Surat Untuk Mantan
Ini yang pertama dan yang terakhir.
Bacalah, agar kamu tahu bagaimana aku setelah tanpa mu.
Awalnya, mungkin memang kita terlalu menyingkat waktu. Terburu-buru
dalam hal meresmikan aku dan kamu yang menjadi kita. Tapi tak masalah, karena
benar adanya ku lihat di kedua mata mu sebuah rasa yang lebih dari hanya
sekedar menjadi teman. Sekiranya hatiku belum sepenuhnya siap untuk dihuni,
tapi ku beranikan diri, berkata ‘iya’ dalam segala pertanyaan yang kau
sampaikan lewat bait teks yang berujung atas kepemilikan diriku untuk mu. Ya,
setelah itu aku milik mu.
Hari demi hari tak ada yang aneh, sampai akhirnya saat akan
menuju hari ke-90 semuanya usai. Ya, selesai. Sudah tak ku miliki lagi dirimu
pun tak lagi kamu memiliki aku.
Apa yang salah? Mungkin sebuah bait teks yang ku kirimkan
untukmu menjadi pertimbangan mu untuk meninggalkan ku. Ah, lupa sudah aku
mengetikan apa saat itu. Tak ingat sedikitpun, sebab telah bertekad sejak kamu
pergi, untuk melupakan semua tentangmu kecuali nama mu. Bagaimana bisa
melupakan nama, itu kan yang selalu ku sebut di depan teman-teman ku atas rasa
bangga karena memiliki mu. Tapi (mungkin) kamu tak pernah melakukan hal itu,
(mungkin) tak pernah ada rasa bangga di dirimu karena tlah memilikiku, maka kamu
pergi menyudahi segalanya.
Tapi perlu kamu tahu, cara mu meninggalkan ku adalah
seburuk-buruknya perilaku seorang lelaki terhadap perempuan. Bagaimana bisa;
kamu bawa aku ke tempat dimana matahari kembali ke peraduannya dengan indah, kamu
buat toreh senyum indah di bibir ku karena semua hal bahagia itu, kamu hapuskan
semua rinduku karna tlah lama kita tak saling bertemu muka, dan rasa sayangku pun
makin bertambah, tapi kemudian kamu tinggalkan aku. Bagaimana bisa kamu setega
itu? Rasanya jantungku berhenti berdetak, ikut terkejut mendengar semiliyar
alasan yang keluar dari mulutmu, padahal intinya kamu ingin berpisah dengan ku.
Terlalu banyak betutur kata padahal ingin meninggalkan membuat banyak juga air
mataku yang terbuang. Tapi terimakasih, bertambalah lagi pengetahuan kini; tahu
bagaimana rasanya ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya.
Setelah perpisahan kita, aku lemah dalam sujud ku. Masih berurai
air mataku tapi tak lupa ku turutsertakan doa di dalamnya. Tidak, aku tak
mendoakan mu yang buruk-buruk, aku hanya mendoakan yang baik-baik, untuk diriku
sendiri. Tak sudilah lagi menyebut nama mu dalam doaku, setelah perbuatan
teramat menyakitkan yang kamu lakukan. Mau bagaimana? Mungkin semesta tak
merestui kebersamaan kita, tak ku hakimi diriku dengan pernyataan ‘salah
mencintai mu’. Sebab cinta tak pernah ada yang salah, hanya ada cinta yang jatuh di
orang yang tak tepat.
Bait terakhir, yang perlu kamu baca baik-baik dan berulang
kali. Terimakasih telah meninggalkan ku, karena setelah itu ada ribuan doa ku
yang dikabulkan. Kini aku tlah bersama lelaki yang baru, berbahagia tanpa
pernah lagi memikirkan mu di masa lalu. Berbahagialah kamu yang telah
meninggalkanku, seperti aku yang bahagia
karna tlah berpisah dengan mu. Ini adalah perpisahan yang membahagiakan, meski
ada luka di awal.
Terimakasih :)
Komentar
Posting Komentar