Ada satu masa, di mana rasanya senang sekali menyalahkan diri sendiri. Menyakitinya hingga air mata tumpah. Padahal bukan aku yang salah, tapi tak mengapa, itu salah ku. Kemudian sampai di suatu waktu, ketika perasaan itu kembali datang. Perasaan di mana aku merasa tak bersalah, tapi tak mengapa itu salah ku, membuat isi pikiran ku terus mengulangi apa yang hati ku rasa. Bukan aku yang salah, tapi tak mengapa, itu salah ku. Lalu aku menarik napas lebih dalam. Menikmati tiap aliran oksigen yang berjalan menuju jantung dan paru-paru. Menutup mata ku rapat-rapat, sampai tiba kalimat itu terucap di bibir ku: "bukan salah ku. Aku tak melalukan apapun. Itu salah mereka, mereka yang melakukan, kesalahan ada pada mereka." Lega sekali rasanya. Isi pikiran ku bisa sama seperti kebanyakan orang. Aku tak lagi menghakimi diriku sendiri, saat ini aku bebas, saat ini tak lagi aku menyalahkan diri. Oh seperti inikah yang mereka maksud? Untuk sadar bahwa tak banyak hal yang bisa berjalan sesu...
Pernah ga punya rasa ingin tahu sebegitu besarnya pada seseorang? Naksir, mereka bilang. Ntahlah kenapa bisa, padahal hanya bertemu maya. Suka. Naksir. Kepo. Kepo. Kepo. Punya pacar tidak ya? Sudah menikah belum ya? Oh masih sendiri. Baguslah. Semakin jauh langkah dapat melaju. Tapi sebagai pribadi yang mudah sekali menjadi ilfeel dengan seseorang, biasanya aku teramat hati-hati dalam melangkah. Tidak terburu-buru tapi setiap hari pasti maju. Bagiku, untuk bisa naksir duluan itu seru, ketimbang harus dikejar-kejar oleh lelaki terobsesi tetapi hanya berakhir untuk jadi koleksi. Hiyeks. Kadang sebal sendiri, kadang kesal sendiri, kadang merasa aneh sendiri, mengapa bisa sebegitu penasarannya dengan seseorang yang bahkan nampaknya tak punya ketertarikan dengan orang yang sedang mengintainya? Apa masih pantas di usia ini menjadi pemuja rahasia? Oh tentu saja tidak, oleh sebab itu belum seratus persen hari ku berisi dia. Kadang bosan juga dan merasa semua tak ada artin...
Sebelum 2018 benar-benar selesai, benar-benar habis..... 6 bulan dari 12 bulan yang ada pada 2018 ku habiskan hanya dengan seorang lelaki yang ku pikir sampai malam ini masih bisa ku miliki, tapi ternyata tidak. Sampai tulisan ini selesai ku ketik, sampai tulisan ini kalian baca kata demi kata, ku nyatakan bahwa tak ada lagi ia di hatiku, sudah ku maafkan, sedang ku usahakan untuk benar-benar tak ada lagi bahkan bayangnya sedikit pun di pikiran. Terima kasih, Masbay! Terimakasih atas 6 bulan indah hampir sempurna di tahun ini. Terima kasih, karena belum terlambat dan belum terlalu jauh aku menaruh hati padamu. Terima kasih atas segala kejujuran yang meski menyakitkan. Aku sudah memaafkan diriku, karna itulah cara paling mudah untuk bangkit dari hati yang patah. Semoga kamu pun demikian, tak lagi bermain hati kepada siapapun yang benar-benar tulus pada mu. Cukup aku. Terima kasih 2018, tahun di mana aku mendapatkan bahagia dari sumber anak-anak baik nan menyenangkan. Murid-murid ...
Komentar
Posting Komentar