Lelaki Kedua
Jakarta, 4 Februari 2015
Kau tak pernah tahu aku menyanyangi mu,
kau tak pernah tahu bahwa sama beratnya kita menjalani hidup setelah kepergiannya.
Beranjak dewasa sendiri, aku tahu itu sulit, dan tak mudah untuk kita lewati.
Jarang bertegur sapa dengan mu, sebab hanya tengkar bila kita saling berucap membawa emosi ikut serta di dalamnya.
Tapi percayalah, sebenci-bencinya diri ini akan sosokmu, selalu ada nama mu di akhir doa yang ku panjatkan pada yang Maha Sempurna.
-----
Kembali ke masa dulu, saat hidup hanya berisikan makan, tidur, bermain, dan jalan-jalan.
Kita bisa sangat mudah untuk berbagi tawa, pun sesekali menangis karena jatuh tanpa disengaja.
Kemudian hidup terasa mulai berat-- saat warisan pertama yang diberikan perempuan itu kepada kita adalah hidup tanpa ada lagi sosoknya. Kita menangis, bersama-sama menjatuhkan air mata di atas makamnya.
Lalu ku pikir, aku bisa menggantikan sosoknya. Membangunkan mu di kala pagi, menyiapkan makan mu saat siang hari, dan mendongeng di malam hari. Kenyataannya aku tak bisa, aku pun sibuk dengan mengurus diri ku sendiri. Sampai akhirnya kita tumbuh sendiri-sendiri dan berjanji untuk betegur sapa seperlunya.
Aku pergi, menjauhkan diri dari mu dengan harapan sosok lainnya bisa menjagamu dengan penuh waktu yang ia punya. Tak apa aku jauh, aku siap-- asal kau tak lagi kekurangan kasih dan sayang, asal kau tak lagi iri dengan perlakuannya pada ku yang menurut mu aku selalu dimanja, asal kau dapat belajar dewasa, dapat menerima kenyataan bahwa kau harus menjadi yang paling kuat, sebab lelaki harus setangguh karang di lautan dan sehebat tentara di medan perang.
Maafkan aku
yang tak pernah berucap sayang, tapi sungguh aku mendoakan kau dalam diam.
Salam,
Kakak perempuan mu.
Komentar
Posting Komentar