Sebentar Lagi

Jakarta, 23 Februari 2016



Aku ingin hidup, di jalan, di mana kaki mu hapal menapakinya.
Sebab perjalanan yang menyenangkan adalah tanpa keraguan dan ketakutan.
Dalam genggam tangan mu, aku percaya, bahwa dunia lebih indah dari sekedar kata cinta.

...... 
Sampai tibalah aku di sebuah tempat di mana tak ada kamu, bahkan jejak kaki mu. Layaknya aku tersesat, tak dapat melihat padahal tak gelap. Aku terus menyusuri jalan itu dengan kaki berjinjit. sebab tak mengerti apa yang ada di bawah kaki. Dingin, lembut, rapuh, hanya itu rasanya. Perjalanan ku terus berlanjut, sampai tiba aku pada suatu tempat yang sama sekali tak ada orang, termasuk kamu.

Lalu di mana dirimu? Di mana kamu menunggu? Mengapa tak menjemput ku? 

Di dinding-dinding ini tertulis ribuan puisi dengan jutaan kata yang sama. Rindu. Siapa yang menuliskannya? Kamu kah? Atau aku?

Ku coba penjamkan mata, menarik napas dalam-dalam, tapi tak lagi gelap. Cahaya datang perlahan-lahan merubah gelap menjadi terang. 
Kini ku tahu, bahwa kaki ku menapaki awan. 
Bahwa dinding-dinding yang bertuliskan rindu itu adalah langit, dan kau adalah cahaya yang datang.


Lalu perlahan rindu itu hilang. Ia telah kembali kepada Tuannya. 
Rindu ku bertuan.




-3 hari sebelum bertemu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia