Penikmat Langit.
Yogyakarta, 11 Februari 2014
Entahlah........
Setibanya kaki di tempat paling tinggi tapi tak menyentuh awan, lelaki ini menyandarkan tubuhnya di tanah.
Terlihat lelah raut wajah dan mata setelah menghabiskan ribuan detik untuk bisa tiba di tempat tinggi ini.
Entahlah......
Mengapa langsung ia rebahkan tubuhnya? Bukankah seharusnya ia berbahagia terlebih dahulu karna sekarang dirinya sudah tinggi? Atau ia masih ingin merendah?
Yang jelas, tubuhnya bercinta dengan tanah, mengacuhkan cahaya matahari dengan memejamkan matanya, kemudian menikmati tiap suara deru angin.
Ia tak memperdulikan apa-apa yang terjadi di sekitarnya, ia tak perduli dan bahkan tak ingin perduli.
Di benaknya hanya ada satu hal "Ia harus menikmati apa yang sudah ia capai. Ketinggian ini."
Lelaki ini beruntung;
mungkin ia telah dimiliki oleh salah satu bidadari,
mungkin ia memiliki ribuan kawan yang siap menopang tubuhnya saat jatuh,
mungkin ia memiliki suara merdu yang bahkan burung pun berhenti berkicau tiap mendengar suaranya,
dan mungkin ia adalah ia, lelaki penikmat langit tanpa mau tahu apa yang terjadi di bumi.
Semua hanya mungkin, sebab aku hanya mengenal namanya, tak tahu jalan cerita hidupnya.

Komentar
Posting Komentar