Untuk Mu.
Yogyakarta, 9 Februari 2015
Terimakasih atas sakit hati yang tlah kau beri. Setidaknya setelah itu aku bisa lebih kuat, menapakan kaki ku untuk melangkah di tiap jalan yang pernah kita lalui, meski kini tak ada kau lagi.
Rasanya masih saja ingin marah tiap teringat kata-kata terakhir yang kau rangkai sedemikian rupa hingga bisa seperti pisau yang menyayat-nyayat hati ku hingga seperti potongan ayam di atas bubur. Rapih. Sempurna. Tapi tak nikmat untuk disantap. Kau yang semula ku puja, kau yang jadikan aku pujangga, lalu dengan satu kata, kau rubah aku menjadi setan, yang siap menghantui mu detik demi detik untuk balaskan sakit hati ku. Tapi tidak, tidak ku lakukan. Semua hanya ku bayangkan dengan air yang menetes dari mata dan mulut yang tak berhenti berdoa. Aku ikhlas. Bila memang kepergian mu adalah hal paling wajib yang harus kau lakukan, maka pergilah. Jangan pernah kembali, bahkan niat mu untuk kembali saja telah ku tutupi dengan gerbang tinggi digembok dengan ratusan kunci.
Bagaimana hidup mu sekarang? Setelah ribuan langkah tlah ku tempuh untuk menjauh dari mu. Tapi aku menjauh tak sendiri, sudah ada seseorang yang siap menggendongku saat aku lelah. Cemburu? Cih. Salah mu menyia-nyiakan aku, yang rela tak tidur, hanya untuk sekedar tahu apa kau sudah di atas kasur mu atau belum.
Apa aku masih kurang baik di mata mu? Apa aku masih belum sempurna? Tangan ku dua, telinga ku dua, kaki dua, meski kadang selalu mengeluh karena lelah mengikuti alur hidup mu yang terlampau cepat. Kau tak pernah ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan ku. Kau ingin waktu berlalu cepat, agar cepat juga kau meninggalkan ku sendiri. Setelah aku sudah teramat sayang.
Tapi itu dulu,
Aku tak pernah marah padamu. Sabar ku pun banyak. Melebihi banyaknya sampah yang mengenangi sungai di Jakarta. Tapi apakah itu tak cukup untuk menahan ku agar tetap ada di sisimu?
Berbahagialah, semoga keputasan mu untuk menghilangkan ku dalam alur cerita hidup mu adalah yang terbaik. Sebab kini aku telah punya cerita yang baru, dengan tokoh baru dan alur yang menjadikan mu sebagai bayang masa lalu.
Membaca suratmu dengan secangkir kopi memang begitu nikmat, tak mampu berhenti :)
BalasHapus