Yang Di Samarinda, SamaLinda.
Jakarta, 2 Februari 2014
Mendung lagi,
Seperti biasa, langit ibu kota di pagi hari tak bermatahari. Matahari biasanya datang saat hari mulai siang. Ya begitulah langit kota tempat ku lahir. Bagaimana dengan langit kota mu? Indah pasti, seperti kemarin saat disini senja, kau kirimkan rekam gambar senja di langit kotamu. Kau tahu? Bikin aku semakin ingin menapakan kaki disana, di kota mu, Samarinda.
Kau yang di Samarinda, selamat 31 hari SamaLinda. Hehehehe. Pasti semakin banyak sifat asli ku yang mulai terlihat. Yang awalnya ku tutupi ya untuk memikatmu agar bisa kau ku miliki. Tapi semakin kita mengenal, akan ada banyak hal yang kita lalui. Semoga kau selalu bersabar dan bertahan SamaLinda. Iya dengan aku.
Harus bagaimana menjelaskan padamu bahwa sudah banyak hutang rindu ku padamu? Kapan ke Jogja lagi? Lekaslah kita pulang, ke kota yang mempertemukan Jakarta dan Samarinda, iya Jogjakarta. Bertemu, bayar rindu dengan suara dan tatap mata langsung tanpa perlu bantuan alat teknologi.
Untuk mu yang berada di sebarang pulau sana,
Aku rindu.
Untuk mu yang berada di pulau yang memiliki waktu satu jam lebih cepat dari pulau ku,
Aku rindu.
Untuk mu yang memiliki tangan hangat yang senantiasa menggenggam tangan ku,
Aku rindu.
Dan untukmu, dimana pun aku dan kamu berada, kita tetap di bawah langit yang sama.
Alasyu, Dic.
Nasi goreng kurang bumbu...
BalasHapusdi sini abang tenang merindumu...