Entah ini namanya apa.

"Andai melupakan semudah mencuci piring yang kotor lalu kotorannya hilang, pasti pikiran ku tak akan penuh dengan kenangan."



Sudah hampir memakan waktu beberapa hari, seharusnya lukanya benar-benar sembuh dan tak akan pernah lagi terasa sakit bila disentuh. Tapi ini? Tersentuh sangat halus dengan kenangan pun perihnya bagaikan luka yang ditetesi oleh cuka. Entah ini namanya apa.

Banyak yang berkata percuma aku seperti ini, padahal kau tak melakukan hal yang sama. Tapi aku tak perduli. Justru aku nikmati sakitnya, ditiap kenangan yang melintas menyentuh luka. Entah ini namanya apa.

Merindukan mu harusnya bukan lagi menjadi tugasku. Sebab tak ada lagi ikatan diantara kita. Melupakan mu harusnya menjadi pekerjaan ku sekarang. Yang sudah ku tekuni, tapi terus saja tak berhasil.

Entah ini namanya apa. Mungkin aku belum terbiasa. Sebelumnya aku terbiasa menunggu, menunggu kamu. Tapi kini? Rasanya ingin selalu memejamkan mata dan bermimpi bahwa aku masih menunggu mu. Setidaknya kau di mimpi bisa datang untuk menemui ku, tidak seperti nyatanya.

Seperti berada di tengah ribuan orang, tapi tak ada satupun yang mengenali ku. Meski kini sudah bisa bebas kembali menghirup udara, tapi tetap saja ruang di dada seperti rumah kosong. Hampa.

Belakangan, aku tak suka sendiri. Bagai ada perang di pikiran ku, di satu bagian memperjuangkan hak nya untuk melupakanmu, dan di bagian lain juga memperjuangkan hak nya untuk masih mengingatmu. Entah mana yang akan jadi juara dari perang itu. Karena aku sendiri memilih untuk menghindar, dengan tangisan.

Andai ada seseorang yang menawarkan jasa untuk bisa menghapus tiap kenangan, aku pasti akan menyerahkan apa saja untuk bisa membeli jasanya. Agar tiap mengingatmu, tak ada lagi sakit yang ku rasa.

Ku biarkan tiap tetesan air mata mengalir dalam tiap kata. Agar satu per satu dari kata itu mengalir bersama air mata dan menyatu membentuk kalimat-kalimat untuk menjelaskan segala yang terjadi saat ini. 

Sebab aku tak mengerti, terlalu rumit dari soal matematika sekalipun. Terlalu sulit diartikan maksud semuanya, padahal masih menggunakan bahasa yang biasa ku gunakan. 

Di akhir kalimat hanya ingin berkata, bahwa aku masih rindu. Entah ini namanya apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia