Pertama: Jogja.
Yogyakarta, 9 Februari 2014
Dan sebelumnya harap ku dikabulkan.
Alhamdulillah....
Malam sebelum kaki ini meninggalkan tanah kelahiran, aku meminta,
dalam tulisan yang ku rangkai kata demi katanya aku menginginkan kerpegian ku diiringi oleh cahaya rembulan.
Dan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyanyang pun mengabulkannya.
Dengan toreh senyum dan sedikit haru karna harus meninggalkan kembali keluarga ku, aku berangkat menuju kota rantauku.
Selalu ada tangis dan berat hati yang tak tersampaikan saat harus membiarkan raga ini berada jauh lagi dari mereka yang sepenuh hati tanpa pamrih menyayangiku.
Terutama lelaki ku. Pria yang senantiasa mendendangkan adzan dengan suara merdunya ketika aku baru tiba di dunia, ia Ayahku.
Pria yang senantiasa berkeringat setiap harinya hanya untuk mencari uang agar perut ku kenyang dan otak ku pintar, ia Ayahku.
Pria yang tanpa lelah memohon, bersujud, bersimpuh, berdoa tanpa mengenal waktu, dan selalu menyelipkan nama ku dalam doanya, ia Ayahku.
Pria yang rela hidup sendiri selama hampir 8 tahun hanya untuk mencarikan wanita terbaik untuk ku dan untuk dirinya. Setelah kepergian wanita yang ia cintai, kini ia miliki kembali, sepasang mata dan satu hati yang kini bisa ia miliki setiap hari, ia Ibuku.
Terimakasih, Papah.
Untuk tiap perjuangan yang kau lakukan untuk diriku, tanpa pernah memikirkan sedikitpun betapa lelahnya ragamu.
Kelak akan ku gantikan posisimu, dan bersenang-senanglah dengan cucumu. Suatu hari nanti.
Salam manis,
Anak gadis mu yang akan memulai semester-6 nya di Jogja (lagi).
Komentar
Posting Komentar