Selamat ulang tahun, Papah!
Pah, happy birthday. Wish you all the best!
Hari ini adalah harinya bertambah umur, mungkin lebih tepatnya berkurang, itu yang ku tahu.
Yang tak ku ketahui adalah sampai umur ke berapa Tuhan menyediakannya untuknya.
Bahkan ia sendiri pun tak tahu. Andai aku tahu, tak kan pernah satu detik pun ku lewatkan tanpanya.
Aku bersamanya saat pertama aku membuka mata, meski pertama kali yang ku kenal adalah mamahku. Tapi suara pertama yang melatunkan ayat suci di telinga ku adalah ia, pria yang sampai saat kini ku panggil dengan sebutan papah.
Usianya tak lagi muda, aku tahu itu. Tapi parasnya masih terlihat muda. Beberapa orang-orang mengira ia pacarku saat aku dirangkul olehnya. Lucu? Iya. Itulah yang menjadi bahan untuk tawa kami saat kami bisa menghabiskan waktu bersama.
Ia adalah sosok yang keras, tak mau mengalah, dan tak mau dibantah. Dan ia pula satu-satunya orang yang tak pernah menyakiti fisikku. Semarah apapun ia dengan ku, tangannya tak pernah melukai wajahku. Beruntungnya ia jadi papahku.
Aku dan ia pernah berada dalam satu kesedihan yang sama. Tapi ia jauh lebih kuat dari ku. Disaat aku mulai tak sadarkan diri dan menyangkal bahwa kami telah ditinggalkan oleh seseorang yang sangat kami cintai, ia masih bisa tetap berdiri untuk menggendongku. Aku lama berada dalam pelukannya. Habis air mataku membasahi bajunya, dan mulutnyapun terus berkata "Ada papah disini, Nak. Jangan sedih terus ya. Biar mamah tenang." Dan dari situ ia membuktikan ucapannya, ia selalu ada untuk ku hingga kini.
Aku dan ia mempunyai beberapa sifat yang sama. Wajar. Karna aku lahir dari sperma nya bukan? Jadi ada sifatnya yang menurun padaku. Kami? Sama-sama keras. Bersikukuh dengan pendapat kami masing-masing dan sulit untuk mau mengalah. Seperti kejadian 3 tahun lalu, saat aku meminta untuk ia beri izin agar bisa berkuliah di Jogja. Ia menentang keinginanku, bilangnya nanti tak akan ada yang menjagaku bila aku jauh darinya. Tapi ntah setan apa yang merasukinya, hingga ia mengizinkan ku untuk berada di Jogja hingga saat ini.
Aku tak pernah tahu seberapa sulit ia hidup sebagai orangtua tunggal untuk mengasuh aku dan adikku. Aku tak pernah tahu seberapa banyak air mata yang ia keluarkan untuk menahan amarah melihat tingkah nakal ku dan adikku. Aku tak pernah tau seberapa lelah ia bekerja hanya untuk menghidupkan ku dan adikku. Yang aku tahu adalah ia sangat sayang kepadaku dan adikku.
Hampir 8 tahun ia menjadi orangtua tunggal, sampai akhirnya dengan malu-malu, ia meminta restu ku untuk menikah kembali. Awalnya aku berat untuk mengizinkan, lalu aku sadar, bahwa ia perlu bahagia. Dan kata "iya" dari mulutku menjadi jalan untuk ia menikahi seorang wanita yang kini ku panggil ibu.
Kini ia menjadi kepala keluarga baru. Anaknya pun bukan hanya aku dan adikku. Adikku bertambah 2, tadinya. Tapi sekarang bertambah 3. Sebab telah lahir buah hati mungil dari pernikahan papah dan ibu. Mungkin papah tak pernah bayangkan sebelumnya bahwa akan memiliki 5 anak, tapi bahagialah hidupnya karna banyak penerusnya.
...............
Aku menyayanginya tanpa ada satu orangpun tahu seberapa banyak sayangku.
Aku selalu mendoakannya tanpa pernah ada satu orangpun tahu seberapa lelah mulutku menyebut namanya di dalam doa.
Aku selalu merindukannya tanpa pernah ada seorangpun tahu seberapa banyak air mata yang ku linangkan saat menyadari kini kami terpisah jarak.
Yang perlau orang-orang tahu adalah aku bangga memilikinya sebagai papahku.
Ya Allah...
Panjangkan lah umurnya.
Lancarkan lah rezekinya.
Sehatkanlah jasmani dan rohaninya.
Permudahlah segala kesulitan dalam hidupnya.
Bimbinglah terus ia agar tetap berada di jalan-Mu.
Jagalah ia dimanapun raganya berada,
Sayangilah ia sebagaimana ia selalu menyayangiku.
Bahagiakanlah selalu hidupnya, sebab bahagiaku melihat ia bahagia.
.....dan ribuan doa lainnya yang selalu ku panjatkan untuknya, tolong kabulkanlah..
Aaaamiiiiin..
i love you, papah.
Komentar
Posting Komentar