Pulang.

Jakarta, 8 Februari 2014


Lagi-lagi hujan.
Dimana mataharimu, Jakarta?
Hampir 14 hari disini tak tampak jelas mentarimu, sekalipun ada ia sembunyi.
Kenapa? Apa ia marah karna aku tak pernah pulang?
Kalau memang benar begitu sampaikan maafku. Katakan pada mentari, jangan iri, bila ternyata kini aku lebih cinta Jogja.

Jakarta, mengapa tak pernah berubah?
Sekalipun ada perubahannya tapi tak pernah tampak jelas.
Sebut saja jalan gang rumah ku yang makin menyempit. Berubah, tapi tak banyak orang sadar. Mungkin karna mereka sibuk mencari uang hingga tak punya barang sedetik waktu untuk memperhatikan jalan gang.

Menyebalkan. Ia di masa lalu yang selalu saja bertanya akan kepulangan ku, kini setelah aku disini ia menghilang. Jangankan rupanya, kabar dirinya pun aku tak dapat. Kemana ia? Sembunyi? Atau juga iri karna ternyata sekarang aku lebih cinta Jogja? Sama saja seperti mentari. 
Biarlah, dikemudian hari aku akan dapati ribuan pertanyaan yang sama dari dirinya "Kapan ke Jakarta?". Bosan dengarnya.

14 hari di kota asal tanpa mentari, rasanya bagai air yang ingin dimasak agar matang tapi lupa dinyalakan kompornya. Payah. Kota asal yang tak menyambut ku dengan hangat. Maafkan aku yang jarang pulang, sedang sibuk menanam cinta di kota rantau. Doakan tumbuh subur ya. Nanti setelahnya aku kembali, untuk bagikan cinta itu disini.

Malam nanti, jangan hujan. Iringi kepulangan ku dengan cahaya bulan.
Aku mohon.


Salam ku,
Gadis yang jarang pulang.
......karna hatinya sudah betah di kota orang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia