Surat Untuk Sayangku

Yogyakarta, 7 Februari 2015


Selamat pagi, sayang.

Apa kabar?
Sudah hampir dua hari terlewat dari 'hari yang hectic itu'. Hari di mana rasanya ketakutan ku bersarang di dalam hati lalu membentuk sebuah keluarga turun-temurun yang buat sepertinya ketakutan itu tak akan pernah habis dalam diriku. Tapi terimakasih, berkat tangan mu yang senantiasa menggenggam tangan ku selalu, ketakutan itu bisa ku bunuh satu persatu dari induknya.

Ini adalah kala pertama aku menjalaninya. Bagai meniti jalan yang penuh jarum dengan telapak kaki tanpa alas, membayangkannya lagi pun membuat sakit seluruh tubuh, padahal yang sakit hanya kaki. Ku kira sakit paling parah adalah ketika hati mu dipatahkan, tapi kini ada yang mengalahkan. Sakitnya jarum yang dililit dengan benang kemudian dijahitkan di bagain tubuhmu rasanya teramat sakit dari hati yang patah. Terlebih bila pengaruh biusnya habis. Oh haruskah sebelum salah satu kaum membuat patah hati kaum lainnya diberi bius terlebih dahulu? Ah andai kaum Adam dan Hawa tak pernah saling menyakiti seperti Tetuanya. Saling mencinta meski harus terusir dari surga.

Sayang,
lelah kah rasanya berada di sampingku? Pegalkah kedua telingamu tiap mendengar isak tangis ku? Pergunakanlah kedua tangan mu untuk menutup kedua telinga mu, bila rasanya teramat bosan mendengar aku yang menangis.Tak ada yang dapat ku lakukan selain menangis saat merasakan sakitnya, meski ku tahu tangisan ku tak akan bisa meringankan sakitnya. Tapi setidaknya melegakan perasaan ku.

Terimakasih.
Atas 24 jam yang tlah kau berikan untuk ku.
Terimakasih.
Atas nominal yang tak sedikit jumlahnya yang tlah kau ikhlaskan untuk pengobatan ku.
Terimakasih.
Atas cinta yang tak habis, dan semoga begitu seterusnya.

Alafu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersadar

Penasaran

Untuk Akhir yang Bahagia