Sebenar-Benarnya Surat Cinta.
Yogyakarta, 12 Februari 2014
Surat ke-12,
Mungkin kita bukan Edward dan Bella, bukan Rose dan Jack ataupun Romeo dan Juliet, tapi percayalah: kita akan tetap dan selalu menjadi kita bila tetap dan selalu ada aku dan kamu.
Sekali aku merasakan, saat hati mu tak tenang, aku pun demikian.
Tak ada kabar datang dari mu, pikiran ku berantakan. Ia seenaknya berjalan kesana kemari tanpa tahu harus memberikan informasi apa tentangmu. Aku tak bisa seperti itu.
Berjanjilah untuk selalu memberi kabar tentangmu, walau hanya dua kata: "Aku baik."
Setidaknya setelah itu, aku tenang.
Rintihan mu, keluhan mu, tanpa pernah aku tahu apa penyebabnya adalah sakit bagiku.
Sebab seakan diri ini tak ada gunanya bila bersamamu tapi tak pernah paham dengan apa yang sedang kau rasakan.
Percayalah, itu menyakitkan. Lebih baik aku digantung di atas pohon yang tinggi, daripada harus merasakan menjadi orang yang tak berguna untukmu. Padahal kamu, milikku.
Dalam tiap tawa mu yang aku saksikan dengan kedua mata ku itu adalah bahagiaku.
Dalam tiap degup jantungmu, yang aku dengar dengan kedua telinga ku saat aku berada dalam pelukmu, itu adalah tenang ku.
Dalam tiap belaian kasih sayang saat tangan mu membelai lembut rambut ku, itu adalah nyamanku.
Dan dalam tiap waktu aku menyaksikan mu bersimpuh kepada Sang Pecipta itu adalah percayaku. Percaya akan tiap syukur ku karna Sang Maha Pengasih Lagi Maha Penyanyang (mungkin) telah memberikan orang yang tepat dalam hidup ku saat ini.
Cemburu ku adalah rasa iri, marah dan kesalku adalah bentuk luapan emosi sementara akan tingkahmu yang menyebalkan. Tapi itu semua adalah bagian dari cinta. Sebab cinta tak harus rindu melulu, sesekali harus ada percikan api yang bisa membuatnya semakin menggebu.
Berbahagialah kita, selagi bisa.
Bersukacitalah kita, selagi masih selalu dipertemukan.
Dan teruslah tertawa bersama, agar semesta cemburu dan mau tak mau harus memberikan restunya kepada kita.
Agar kita bisa selalu bersama.
(sebenar-benarnya surat cinta.)
Komentar
Posting Komentar