Surat Pertama.
Jakarta, 01 Februari 2014
Langit kelabu,
Hujan datang dan pergi sesukanya sendiri. Layaknya hati yang mudah terisi meski kadang harus siap menghadapi sepi. Tapi Engkau Maha Baik, Maha Penyanyang, Maha Penguasa dalam menebar kasih sayang ke tiap yang Kau cipta. Syukur ku dalam kalimat ini, atas kasih sayang yang telah Kau beri padanya hingga ia bisa menjaga ku hingga hari ini.
Ntah akan berapa banyak syukur yang akan ku kirimkan pada-Mu yang mengandung namanya. Kau kabulkan segala doa setelah aku pernah merasa jatuh dan sakit yang dulu ku pikir tak pernah ada obatnya. Tapi ternyata aku salah, kini Kau buktikan, dengan mengirimkan ku obat tanpa perlu ada sepeser uang pun yang harus ku keluarkan. Ku bayar obat yang Kau beri ini dengan syukur yang tak pernah habis ku panjatkan. Dia, adalah syukur ku pada-Mu yang tak pernah habis ku panjatkan.
Masih ku ingat betul, dengan kedua kaki bersimpuh, tangan terangkat ke atas dan air mata yang alirannya deras membuatku terisak dan mencaci segala apa yang sudah terjadi di hidupku. Tapi setelahnya aku memohon, memanjatkan kata demi kata apa yang aku inginkan setelah hati ini dikoyak tanpa ampun oleh lelaki yang ternyata salah dan ku sesali pernah ada di hidupku. Aku memohon, semoga setelah ini akan ada sosok baru yang (hanya Kau dan aku yang tahu apa yang aku minta). Dan kemudian semesta menyetujui, berkonspirasi dengan segala apa yang ada di bumi dan di langit sana, maka kini aku memiliki apa yang telah aku mohonkan. Dia, adalah syukur ku yang tak pernah habis aku panjatkan.
Terimakasih, Tuhan atas dia. Semoga dia akan selalu jadi syukurku yang tak pernah henti aku panjatkan.
'Mahardika'.
Komentar
Posting Komentar