Sebelum Benar-Benar Pagi

Tak pernah tahu jam berapa yang benar-benar menyatakan bahwa sudah pagi
Tak pernah tentu jam berapa tepatnya Sang Maha Hangat menguasai langit angkasa
Tak pernah mengerti mengapa harus ada "Selamat" di tiap pagi
Dan tak pernah ku bayangkan sebelumnya bahwa aku sudah pernah beberapa kali bahagia, bahkan sebelum benar-benar pagi.

Kicauan burung yang banyak orang dengar saat pagi pun tak ada ku dengar, berarti benar kalau waktu yang ku alami itu sebelum benar-benar pagi. Udara yang ku rasakan saat itu pun tak hangat, itu pertanda bahwa belum ada Sang Maha Hangat. Lalu apa yang menguasai langit angkasa? Bulan? Ya. Tapi tak kuning seperti sinarnya saat gelap, melainkan putih, bagaikan kapas yang tergantung tanpa tali di angkasa.

Dari sana banyak pikir dan tanya ku yang belum ku tahu apa jawabnya. Salah satunya adalah; Apakah akan banyak bahagia 'sebelum benar-benar pagi' lainnya yang akan ku lewati bersama mu? Itulah yang sampai sudah hampir pagi aku mengetikan ini belum juga ku tahu jawabnya. Tapi ingin ku iya. Tapi siapalah aku ini, hanya seseorang yang selalu banyak 'tapi' dalam hidupnya dan tak kurang tak lebih tak mampu pun melawan kuasa alam. Berpasrah pada keadaan Sang Waktu yang maju tanpa pernah kenal pemberhentian.

Yang Maha Segalanya, beberapa hari ini banyak doa ku yang ku layangkan ke tempat-Mu berada.
Semua doanya berisi hal yang sama. Mungkin akan selalu ku layangkan doa itu. Doa yang tiap baitnya hanya aku yang hafal. Doa yang mana tiap orang pasti sudah menduga bahwa itu doa aku sebagai pengirimnya. 

Maka bersama semesta, kabulkanlah, pertimbangkanlah kembali bilanya Kau tak yakin untuk mengabulkan, agar berubah keputusan-Mu dan kelak menuruti pinta dalam doa ku. Maka akan ada (mungkin) bahagia ku di tiap hidupku kelak bersama dia, selalu, bahkan sebelum benar-benar pagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia