Satu Dari Tiga Puluh Nanti.

Yogyakarta, 25 Februari 2014



Satu dari tiga puluh.


Ntahlah, mungkin aku tak seindah langit jingga dalam menuturkan kata disini. Tapi aku tak pernah lupa karna aku bukan pelupa untuk memejamkan mata dan membuka hati lebar-lebar saat akan berenang dalam ribuan kata.

Awal rencana kita akan beradu kata dalam balas-membalas surat pun aku urungkan. Sebab aku tahu, telah ada disana, di langit jingga, sosok yang tak pernah ku lihat tatap matanya tapi ku tahu mungkin menyimpan sejuta cinta untuk mu. Ya, mungkin. Sebab aku tak benar-benar bisa menerka apa yang belum menjadi nyata. Aku hanya manusia biasa, menebak, kemudian bisa jadi salah, karna semesta tak mau jadi kawan ku, jadi ia membuat keputusannya sendiri.

Maka, sesekali aku menjadi pembaca. Meneliti tiap bait kata yang kau dan dia utarakan. Terselip ribuan senyum dalam kalimat-kalimat indah itu. Aku tahu, kalian menulisnya tanpa berpikir, hanya merasa. Indah, sesuai dengan keberadaannya di langit jingga.

Tapi ingatkah kau akan bahasan kita tentang saung dan rumah? Ku tak yakin kau ingat, sebab banyak di rangkaian kalimatmu yang selalu saja kau ulang bahwa kau pelupa. Aku heran, mengapa kau bangga menjadi pelupa? Tak hebat. Banggalah kau bila bisa mengingat tiap kejadian yang sudah terlewat dalam hidup mu dengan hanya menutup mata. Kurangilah sifat lupa mu. Simpan dan jangan sering melupakan.

Jadi mana yang kau punya di langit jingga itu? Saung atau rumah? Semoga rumah. Sebab kasihan lah yang indah di langit jingga itu, jangan hanya jadikan ia saung. Tak pantas. Ingatlah, ia selalu menanti tulisan mu, dan percayalah selalu ada senyumnya untuk mu ditiap tulisan yang kau ketikan untuknya.

Maka, menetaplah. Tinggallah tanpa pernah meninggalkan dan berniat untuk pindah. Sebab rumah mu sekarang adalah tempat terindah di langit jingga.



Dari aku,
seseorang yang yakin, ia yang indah di langit jingga akan membaca ini
dan bertanya pada mu, apa bedanya saung dan rumah.
Jelaskanlah!
Bila kau ingat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia