Jakarta tak lagi sama (?)
Dimulai dari abang gondrong yang dulu berjualan kue pukis keliling, sekarang jualan cakwe. Lalu siomay bandung yang hampir tiap hari lewat depan rumah, dulu bentuk siomaynya kotak tidak rata, sekarang bulat sempurna. Jakarta tak lagi sama. Banyak yang berubah yang sebenarnya tak berubah. Abang gondrong yang kini berjualan cakwe padahal dulu jualan pukis, sebenarnya tak berubah, toh ia masih tetap mencari uang dengan berjualan makanan. Bentuk siomay, yang dulu kotak gak jelas dan sekarang bulat sempurna, hanya bentuknya saja yang berubah, rasanya tetap sama, masih enak. Beberapa hal memang nampaknya saja berubah tapi sebenarnya, tidak.
...................................................
Lalu bagaimana dengan kehidupan seorang gadis di ibu kota ini? Hampir setengah tahun kakinya tak menginjak ke tanah basah Jakarta, dan ketika ia pulang, semuanya berubah. Tak ada lagi rumah tempat kemana ia harus pulang. Kini hanya ada kamar, dimana hanya bisa digunakan untuk beristirahat. Di dalamnya, ada sosok pria yang juga beristirahat di kamar yang sama. Dimana rumah yang biasa ditempati pria itu? Oh, telah dimiliki oleh adiknya yang (mungkin) lebih membutuhkan untuk keluarganya. Bukankah seorang abang harus rela mengalah untuk adiknya? Itulah prinsip yang selalu juga dipegang teguh oleh gadis itu, yang bukan lain adalah anaknya.
Kamar ini tak jauh beda dengan kamar si gadis di kota rantaunya. Mungkin ini terlalu sempit untuk diisi oleh barang-barang yang dipindahkan dari sebuah rumah. Bayangkan, barang-barang dari rumah yang terdiri dari dua kamar, harus dipindahkan hanya ke dalam sebuah kamar. Mau tak mau ada banyak barang yang masih terlantar di halaman rumah, rumah ini yang kamarnya ditempati pria ini. Bukan rumahnya yang dulu. Untung pria ini hidup sendiri. Ah tidak juga, ada satu anak lelakinya yang tinggal bersama dengannya. Untungnya lagi anak lelakinya sudah memiliki kamar sendiri di rumah ini, jadi tak harus bersempit-sempitan dengan si pria ini. Kemana keluarganya pria ini? Keluarganya ada di kota rantau tempat si gadis menuntut ilmu.
Mungkin banyak rencana Tuhan yang terselip dari tiap kejadian berubahnya Jakarta si gadis. Kini tak ada lagi alasan untuk si gadis pulang, kecuali keadaan yang memaksa ia harus pulang. Seperti kematian, yang harus dikunjungi untuk sekedar melihat tubuh seseorang terakhir kalinya sebelum akhirnya dikuburkan. Ya mungkin hanya itu yang akan menjadi alasan si gadis untuk kepulangan berikutnya. Ah, andaikan si gadis punya banyak uang, mungkin sebuah rumah mewah sudah ia belikan untuk pria ini, pria yang tiap detiknya berjuang untuk hidup si gadis. Untuk juga hidup keluarganya yang jauh dari pandangan mata.
Pesan Tuhan yang (mungkin) terbaca oleh si gadis itu dari perubahan ini adalah, pindahnya si pria menyatukan kembali dengan anak laki-lakinya. Kini mereka lebih sering bertemu, dan si pria bisa lebih mencurahkan kasih sayangnya setiap saat kepada anak lelakinya itu. Terimakasih Tuhan, dari setiap apa yang Kau berikan, selalu ada baiknya.
"Jaga mereka, keluarga yang tak bisa selalu ku pandang oleh mata, yang tak bisa setiap saat ku tau keadaanya, yang selalu menyembunyikan susahnya mereka dari ku, yang selalu menyebut nama ku di dalam doanya, dan yang selalu menyanyangi ku, walau aku tak tahu seberapa dalam sayangnya itu. Jaga mereka, bahagiakan mereka, karena mereka adalah bagian dari hidupku" - doa gadis itu.
"Mereka tak berubah, mereka hanya tumbuh sesuai dengan keadaan."
Jakarta tak lagi sama.
Akan ku jadikan Jogja sebagai rumah.
Jogja, bolehkan aku menetap?
...dengan dia, yang semoga menjadi orang yang tepat.
Komentar
Posting Komentar