Menangislah : saat ini butuh.

Saya butuh bercerita, tapi mulut terlalu malas untuk berkata, jadi biarlah saya menumpahkan segalanya disini.


Mungkin saya adalah satu-satunya makhluk yang tak pernah bisa untuk ikhlas. Itu adalah hal paling tersulit sekalipun soal matematika aljabar. Saya tak benar-benar bisa berkata "Yasudahlah, tak apa", selalu saja "Kenapa harus begini? Kenapa gak begitu? Tak bisakah begini?" selalu saja seperti itu. Sebab mengikhlaskan sebuah kepergian adalah hal yang sulit saya lakukan mungkin sampai di ujung nafas saya nanti.

Kenapa mereka harus memutuskan bersama bila pada diri mereka berdua tak ditemui kecocokan? Kenapa mereka selalu saja berdiri pada prinsip hidup mereka masing-masing? Tak bisakah salah satu dari mereka mengalah? Apakah mengalah lebih sulit dari mengikhlaskan? Lalu kenapa mereka bersama? Apa karena mereka saling cinta? Lalu kenapa.... terlalu banyak kenapa di semua bagian otak ini hingga tak tau mana dulu yang harus dicari jawabannya.

Pertanyaan yang selalu berulang-ulang saya tanyakan kepada Tuhan adalah "Mengapa harus terjadi kepada saya, Tuhan? Kenapa tidak ke dia, atau ke mereka saja? Mengapa? Apa Kau terlalu mencintaiku hingga membiarkan ku menjadi makhluk yang tak pernah bisa untuk mengikhlaskan sebuah kepergian?" Itu. Satu pertanyaan panjang yang jawabannya belum pernah saya dapatkan hingga sekarang. Mungkin harus tunggu pertemuan langsung antara saya dengan Tuhan.

Kalau saja kepergian itu tak pernah ada, mungkin diri ini masih berada di tempat yang sama tanpa harus memiliki sebuah kehidupan baru. Kehidupan yang awalnya saya bayangkan akan menjadi kehidupan manis seperti drama-drama yang banyak saya tonton di acara televisi, tapi ternyata pahit rasanya. Lebih pahit dari segelas kopi yang diseduh dengan takaran satu ton kopi tanpa gula sesendok pun di dalamnya.

Hari ini hampir sempurna bahagianya hari, tapi semua rusak dengan linangan air mata yang sebenarnya tak ingin mengalir. Yang saya inginkan hanyalah marah. Marah kepada mereka berdua, tapi tak bisa, saya tak ingin menambah beban di keempat bahu mereka. Lalu haruskan mereka berdua yang memberi 4 beban langsung di kedua bahu saya?

Saya percaya cinta itu indah, cinta bisa membahagiakan siapapun yang memiliki rasa itu. Apakah mereka tak memiliki cinta? Hingga tak bisa merasakan bahagia? Harusnya kini mereka sadar, yang dibutuhkan dari mereka adalah saling menerima, saling menurunkan ego, mengalah, mencari solusi terbaik demi buah cinta mereka.

...bukan demi saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia