Aku di samping mu.
Yogyakarta, 11 Februari 2015
Surat cinta untuk seorang wanita yang tak lagi menjalani masa muda, tapi bersiap untuk membangun sebuah rumah tangga.
Hallo, momsky!
Bagaimana kabar hati mu saat membaca surat ini? Masihkah terasa nyeri bila mengingat beberapa perbuatannya yang agak-agak membuat hati mu senut? Bagimana dengan otak mu? Masihkah memutar beberapa adegan indah yang pernah kau perankan dulu dengannya?
Kau memang keras kepala, bila mana semua hal itu masih saja kau lakukan.
Cinta. Adalah rasa yang mungkin bisa menimbulkan rasa sakit tapi tak ada satupun yang orang yang penduli dengan sakitnya. Karena apa? Bagi mereka, jatuh cinta adalah jatuh yang bahagia, jatuh yang bertaburan suka, meski tanpa sadar ada paketan duka yang juga akan mereka dapatkan. Tapi bersyukurlah, sebab hanya orang yang memiliki hati yang bisa merasakan jatuh dalam cinta.
Sudah sejauh mana kini perjuangan mu? Terakhir kita saling tukar cerita, ia yang kau cinta masih sulit ditebak sikapnya. Kadang baik layaknya pangeran di negeri dongeng, kadang juga jahat seakan-akan perampok yang mengeruk harta tanpa belas kasih. Sekarang seperti apa? Masihkah seperti itu? Bila iya, berikan pupuk pada sabar mu lebih banyak, jangan lupa menyiraminya dengan senyum. Niscaya akan ada buah manis yang bisa kau nikmati nantinya.
Tetaplah berada pada jalanmu. Jalan yang ditentukan oleh hati dan pikiranmu. Begitu banyak omongan orang di luar sana tentang mu dan dia, tapi ingat, kau punya dua tangan untuk menutup kedua telinga mu bilamana lelah dengan celotehan mereka.
Aku minta maaf, bila ada nasehat-nasehat ku tempo dulu yang mengharuskan mu untuk menyerah. Untuk mengikhlaskan saja ia pergi dari hidupmu tanpa mau mendengar mu sedikit bercerita tentang usaha yang akan kau lakukan. Kini, aku akan jadi pendengar. Akan jadi pelampiasan segala cerita yang sekiranya tak sanggup lagi hati mu tampung. Curahkanlah, luapkanlah, bahkan bila air mata mu kelak membanjiri baju yang ku kenakan, aku rela.
Berjuanglah. Buktikan bahwa cinta yang kau punya adalah murni dari dalam hati. Bukan sekedar ucapan di bibir yang hilang bila tertelan ludah. Luluhkanlah hatinya, buka mata yang ada di hatinya agar ia yang kau cinta bisa melihat seberapa besar usaha mu untuk menyatukan dirinya dan dirimu.
Sekiranya kau tlah lelah berjuang, beristirahatlah. Sambil beristirahat, sempatkan dirimu untuk singgah di beberapa hati. Siapa tau dari persinggahan mu itu ada lagi tempat yang nyaman untuk dijadikan rumah. Paham maksudnya?
Jangan lupa tersenyum, sembunyikan air mata dalam buliran hujan.
Tunjukan kepada jutaan pasang mata bahwa kau berjuang atas nama cinta.
Perjuangan mu akan dibalas, oleh jodoh yang tlah digariskan.
...sekalipun bukan dia.
Sedikit menghilangkan penat dengan tumpukan akasara yang tersusun rapi dalam suratmu :)
BalasHapusSedikit menghilangkan penat dengan tumpukan akasara yang tersusun rapi dalam suratmu :)
BalasHapus