Aku Pendusta, Bila Dengan Mu.
Yogyakarta, 8 Februari 2015
Harusnya tulis surat dulu.
Harusnya beri kabar dulu. Tak cukup hanya dengan petir yang menyambar dan kilat yang menyala.
Tak cukup jua dengan gemuruh dan awan yang seram warnanya.
Tak bisa kah ucapkan kalimat "aku akan datang" ??? Aku menunggu kalimat mu, bukan tanda-tanda akan kehadiran mu.
Bukan aku tak menyukai kedatangan mu, bukan aku marah bila ternyata aku harus basah. Bukan itu. Tapi aku kecewa, karena tiap kali kau akan datang, kau tak pernah memberikan kabar. Marah. Harusnya kau bisa datang dengan baik-baik. Pun demikian ketika kau akan pergi lagi, semua secara baik-baik. Datang dengan kalimat "aku akan datang" dan pergi dengan kalimat "tugasku selesai, bumi mu telah sejuk. Aku akan pergi". Jangan lupa, 7 warna yang indah itu. Melengkung tanpa orang pernah tahu di mana ujungnya.
Kau jangan seperti dia. Datang dan pergi sesukanya. Itu menyakiti ku. Tugas mu hanyalah membahagiakan ku. Tugas mu lah menutupi segala isak tangis yang ku jatuhkan saat berada di bawah mu. Dan kau adalah sebaik-baiknya tempat untuk bersembunyi. Menyembunyikan segala sakit yang hanya aku yang rasa. Maaf. Aku memang seorang pendusta, tapi tidak ketika bersamamu. Tumpah ruah sepuasnya karena biar hanya kau yang tahu.
Turunlah sesuka mu. Basahilah apa yang menurut mu memang harus basah. Aku tak akan berlindung. Tak kan ku gunakan payung pun juga jas itu. Aku pasrah.
Aku senang berada di bawah mu. Sebab kau tak sedang menghujani ku, tapi kau memeluk ku, dengan dingin mu.
Komentar
Posting Komentar