Kardus Bekas

Jakarta, 15 Februari 2016



Kita tak saling mengenal, hanya bertatapan tapi sebentar.
Dari tatapan itu aku merekam jelas wajahmu, sudah mulai banyak keriput menghiasinya. Aku pun menghapal baju yang kau kenakan, dress sepanjang lutut berwarna kuning lusuh, dan celana jeans abu-abu yang mulai menipis. Ntah berapa lama pakaian itu kau kenakan. Atau mungkin itu satu-satunya pakaian yang kau punya.

Suami dan gerobak mu adalah pelengkap dari sosok mu yang ku lihat di siang itu. Kalian saling bahu-membahu, bantu-membantu mendorong gerobak yang berisikan kardus dan botol-botol bekas. Di tengah teriknya mentari, kau pun masih bisa tersenyum, tanpa kenal lelah. Aku saja, yang saat itu sedang duduk di depan sebuah Supermarket sudah tidak betah karena panas matahari yang terlalu menyengat. Aku malu, terlalu manja, padahal kau dan (mungkin) ribuan orang lainnya di luar sana berjuang melawan panas matahari demi kehidupan di kemudian hari.

Rezeki. Aku menyaksikan kau mengelu-elukan ucap syukur kepada Tuhan atas kardus-kardus bekas yang kau dapatkan. Senyum mu pun semakin lebar, mungkin bahagia mu sederhana, tak perlu makan di resotran mewah, mendapatkan seikat kardus bekas saja sudah menjadi hal mewah untuk mu.

Bu, mungkin dunia terlalu kejam dengan mu, mungkin Tuhan terlalu sayang padamu. Tuhan ingin menunjukan padamu bahwa di kehidupan sekarang sulit sekali mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau tak miliki apa yang orang lain punya. Tapi ingatlah, di kehidupan selanjutnya, berbekal kesabaran dan keikhlasan yang telah kau tabung, kau dapat tukarkan dengan apa saja yang kau mau, tanpa perlu lagi kau mencari.

Bersama dengan suami mu, kau kembali mendorong gerobak itu. Menghamburkan lamunan ku dan mengucap doa agar hari itu akan banyak kardus bekas yang menjadi rezeki mu.



Salam,

Aku yang tak kau kenal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia