Kini aku hanya bayangan, yang akan dilupakan.

Yogyakarta, 16 Februari 2014




Sebelumnya kita tak pernah saling mengenal;

tak pernah mengetahui nama,
dan tak pernah mengetahui bagaimana bunyi suara masing-masing dari kita.

Tak pernah juga sebelumnya aku bermimpi bisa mengenal mu;
tak pernah pula berdoa untuk dipertemukan dengan mu,
dan tak pernah berharap untuk bisa melalui hari dengan mu.

Bahwa sesungguhnya kamu pernah menjadi syukur yang tak henti aku panjatkan,
kamu pernah menjadi pencipta dari segala tawa,
dan kamu pun pernah menjadi sosok yang ada saat ku membuka hingga memejamkan mata.

Tapi seketika yang sudah biasa menjadi tak biasa;
tak biasa aku terlalu lama kau biarkan sendiri,
tak biasa aku terlalu lama menunggu hanya untuk sekedar mendapat kabarmu,
dan ini tak biasa, bukan seperti kamu saat pertama kita bertemu muka.

Dan itu adalah awal aku menjadi sebuah bayangan.....

Bersiap pergi dari hati mu meski dengan kaki yang berjinjit,
mengunci rapat mulut ini agar tak ada isak tangis yang terdengar,
menahan sekuat tenaga air mata yang telah penuh di penampungannya,
dan membiarkan hati ini menahan sakit dari segala perpisahan yang akan dimulai.

Berbahagialah kamu...
yang mungkin dulu banyak waktu mu kau habiskan dengan ku, dan itu percuma.
yang mungkin dulu berada kita dalam satu dekapan, dan kini hanya saling merasa kedinginan.
yang mungkin dulu tertawa dalam ranah canda yang sama, kini tertawa dengan orang yang berbeda.
yang mungkin dulu banyak kisah kita cipta, kini hanya dikenang, diingat, lalu dilupakan.

Dan aku siap, menjadi bagian dari hidupmu dulu, menjadi kenangan dalam ingatanmu, menjadi bayangan dalam retina matamu, yang akan kamu lupakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia