lakunya yang bisa bikin bibir ini terangkat untuk sekedar tersenyum atau pun sampai bersuara. Iya, aku tertawa. Karna Dica. Terpisah ribuan jarak; aku di Jakarta, Dica di Samarinda. Tapi sebentar lagi kami bertemu kok, di Jogjakarta. Sudah banyak tabunganku, bukan merupa materi melainkan rindu. Sudah banyak cerita yang siap aku bagikan untuk mu, bukan melalui alat komunikasi melainkan dalam dekap hangat peluk mu. Dan sudah banyak alasan untuk ku ingin segera bertemu, salah satunya; ya karna aku rindu. Halo, Dica; aku sayang kamu.

Aku (masih) Bagian Dari Kamu.

Jakarta, 4 Februari 2014 Dear, Si Baju Merah.. Setahun berlalu, tapi tak ada yang berubah dari linimasa mu. Beberapa foto dari akun mu yang hadir di linimasa ku masih tetap mengenakan apa-apa yang merah. Ya memang, aku masih menjadi bagian dari mu, si baju merah. Setahun berlalu, dalam rangkaian kalimat yang ku rangkai untuk mu  (Aku Bagian Dari Kamu)  kini akan ada selembar lagi rangkaian kata yang ku buat untuk mu. Semoga yang kali ini mampu juga melelehkan hati mu seperti yang sebelumnya. Hehehe. Lembar pertama ku tulis dengan keberadaan ku satu kota dengan mu, tapi lembar kedua ini, aku berada di ibu kota. Ya tempat yang juga sering kamu kunjungi. Tak berharap aku kita bisa bertemu disini, aku berharap bisa selalu bertemu dengan mu disana, di kota istimewa, Jogjakarta. Bang Al, surat pertama menjadi sebuah cerita pertama juga awal aku bertemu dengan mu di dunia nyata. Tapi surat kedua ini bukan berarti kedua kalinya kita bertemu, sudah lebih dari dua...

Sudah disini.

Jakarta, 3 Februati 2014 Saat aku tak disini, banyak tanya yang kau sampaikan pada ku kapan aku akan tiba disini. Saat aku tak disini, banyak harap mu padaku untuk ku lekas kembali kesini. Saat aku tak disini, ingin mu aku segera kembali untuk bisa temu muka dengan mu. Saat kini aku tlah disini, kamu, menghilang. Menghilang tanpa kabar Menghilang tanpa ada lagi tanya kapan aku kembali Menghilang tanpa permisi Dan aku tak tahu, hilangnya kamu apa akan kembali lagi, atau tidak. Segalanya berbalik. Aku yang sudah disini, banyak tanya di dalam hati kapan kau akan menemui ku. Aku yang sudah disini, banyak harap agar lekas segera temu muka dengan mu. Aku yang sudah disini, ingin ku kau segera datang, untuk bisa lepas rindu dengan ku. Kepulangan ku tak lama, waktu ku disini tak banyak, turunkanlah egomu dan segera temui aku. Sebelum aku kembali berada jauh dari jangkauan mu.

Yang Di Samarinda, SamaLinda.

Jakarta, 2 Februari 2014 Mendung lagi, Seperti biasa, langit ibu kota di pagi hari tak bermatahari. Matahari biasanya datang saat hari mulai siang. Ya begitulah langit kota tempat ku lahir. Bagaimana dengan langit kota mu? Indah pasti, seperti kemarin saat disini senja, kau kirimkan rekam gambar senja di langit kotamu. Kau tahu? Bikin aku semakin ingin menapakan kaki disana, di kota mu, Samarinda. Kau yang di Samarinda, selamat 31 hari SamaLinda. Hehehehe. Pasti semakin banyak sifat asli ku yang mulai terlihat. Yang awalnya ku tutupi ya untuk memikatmu agar bisa kau ku miliki. Tapi semakin kita mengenal, akan ada banyak hal yang kita lalui. Semoga kau selalu bersabar dan bertahan SamaLinda. Iya dengan aku. Harus bagaimana menjelaskan padamu bahwa sudah banyak hutang rindu ku padamu? Kapan ke Jogja lagi? Lekaslah kita pulang, ke kota yang mempertemukan Jakarta dan Samarinda, iya Jogjakarta. Bertemu, bayar rindu dengan suara dan tatap mata langsung tanpa perlu bantua...

Surat Pertama.

Jakarta, 01 Februari 2014 Langit kelabu, Hujan datang dan pergi sesukanya sendiri. Layaknya hati yang mudah terisi meski kadang harus siap menghadapi sepi. Tapi Engkau Maha Baik, Maha Penyanyang, Maha Penguasa dalam menebar kasih sayang ke tiap yang Kau cipta. Syukur ku dalam kalimat ini, atas kasih sayang yang telah Kau beri padanya hingga ia bisa menjaga ku hingga hari ini. Ntah akan berapa banyak syukur yang akan ku kirimkan pada-Mu yang mengandung namanya. Kau kabulkan segala doa setelah aku pernah merasa jatuh dan sakit yang dulu ku pikir tak pernah ada obatnya. Tapi ternyata aku salah, kini Kau buktikan, dengan mengirimkan ku obat tanpa perlu ada sepeser uang pun yang harus ku keluarkan. Ku bayar obat yang Kau beri ini dengan syukur yang tak pernah habis ku panjatkan. Dia, adalah syukur ku pada-Mu yang tak pernah habis ku panjatkan. Masih ku ingat betul, dengan kedua kaki bersimpuh, tangan terangkat ke atas dan air mata yang alirannya deras membuatku terisak ...