Wanita dari Samarinda
Inilah yang pertama menyenangkan saat bertambah angka 1 di belakang umurku setelah 20.
Pertama-tama....
Aku bingung. Ntah apa yang harus ku kenakan. Baju apa? Celana apa? Kerudung apa? Sepatu? Bahkan aku tak tahu mana yang harus duluan ku lakukan, mandi atau sarapan? Seketika pagi itu menjadi sangat hectic padahal tak ada tugas yang harus ku kerjakan dan tak ada kuliah yang harus ku jalani. Yang ada hanyalah pertemuan pertama ku dengan wanita dari Samarinda.
Kemudian aku mengatur rencana dengan lelaki ku. Harus naik apa, nantinya bertemu dimana dan segala macam lainnya. Semua diatur sedemikian rupa, sedemikian sempurna agar meniggalkan sisi baik di awal perjumpaan ini.
Pertemuan pertama? Alhamdulillah. Indah dan dipenuhi dengan ribu senyuman.
Pertama kali ku jabat tangannya, melihat langsung senyumnya, perlahan irama detak jantungku mulai kembali normal. Awalnya ritme jantung ini seperti sedang berlari kencang mengitari stadion bola, tapi lambat laun ritmenya mulai turun, senada dengan tiap senyum dan tawa dari bibir ku.
Wanita itu tampak cantik, muda, dan ramah sekali wajahnya. Sedikit demi sedikit banyak cerita yang kami tukar. Saling sahut-menyahut mengomentari apa-apa yang menurut kami perlu kami berikan komentar. Wanita itu adalah ia yang sudah lama ku nanti kehadirannya.
Pertemuan selanjutnya...
Tak habis hanya satu hari kami lewati bersama. Hari selanjutnya, tak terlalu ku pusingkan apa yang harus ku kenakan. Seadanya, karena siapalah aku ini, hanya perempuan dengan kerudung segi empat dan disatukan dengan peniti di kepalanya.
Aku senang. Aku bahagia. Dan aku................lega. Rasanya seperti berada di tengah kebun bunga yang dihiasi ribuan bunga indah dan semilir angin. Indah. Nyaman. Tak ada lagi jantung yang berdetak berlebihan. Tak ada lagi kecemasan tentang hubungan ku dengan lelaki ku. Hanya bahagia, berkat restu yang ia berikan meski tak secara langsung, tapi aku yakin wanita itu mengizinkan aku untuk selalu berada di sisi anak lelaki satu-satunya yang ia punya.
Wanita dari Samarinda itu ialah wanita yang di telapaknya ada surga dari lelaki yang sangat aku cintai.
Terimakasih, Tante. Telah melahirkan seorang anak yang hebat, yang sedemikian rupa bisa membuat hati gadis ini jatuh cinta berkali-kali dengannya.
Pertama-tama....
Aku bingung. Ntah apa yang harus ku kenakan. Baju apa? Celana apa? Kerudung apa? Sepatu? Bahkan aku tak tahu mana yang harus duluan ku lakukan, mandi atau sarapan? Seketika pagi itu menjadi sangat hectic padahal tak ada tugas yang harus ku kerjakan dan tak ada kuliah yang harus ku jalani. Yang ada hanyalah pertemuan pertama ku dengan wanita dari Samarinda.
Kemudian aku mengatur rencana dengan lelaki ku. Harus naik apa, nantinya bertemu dimana dan segala macam lainnya. Semua diatur sedemikian rupa, sedemikian sempurna agar meniggalkan sisi baik di awal perjumpaan ini.
Pertemuan pertama? Alhamdulillah. Indah dan dipenuhi dengan ribu senyuman.
Pertama kali ku jabat tangannya, melihat langsung senyumnya, perlahan irama detak jantungku mulai kembali normal. Awalnya ritme jantung ini seperti sedang berlari kencang mengitari stadion bola, tapi lambat laun ritmenya mulai turun, senada dengan tiap senyum dan tawa dari bibir ku.
Wanita itu tampak cantik, muda, dan ramah sekali wajahnya. Sedikit demi sedikit banyak cerita yang kami tukar. Saling sahut-menyahut mengomentari apa-apa yang menurut kami perlu kami berikan komentar. Wanita itu adalah ia yang sudah lama ku nanti kehadirannya.
Pertemuan selanjutnya...
Tak habis hanya satu hari kami lewati bersama. Hari selanjutnya, tak terlalu ku pusingkan apa yang harus ku kenakan. Seadanya, karena siapalah aku ini, hanya perempuan dengan kerudung segi empat dan disatukan dengan peniti di kepalanya.
Aku senang. Aku bahagia. Dan aku................lega. Rasanya seperti berada di tengah kebun bunga yang dihiasi ribuan bunga indah dan semilir angin. Indah. Nyaman. Tak ada lagi jantung yang berdetak berlebihan. Tak ada lagi kecemasan tentang hubungan ku dengan lelaki ku. Hanya bahagia, berkat restu yang ia berikan meski tak secara langsung, tapi aku yakin wanita itu mengizinkan aku untuk selalu berada di sisi anak lelaki satu-satunya yang ia punya.
Wanita dari Samarinda itu ialah wanita yang di telapaknya ada surga dari lelaki yang sangat aku cintai.
Terimakasih, Tante. Telah melahirkan seorang anak yang hebat, yang sedemikian rupa bisa membuat hati gadis ini jatuh cinta berkali-kali dengannya.

Komentar
Posting Komentar