Surat Terjauh.

Yogyakarta, 26 Februari 2014



"Aku mengulurkan tangan kananku padamu untuk kau jabat. Ya… aku ingin kita berjabat tangan, sebagai teman. Sebagai dua orang yang saling kenal."


Tak ingin ku sambut uluran tanganmu, sebab kita sesama hawa. Mendekatlah, seakan raga kita berada dalam tempat yang sama, kemudian ku dekap. Sebab dekapan lebih hangat kekuatannya bila dibandingkan uluran tangan. Dan kini kita sudah saling mengenal, walau tak pernah menatap mata secara langsung, tak pernah saling mendengar tawa yang kita punya, tapi kita tetap di bawah langit yang sama.

Terimakasih atas bait kata yang telah kamu rangkai untuk ku yang kini telah menjadi lantunan kalimat indah dalam blog mu. Ah, siapalah aku ini yang kamu kagumi tulisannya. Tak pantas. Tulisan ku tak seberapa dibanding balas-balasan surat mu dengan lelaki mu. Iri, lelaki ku selalu berkata tak bisa bila ku ajak ia untuk berenang dalam lautan kata. Iya, adam ku berbeda dengan punya mu yang selalu berani tenggelam dalam aksara. Duh kenapa jadi bercerita tentang adam ku? Tak apa. Itu sebagai penghapus segala bentuk cemburu mu pada ku. Percayalah, aku sudah punya rumah, sudah betah berada disana. Tak punya niatan untuk pindah, jadi tak usah khawatir aku akan menempati rumah mu hehehe.

Kamu tahu apa yang paling sulit dari memasukan benang ke dalam lubang jarum di kala gelap? Percaya. Kata itu mudah sekali untuk diketikan tapi sulit untuk dilakukan. Tapi percayalah, akan mudah untuk percaya bila dari dirimu sendiri yakin kalau kamu bisa percaya. Maka percayalah, bahwa kini kamu berada di rumah yang tepat, dan rumah itu pun akan percaya bahwa kamu penghuninya yang tepat pula. Jadi tak usah sering-sering cemburu, lebih baik berlatih untuk percaya. Percaya? Ku harap iya :)



Dewi di langit jingga,.

Tapi tahukah kamu bahwa aku mungkin satu-satunya sosok yang bukan pengagum senja. Jadi tak terlalu tertarik dengan langit yang berwarna jingga. Beda dengan lelaki mu, banyak senja yang telah diabadikannya, nampaknya ia terlalu jatuh cinta dengan langit jingga. Hahahaha.

Aku pengagum pagi. Sebab suka tak suka, mau tak mau, semua orang harus suka dengan pagi. Tak akan pernah ada siang pun senja bila tak dahulu melewati pagi. Sebabnya itu aku suka, sebab pagi selalu diutamakan. Pagi selalu mendapatkan selamat, dimana-mana selalu ku dengar "Selamat Pagi!" dan jarang atau mungkin tak pernah ku dengar "Selamat Senja!". Sebab itu juga aku suka pagi.

Ya tak terlalu ada gunanya juga untuk kamu tahu ini, aku hanya bercerita. Hehehe.


Hmmm..

Oiya, untuk panggilan. Semerdeka mu lah mau apa memanggilku. Asal jangan panggil sayang, sebab sudah ada yang menjalankan tugas itu. Hahaha. Apalah artinya sebuah panggilan, kalau dengan "eh" saja kita sudah tahu kalau kita dianggap ada :)

Sepertinya sudah, sebab sudah lelah aku berenang dalam aksara, hari ini terlalu banyak yang ku kerjakan, tapi ku sempatkan waktu untuk membalas suratmu, seperti yang kemarin sudah ku katakan.

Selamat membaca ya, terimakasih sudah menjadi penyuka tulisan ku.
Silahkan coba seduh milo kemudian beri es, mungkin kamu juga akan suka es milo.
Sebab hidup tak semudah membuat es milo, tapi berusahalah untuk miliki hidup yang semanis es milo. (jangan lupa tambahkan gula. secukupnya.) :)



- ARA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia