Habis semua disini.
Yogyakarta, 17 Februari 2014
"Seperti dihujani ribuan es, kemudian membeku, lalu hancur"
Aku sulit bernapas. Rasanya bagaikan ada lubang hitam yang menelan secara utuh jantung dan paru-paru ku. Sudah ku coba membuka mulut ku lebar-lebar untuk membantu hidungku mendapatkan oksigen, tapi semuanya sia-sia. Sama dengan apa yang sudah ku lakukan, sia-sia.
Aku tak pernah bersikap jahat kepada mu. Segala bentuk amarah dan kesal ku dengan mu, ku hapuskan dengan cuma-cuma, semata-mata hanya karena rasa sayang ku padamu. Tapi apa yang kamu lakukan? Mungkin kata 'jahat' saja tidak cukup untuk menggambarkan dirimu yang sekarang. Tak punya hati? Rasanya itu pantas ku ucapkan. Maaf, izinkan aku untuk menjahati mu kali ini dengan berkata "Kau tak punya hati."
Tak ada pisau tajam yang menghujam jantungku, tak ada goresan luka di paru-paru ku, tapi mengapa rasanya begitu sulit untuk bernapas? Padahal bila ada alat yang bisa ku gunakan untuk melihat oksigen di sekitarku, akan ada lebih dari banyak oksigen yang melayang-layang disana. Lalu apa yang membuatku sulit bernapas? Oh, ketika lagi sayang-sayangnya lalu ditinggalkan begitu saja. Ya, itu yang membuatku sulit bernapas.
Seperti dihujani ribuan es saat aku mendengar segala yang kau ucapkan. Lalu ku pahami semua kata yang terucap dari mulutmu, hingga aku membeku. Sampai saat kau menyudahi semuanya. Aku tak bisa kembali mencair, seluruh tubuhku dingin dan entah harus mencari kehangatan dimana lagi, sebab aku sudah tak punya pelukan. Lalu ku putuskan untuk, hancur.
Adakah aku salah hingga kau menyakiti ku dengan rasa yang lebih dari sekedar sakit?
Adakah aku pernah meninggalkan mu barang sedetik hanya sekedar untuk mengisi hati ku dengan cinta yang lain?
Adakah aku marah saat kau berbuat salah?
Adakah kata ku yang ku dustakan saat mendongengkan padamu semua yang ku rasa?
Tak pernah ada... Bahkan berpikir untuk membuat luka di hati mu saja aku tak berani.
Aku selalu memaafkan mu dalam salah yang kau buat.
Aku selalu menunggu mu dalam semua waktu yang sedikit kau miliki untuk ku.
Aku selalu mengerti mu dalam keadaan banyak perempuan sana yang bisa selalu ada disisimu.
Aku selalu hangat bagai peluk yang kau berikan, meskipun sikap mu sedingin udara kutub.
Aku selalu tersenyum pada semua perlakukan acuh tak acuh mu.
Aku selalu bermimpi tentang mu, dimana rindu bisa sedikit terobati.
Aku selalu menyebut namamu dalam doa ku, agar senantiasa kau selalu dijaga oleh-Nya.
Aku selalu menyimpan cemburu dan selalu percaya bahwa aku selalu di hatimu.
Aku selalu menyebut namamu, dan merangkainya menjadi barisan puisi yang indah di kepalaku.
Aku selalu membanggakanmu di depan mereka yang berkata aku bodoh karena bertahan dalam ketidak bahagiaan.
Aku selalu selalu dan selalu mempertahankan segala jalan cerita yang sudah kita buat, agar bisa tetap ada cerita selanjutnya masih dengan mu.
Aku selalu salah, bahkan dalam hal ini banyak peran salah yang ku lakukan.
Aku...ya aku yang kini bagai dihujani ribuan es, membeku, lalu hancur, karena mu.
Anggap saja segala yang ku tulis di lembar maya ini adalah segala bentuk yang berlebihan dari emosi ku. Sebelumnya aku tak pernah sesakit ini, tapi sekarang bahkan tak bisa ku bayangkan obat apa yang bisa menyembuhkan rasa sakitnya.
Iri aku dengan mu, semudah itu kau menyudahi segala bentuk perjuangan yang telah ku lakukan, dan kini kau malah terlihat lebih bahagia. Ah harusnya dari dulu saja aku tak pernah bersamamu, kalau itu malah bisa membuat mu jauh lebih bahagia. Kau tak pernah bangga milikiku, dan kau tak pernah bahagia bersamaku. Kebersamaan mu dengan ku hanya semata-mata bayanganmu yang menginginkannya bukan ragamu seutuhnya. Adakah aku salah dalam kalimat ini? Ya memang aku selalu salah.
Kini harus ku akui, segala yang diucapkan mereka benar. Kini aku menyesali, karena tak pernah membenarkan ucapan mereka sedari awal. Kini aku benar-benar sadar kalau aku bodoh. Bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dalam keadaan yang tidak membahagiakan.
Tak ada ucapan terimakasih yang harus ku utarakan untukmu. Sebab sudah selalu ku lakukan tiap perbuatan baik yang kau lakukan padaku. Kini perbuatan mu menyakitkan, apakah harus juga ku ucapkan terimakasih? Tak ada kekuatan untuk bisa mengatakan itu.
Percayalah,
Aku sudah memaafkan segala hal yang menyakitkan yang kau berikan,
Aku sudah lupakan malam dimana rasanya aku sulit bernapas,
Aku sudah relakan langkah mu pergi sampai bayangmu pun ikut meninggalkan,
Aku sudah mengerti bahwa segala yang terjadi ini adalah demi kebaikan ku,
Aku sudah tak lagi mengeluarkan air mata hanya sekedar untuk menangisi mu,
Aku sudah jauh lebih bahagia dari saat kau meyudahi segalanya.
Percayalah,
segala yang ku tulis tadi tak lebih dari sekedar hanya tulisan belaka.......
Komentar
Posting Komentar