Perempuan Yang Terbiasa
Jakarta, 11 Februari 2016
"Mencintai bukan perkara ia yang selalu dan harus mau menjadi apa yang kamu inginkan, tapi lebih kepada kamu yang harus bisa dan membiasakan menerima ia yang begitu adanya."
Sering kali diri ini lalai untuk bersyukur, acap kali terucap
keluhan-keluhan dari mulut yang memang tak pernah alfa untuk berdosa.
Tapi bagaimana? Aku hanya manusia biasa, hati ku pun tak bisa selalu
dituntut untuk bahagia.
Keputusan ku untuk menjadikan mu sebagai pernak-pernik dalam kehidupan
ku adalah alasan untuk tetap menyirami cinta ini agar senantiasa selalu
tumbuh tak pernah layu. Tapi bukankah untuk menanam diperlukan pupuk
yang baik? Harusnya kau selalu pupuki itu dengan segala sifat baik mu
tanpa pernah sedikit pun membuat ku kesal, tapi mengapa tak bisa seperti
itu?
Kau ingin melihat cinta ini layu? Dengarkan baik-baik, sesuatu yang telah layu tak bisa lagi kembali segar. Hanya tinggal menunggu tercabutnya akar dari tanah. Jangan biarkan cinta ini seperti itu. Bila sudah tak ternanam lagi di hati maka rusak sudah semua yang telah kita tanam.
Kau ingin melihat cinta ini layu? Dengarkan baik-baik, sesuatu yang telah layu tak bisa lagi kembali segar. Hanya tinggal menunggu tercabutnya akar dari tanah. Jangan biarkan cinta ini seperti itu. Bila sudah tak ternanam lagi di hati maka rusak sudah semua yang telah kita tanam.
Aku sadar atas apa yang aku rasa tak mesti selalu sama. Tapi pernah satu rasa berulang-ulang terjadi, tak ada beda, persis sama. Mengapa? Bisakah berikan aku jawaban? Tak mengapa bila hanya satu kata.
Tiap langkah dari jalan yang ku lalui, adalah seperangkat doa yang telah ku susun sebaik-baiknya tanpa ada celah. Ku rapatkan doa ku yang baik-baik, agar tak bisa ku selipkan, walaupun sedikit, yang buruk. Sebab aku tak ingin, sebab tak ada niatan, meski amarah bersikeras agar ku lakukan itu semua.
Mencintai mu adalah kebiasaan. Hal yang ku lakukan terus menerus tanpa pernah ada kata putus.
Membenci mu pun adalah kebiasaan. Hal yang berusaha tidak untuk selalu ku lakukan, sebab sakitnya hati dan perihnya mata bila harus hati ini membenci.
Oh mengapa aku bisa benci padahal cinta?
Komentar
Posting Komentar