Ajakan Berdamai.
Yogyakarta, akhir Februari 2015 Baris-baris terakhir. Teruntuk masa lalu, izinkan aku untuk berdamai dengan mu. Dalam surat ini mari kita sedikit berdiskusi. Aku ingin kita berdamai agar tenang sekarang ku. Lewat sudah apa-apa yang menyakitkan dulu. Rasanya hati yang patah, bukan lagi terbagi menjadi dua, melainkan lebur berantakan layaknya kaca yang pecah jatuh dari ketinggian. Sulitnya bernapas, meski ku tahu Tuhan ku tak pernah menyediakan sedikit oksigen untuk makhluknya. Tapi semua karena luka, luka yang ku jahit sendiri, ku sembuhkan sendiri, dan ku sembunyikan bekasnya. Kesalahan paling parah dalam hidup ku adalah tak pernah berdamai dengan mu, masa lalu. Selalu saja aku mengungkit dan menyalahkan apa-apa yang terjadi terdahulu. Lelah, ringkih perasaan. Tak ada yang bisa ku lakukan, selain tangis yang ku gunakan sebagai senjata. Untuk cinta, bukan hanya sekedar indah yang tumbuh di masa terdahulu, tapi jatuh yang benar-benar dalam kepada orang yang sal...