2 Untuk 2: Kita.
Hari ini adalah hari terakhir dari surat-surat cinta ku selama 30 hari.
Hari ini pula adalah hari ke 59 yang sudah ku jalani bersama mu, sebenarnya lebih dari itu.
Sebab tak cukup rasanya 24 jam dalam sehari waktu ku untuk mu.
Banyaknya surat yang sudah ku tulis, seringnya aku menyisikan waktu untuk berenang dalam aksara, itu semua karna kamu. Sebab dari 1 hingga 30 hampir keseluruhan kamu lah penyebab adanya tulisan itu. Meski beberapa ku utarakan untuk mereka di luaran sana, tapi percayalah selalu ada kamu dalam sela pikiran ku. Aku tak tahu dan tak ingin pula untuk tahu apa kamu baca tiap rangkaian kata ku atau tidak. Yang ku tahu dan selalu ku tahu adalah bahwa kamu telah menyayangi ku selama 59 hari ini. Sepatutnya sudah ku balas itu semua dengan rasa sayang yang ku punya untuk mu. Maka jadilah kita, dua insan yang sedang menyayangi dan semoga akan selalu seperti itu.
Dica,
Aku tak pernah bermimpi dan tak pernah ada dalam pikiran ku untuk memiliki kamu.
Tapi kamu adalah doa ku yang dikabulkan. Sebelumnya hati ku lumpuh, dipatahkan terlalu hancur oleh dia yang salah. Tapi berkatnya pula, berdoalah mulut ini untuk meminta sosok seperti mu. Seketika semesta merestui kemudian Dia Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang mengabulkan. Maka kita dipertemukan, diperkenalkan, hingga diizinkan untuk saling memiliki sampai hari ini. Semoga kamu jadi penutup dari segala cerita cinta yang pernah aku lalui.
Dica,
Maaf atas segala sifat ku yang mungkin baru kamu temui sosok seperti ini. Aku yang terlalu banyak berkata, terlalu banyak meminta, terlalu banyak ini dan itu, tapi jangan lupa, aku juga yang terlalu banyak merindu. Hehehe. Maaf pula atas kesialan yang ku berikan dalam hidup mu hingga bisa membuat mu jatuh cinta pada ku. Semoga kelak kesialan itu akan menjadi syukur mu yang tak pernah usai karna bisa memiliki aku.
Dica,
Terimakasih atas tawa yang selalu meletup oleh tingkah mu yang kadang di luar nalar ku. Terimakasih atas hangat dekap mu yang disana kini ada lantunan terindah yang selalu ingin ku dengar, degup jantungmu. Terimakasih atas jari-jari mu yang kini telah mengisi kekosongan di sela jari-jari ku. Terimakasih atas semua hal yang mungkin sederhana tapi cukup untuk buat kita bahagia. Ah terlalu banyak terimakasih nampaknya. Tapi tak sebanyak terimakasih ku untuk Tuhan, sebab tanpa-Nya mungkin surat ini tak kan pernah ada.
........
masih terlalu banyak hari yang akan kita lalui. Masih terlalu banyak juga apa-apa yang belum kita ketahui yang akan datang pada hubungan ini. Ntahlah akan seperti apa di kemudian hari, tapi milikilah selalu hati ini.
Kini kamu adalah rumahku,
tempat untuk aku pulang,
tempat aku beristirahat,
tempat aku bahagia,
disana aku betah dan tak ingin pindah.
i love you, Dica.

Komentar
Posting Komentar