Setelah itu

          Sebelumnya, aku pernah bersama dengan seseorang dalam kurun waktu yang cukup lama. Kita (ya dulu kata itu masih bisa mengawakili aku dan dia) tak pernah sehari pun tak menghabiskan waktu untuk tertawa bersama, tak pernah sedetik pun tak saling bertukar kabar, tak pernah semenit pun tak mendengar suara walaupun hanya lewat sebuah alat komunikasi. Aku dan dia, bagaikan tak akan pernah terpisahkan sekalipun kami tak hidup dalam raga yang sama. Sampai akhirnya semua usai begitu saja. Bagai debu yang ditiup angin yang berhembus, semua hilang tanpa bekas seperti tanpa pernah terjadi apa-apa.


                                  Cinta? Aku mulai apatis dengannya.


         Butuh waktu, bukan hanya itu. Aku juga harus bisa bersahabat dengan keadaan. Keadaan dimana segalanya sudah nampak berbeda. Hampir 365 hari aku tak bersama siapapun. Banyak yang singgah tapi hanya sekedar saja. Tak ada yang menetap. Karena aku pun tak mempersilahkan mereka untuk menetap. Karena bagiku sulit mengizinkan seseorang untuk bisa tinggal bila ia tak membawa apa-apa untuk bertahan tinggal di tempatku. Aku tak suka dengan seseorang yang hanya membawa janji untuk menetap, tapi akhirnya pergi juga. Aku tak suka dengan seseorang yang berkata akan tinggal, tapi ternyata berpaling ke yang lainnya. Aku tak suka, dan tak akan pernah mau mengizinkan sembarang orang untuk tinggal disana, di hatiku.

         Aku mulai berpikir, aku mulai ragu. Hati dan pikiran ku mulai satu tujuan. Tak biasanya mereka bisa bersepakat untuk satu kesimpulan. Kesimpulannya? Ya. Aku apatis dengan cinta. Tak percaya bahwa akan ada lagi orang baru dan akan ada lagi cerita baru. Karena apa? Yang sudah ku jalani begitu  lama, yang sudah ku rangkai begitu indah, yang sudah ku nyatakan bahwa akan abadi selamanya, tapi kandas juga. Jadi ku putuskan, untuk menutup pintu itu, dan mungkin akan butuh lama untuk kembali membukanya. Ya, pintu itu, pintu hatiku.

         Tapi ternyata aku lemah, aku tak cukup kuat untuk menepati segala yang telah ku ucap. Disana ada yang mengetuk pintu itu. Tadinya aku tak mau membuka, karena siapalah yang mengetuk, hanya orang asing yang tak ku kenal. Bahkan aku hanya tau nama panggilannya saja, tak tau siapa nama lengkapnya. Aku tak pernah tau bagaimana wujudnya, cuma tau sosoknya hanya dari sebuah wajah yang diabadikan dengan kamera. Tapi seseorang itu berbeda, meskipun tak banyak hal yang berbeda, tak banyak kata yang bisa ia ucapkan agar ku izinkan masuk, tapi tak tau mengapa, setelah pertemuan pertama aku susah melupakan.

         Lalu ku izinkan ia untuk mewarnai hari ku. Entah warna apa yang telah ia goreskan, yang jelas aku bahagia. Tapi yang ini berbeda, tak bisa setiap hari ia memberikan warna untuk hidupku. Terkadang disana hanya kelabu, karena kita tak bisa bertemu. Ia dengan hidupnya, punya kewajiban yang harus ia kerjakan, aku dan hidupku pun juga punya kewajiban yang harus aku kerjakan, aku dan dia juga punya kewajiban di hidup kita untuk dapat saling membahagiakan.


Dan aku punya rumah

          Bukan rumah yang dibangun dari tanah dan batu bata itu, tapi ini rumah dimana tempat aku bisa merasa nyaman. Melepas lelah, menyimpan duka, berbagi tawa, bertukar cerita. Ya rumahku, kini dalam peluknya. Setelah mungkin enampuluhan lebih hari telah aku jalani bersamanya, aku candu dengan hangat genggam tangannya, dengan ramah tatap matanya, dan tenang mendengar suara degup jantungnya. Bahkan aku, seseorang yang tak pernah bisa untuk menunggu, seseorang yang selalu terkalahkan oleh cemburu, seseorang yang tak bersabar untuk mendapatkan sesuatu, mendadak berubah dalam seketika menjadi bukan aku. Kini aku terbiasa, menunggunya menyelesaikan segala kewajibannya, menyembunyikan rasa cemburuku bila ia dekat dengan perempuan lainnya, dan bersabar untuk kembali berhadapan dalam pertemuan.



Karena aku bukan sekedar sayang, bukan sekedar cinta dan bukan sekedar ingin,
tapi aku, butuh, dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia