Menjadi tua dan dewasa itu menyebalkan

Ketika saya sedang jenuh dan bosan dengan kehidupan yang sedang saya jalani, dan ketika itu pula saya tak tau apa yang harus saya lakukan, saya memilih untuk menangis dan mencurahkan segala apa yang sedang ingin saya ungkapkan dalam tulisan. Biasanya, setelah itu saya akan sedikit merasa tenang. Dan di kemudian hari akan ada senyum kecil saat saya membaca lagi tulisan yang telah saya buat.

Di usia ke 21 ini. Menjadi tua dan mengharuskan diri untuk menjadi dewasa itu menyebalkan. Kita sering kali dituntut untuk bisa menyelesaikan semuanya dengan baik dan benar di usia yang tua ini. Pendidikan, pertemanan, cinta, semuanya harus dijalankan dengan baik dan benar. Adakah pernah dalam hidupmu merasa jenuh menjalani itu semua? Tahukah kamu kemana harus kamu keluarkan segala unek-unek di hati saat perasaan seperti itu datang?

Mulai menjalani hidup sendiri saya jalankan sejak kepergian almarhumah mamah. Hidup sendiri yang tak benar-benar sendiri, sebab kala itu masih ada beberapa keluarga yang mendampingi. Itu semua saya mulai ketika saya duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Di saat teman-teman saya yang lain masih dibangunkan ibu nya untuk pergi ke sekolah, saya membiasakan diri untuk bangun sendiri. Ketika teman-teman saya yang lain disisirkan rambutnya oleh ibunya, disiapkan bekal untuk makan siangnya di sekolah nanti, saya menyisir rambut saya sendiri dan menanti apakah nenek saya menyiapkan bekal atau tidak. Kalau iya saya bisa makan siang dengan mudah, tapi bila tidak ya kantin adalah tujuan utama saat bel berdering nanti.

Saya sering mencurahkan isi hati saya dengan berkata kepada ayah saya bahwa saya merindukan mamah. Tapi semakin sering saya berkata begitu kepadanya semakin sering pula ia berkata "didoakan saja mamahnya". Sejak saat itu ketika rasa rindu itu datang, saya tak pernah lagi bercerita kepada ayah saya, hanya langsung mendoakan. Sebab apalagi yang bisa kita lakukan saat rindu dengan seseorang yang bahkan tak bisa lagi kita lihat raganya selain didoakan?

Sekarang, semuanya sedang terputar ulang jelas di kepala saya. Masa-masa dimana usia saya masih sangat sedikit nominal angkanya dan tak ada tuntutan dewasa dari pihak manapun. Saat saya tau bahwa cinta itu hanya datang dari kedua orang tua saya, tak ada cinta yang datang dari luar sana. Saat dimana yang saya tau hanya sekolah, bermain, kemudian pulang dan bermanja-manja dengan mamah di depan televisi. Menyebalkan bukan ketika usia menua dan dituntut untuk dewasa tapi teringat itu semua? Rindu. Rindu. Rindu yang menggebu tapi tak bisa kembali ke masa itu.

Hidup yang benar-benar sendiri saya jalankan ketika di bangku perkuliahan ini. Awalanya saya dititipkan kepada keluarga baru yang diberikan oleh ayah saya. Tapi apa mau dikata, perasaan tidak selalu nyaman berada di sana. Hati saya butuh tempat tersendiri, tempat dimana air mata bisa mengalir tanpa harus diserbu pertanyaan "kenapa?". Karena sekuat-kuatnya saya di luar, hati saya selalu lemah bila sedang rindu mamah.

Menjadi tua dan dewasa itu menyebalkan. Semuamua datang secara beruntun kedalam hidup. Bagaimana harus bergaul, bagaimana harus bertahan dalam hidup, bagaimana harus bisa unggul dari lainnya, bagaimana harus bisa bersikap baik, dan bagaimana harus bisa mengurus masalah hati. Itu semua harus diurus diri sendiri yang mulai menua dan harus bisa dewasa.

Sejatinya kehidupan manusia hanya seperti itu tahapnya, semua sama, yang berbeda adalah bagaimana masing-masing individu tersebut menjalankan kehidupan yang tlah diberikan oleh Sang Maha Pencipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia